RUZKA INDONESIA — Nurhabli Ridwan, pria yang dikenal luas sebagai seorang Alumni Forest Youthverse Pusgenri Kementerian Kehutanan Tahun 2025, Kader Konservasi Alam militan binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, sekaligus pendiri Kelompok Pencinta Alam Generasi Rimba Alam Semesta (KPA GRAS) ini berhasil mengukuhkan namanya sebagai penerima penghargaan Juara I Kategori Kader Konservasi Alam (KKA) pada ajang bergengsi Apresiasi Wana Lestari Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026.
Penghargaan tahunan Wana Lestari ini bukan sekadar seremoni musiman. Bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan sekaligus penghormatan tertinggi terhadap kontribusi nyata individu maupun kelompok masyarakat yang mendedikasikan hidupnya demi keberlanjutan ekosistem, perlindungan hutan, serta pelibatan aktif masyarakat dalam menjaga kestabilan sumber daya alam hayati.
Melalui proses seleksi dan penilaian yang ketat dari para pakar lingkungan, nama Nurhabli Ridwan secara resmi dikukuhkan dalam Lampiran Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44/454/KPTS/2026 yang ditetapkan pada tanggal 6 Juli 2026.
Keberhasilan ini menempatkan pria yang akrab disapa Bang Bli ini di barisan terdepan para pejuang lingkungan dari seluruh wilayah Sumatera Utara.
Komitmen Pemprov Sumut dalam Penguatan Ekosistem Kehutanan
Penyerahan piagam penghargaan Wana Lestari Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026 ini dilangsungkan dalam satu rangkaian Lokakarya Perhutanan Sosial dan Pemberian Apresiasi Perorangan dan Kelompok Lingkup Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026, yang berkolaborasi dengan Yayasan PETAI.
Acara yang penuh dengan atmosfer optimisme lingkungan tersebut bertempat di Hotel Le Polonia Medan, Jl. Jend. Sudirman No. 14-16, Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan pada 26 Agustus 2026.
Dengan tema Optimalisasi dan Sinergitas Multi Pihak dalam Memperkuat Perhutanan Sosial Untuk Hutan Lestari dan Lingkungan Yang Berkelanjutan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sumatera Utara, Ir. Ardan Noor, MM, menyerahkan secara simbolis sejumlah penghargaan.
Di antaranya plakat pemenang Wana Lestari Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026, sertifikat kelas Kelompok Tani Hutan (KTH), penghargaan PROPER Nasional Gold Tahun 2026, penghargaan Adiwiyata Provinsi Sumatera Utara Tahun 2025, penghargaan pemenang Kalpataru Tingkat Nasional Tahun 2026, serta penghargaan Kampung Iklim (ProKlim) Tahun 2025.
Kehadiran para tokoh pelestari dari berbagai pelosok daerah mempertegas sinergi yang kuat antara otoritas pemerintah dan para penggerak swadaya di akar rumput.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Heri W. Marpaung menyampaikan bahwa penilaian Anugerah Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara dilakukan berjenjang diantaranya proses penilaian Wana Lestari Tingkat Provinsi Sumatera Utara telah berlangsung sejak Maret hingga Juli 2026.
Setiap rekam jejak, portofolio aksi, dan dampak nyata di lapangan diperiksa secara mendetail.
Hasilnya, pada Juli 2026 para peraih Juara I dari masing-masing kategori di tingkat provinsi langsung dikirimkan untuk mewakili Provinsi Sumatera Utara dalam ajang penilaian Wana Lestari Tingkat Nasional.
Langkah ini menegaskan bahwa dedikasi para pejuang lingkungan lokal di Sumatra Utara memiliki standar kualitas kerja yang layak diuji di panggung domestik yang lebih luas.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sumatera Utara, Ir. Ardan Noor, MM, dalam pidato sambutannya menggarisbawahi bahwa pemberian penghargaan ini mengemban misi esensial yang jauh lebih besar dari sekadar trofi atau piagam.
Anugerah Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara dirancang sebagai stimulan jangka panjang untuk terus memotivasi masyarakat luas agar bersedia mengambil peran aktif dalam menjaga bentang hutan yang tersisa, melindungi kekayaan keanekaragaman hayati yang tak ternilai, serta menekan laju kerusakan lingkungan global yang kian mengancam peradaban manusia.
Lebih lanjut, para penerima penghargaan ini dinilai memiliki status strategis sebagai generator perubahan sosial atau agent of change.
Mereka berdiri di tengah masyarakat sebagai teladan yang mengedukasi, merangkul, dan menggerakkan komunitas lokal untuk menumbuhkan kesadaran kolektif tentang krusialnya perlindungan ekosistem yang rapuh serta pemanfaatan potensi alam secara bijak dan berkelanjutan.
Otoritas kehutanan menyadari sepenuhnya bahwa masa depan konservasi tidak bisa diserahkan hanya kepada pundak aparatur pemerintah atau polisi hutan yang jumlahnya sangat terbatas.
Diperlukan kolaborasi multisektoral yang solid antara institusi negara, komunitas pencinta alam, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dunia korporasi, hingga kader konservasi alam untuk menghadapi kompleksitas tantangan ekologis di masa depan.
Peta Juara Wana Lestari Sumatera Utara 2026
Berdasarkan dokumen resmi Lampiran Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44/454/KPTS/2026, penghargaan Wana Lestari tahun ini didistribusikan secara selektif kepada para pihak yang terbukti unggul dalam menjaga kestabilan alam di sub-kategori masing-masing.
Di Kategori Kelompok Tani Hutan (KTH), predikat Juara I dianugerahkan kepada KT Peduli Pesisir yang berlokasi di Desa Beras Basah, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat atas keberhasilan mereka memulihkan ekosistem pesisir.
Posisi Juara II ditempati oleh KTH Fitorajo Bee Farm dari Kelurahan Kotapinang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang sukses mengintegrasikan kelestarian hutan dengan budidaya lebah madu bernilai ekonomi tinggi.
Sedangkan Juara III diraih oleh KTH Uruk Pipa II dari Desa Kutabangun, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo yang berfokus pada konservasi lahan pertanian dataran tinggi.
Untuk Kategori Pemegang Persetujuan Hutan Kemasyarakatan (PPHK), pengakuan tertinggi sebagai Juara I diberikan kepada Kelompok Tani Cinta Mangrove dari Desa Perupuk, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Kabupaten Batubara atas konsistensi mereka melindungi sabuk hijau pantai dari ancaman abrasi parah.
Pada Kategori Polisi Kehutanan yang menilai profesionalisme aparatur sipil negara, Juara diraih oleh Jhon Maruli Purba, seorang Polisi Kehutanan Mahir yang bertugas di Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), dan Hadyan Himdani, Polisi Kehutanan Terampil dari Seksi Wilayah 1 Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) LHK Wilayah Sumatera.
Persaingan sengit juga terlihat pada Kategori Kelompok Pencinta Alam (KPA), di mana Juara I berhasil disabet oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Negeri Medan (Unimed). Tempat Juara II diraih oleh organisasi Khatulistiwa Dairi.
Terakhir, pada Kategori Kader Konservasi Alam (KKA) yang berfokus pada penilaian figur individu penggerak, posisi Juara I mutlak diraih oleh Nurhabli Ridwan, pemuda asal Desa Beringin, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang.
Penetapan tersebut menunjukkan bahwa penghargaan Wana Lestari diberikan kepada berbagai unsur yang memiliki peran dalam upaya pelestarian hutan dan lingkungan, mulai dari kelompok masyarakat, kelompok tani hutan, aparat kehutanan, komunitas pecinta alam, hingga kader konservasi.
Akar Kecintaan Nurhabli Ridwan pada Konservasi Lingkungan
Perjalanan panjang Nurhabli Ridwan di dunia pelestarian alam bukanlah sebuah kebetulan yang terjadi dalam semalam. Pria ramah yang di kalangan aktivis akrab disapa Bang Bli ini lahir di Desa Beringin, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada 3 Februari 1995.
Dibesarkan dalam kesederhanaan, Nurhabli merupakan putra sulung dari pasangan bapak Nurlian dan ibu Riyanti.
Sebagai anak tertua, ia tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang besar, menjadi panutan bagi ketiga adik perempuannya, yaitu Nuri Hidayatika, Puteri Zeli Salsabila, dan Suraya Nabilla Ishmah.
Lingkungan keluarga yang menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial membentuk karakter Nurhabli menjadi pribadi yang tangguh dan peka terhadap semua kalangan.
Pendidikan formalnya ditempuh secara berjenjang di tanah kelahirannya, dimulai dari TK Raudhatul Athfal Al-Islamiyah Karang Anyar, berlanjut ke SD Negeri 101922 Beringin, dan menyelesaikan pendidikan tingkat pertama di SMP Swasta Jaya Krama Beringin.
Ketertarikannya pada dunia teknik membawanya memilih SMK Negeri 1 Lubuk Pakam dengan mengambil spesialisasi pada Jurusan Teknik Konstruksi Kayu.
Benih kepedulian terhadap isu-isu lingkungan hidup dan aksi kemanusiaan mulai bersemi saat ia menginjak usia remaja.
Di bangku sekolah, ia aktif menceburkan diri dalam berbagai organisasi kepemudaan seperti OSIS, Gerakan Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR) dan organisasi pencinta alam.
Kiprah pengabdian perdananya tercatat pada tahun 2009. Kala itu, lewat kegiatan kepanduan Pramuka sekolah yang diselenggarakan bekerja sama dengan Kodim 0204/Deli Serdang, Nurhabli terlibat langsung dalam aneka aksi sosial kemasyarakatan, penanaman bibit pohon, hingga kampanye bersih lingkungan.
Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2010, fase pencarian jatidiri Nurhabli semakin mengkristal di jalur alam bebas. Ia memutuskan untuk mengikuti Pendidikan Dasar Calon Anggota Kumpulan Remaja Pencinta Alam (KuRPA) Kabupaten Deli Serdang.
Pengalaman lapangan ini membuka matanya tentang keindahan sekaligus kerentanan alam Sumatera Utara.
Di tahun yang sama, ia mengikuti Kemah Kerja Rehabilitasi Lahan yang diselenggarakan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan di Tongkoh, Kabupaten Karo.
Tak hanya itu, kapasitas sosialnya kian terasah saat ia dipercaya menjadi bagian dari kontingen Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Deli Serdang dalam kegiatan Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) Daerah Sumatera Utara.
Rentetan pengalaman intensif di usia muda ini menjadi jangkar spiritual yang mengukuhkan tekadnya untuk mewakafkan sebagian besar sisa hidupnya pada pelestarian alam dan aksi kemanusiaan.
Memasuki tahun 2012, kesadaran Nurhabli akan pentingnya regenerasi lingkungan mendorongnya untuk mendirikan organisasi kesiswaan bernama Generasi Siswa Siswi Pelestari Alam (GaSSPAla) di lingkungan sekolahnya, SMK Negeri 1 Lubuk Pakam.
Kala itu wadah ini berhasil menjaring minat para pelajar untuk mulai peduli pada isu-isu konservasi tingkat sekolah.
Haus akan ilmu alam yang lebih mendalam, pada tahun 2013 ia melangkah ke tingkat organisasi yang lebih tinggi dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar hingga resmi dilantik menjadi anggota muda Generasi Pencinta Kelestarian Alam Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (Genetika FP UISU) Angkatan XXIII, sebuah kawah candradimuka yang semakin mematangkan kemampuan teknis ekologisnya.
Lahirnya GRAS dan Era Baru Gerakan Konservasi Pemuda
Titik kulminasi dari gelora semangat kepemudaan Nurhabli terjadi pada tahun 2018. Menyadari perlunya sebuah institusi yang bergerak lebih lincah, independen, dan mencakup spektrum yang lebih luas, Nurhabli bersama tiga pemuda progresif asal Deli Serdang bersepakat mendirikan sebuah wadah perjuangan baru.
Organisasi tersebut dinamakan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta, yang kini akrab dikenal publik dengan akronim GRAS.
Perhimpunan ini sengaja didesain untuk bergerak secara simultan di empat pilar utama: penjelajah alam, konservasi, kebencanaan, dan aksi sosial kemanusiaan.
Sejak hari pertama bendera GRAS dikibarkan, seluruh anggota secara aklamasi memercayakan tongkat kepemimpinan sebagai Ketua Umum kepada Nurhabli Ridwan.
Di bawah nakhoda Bang Bli, GRAS menjelma menjadi salah satu organisasi kepemudaan yang paling aktif dan diperhitungkan di Sumatera Utara.
GRAS telah mengikuti Gladian Nasional Pencinta Alam Se-Indonesia XIV di Sumatera Barat, mengikuti Pelatihan Navigator Se Sumatera di Riau dan aktif menyelenggarakan penanaman pohon, edukasi konservasi, donor darah, aksi tanggap bencana, kampanye perubahan iklim, hingga pemberdayaan generasi muda.
Eksistensi GRAS kian kokoh di mata publik ketika pada tahun 2019 berhasil membangun kemitraan strategis di bidang kemanusiaan dengan lembaga filantropi skala nasional, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Nurul Hayat Cabang Medan.
Berbagai kegiatan dilakukan bersama, di antaranya penanaman pohon, aksi tanggap bencana banjir bandang di Labuhanbatu Utara, respons pandemi COVID-19, serta berbagai kegiatan sosial lainnya.
Dedikasi Tanpa Batas di Garis Depan Konservasi dan Kemanusiaan
Sebagai seorang pemimpin pergerakan, Nurhabli Ridwan sangat memercayai prinsip bahwa niat baik harus ditunjang oleh kompetensi yang mumpuni.
Demi meningkatkan kapasitas intelektual dan keterampilan teknisnya di lapangan, ia tidak pernah berhenti belajar melalui jalur pendidikan nonformal.
Portofolio pelatihannya sangat impresif, mencakup kelulusan dari Sekolah Panjat Tebing Merah Putih, Sekolah Vertical Rescue Indonesia yang melatih teknik evakuasi di medan ekstrem, Gladian Nasional Pencinta Alam se-Indonesia, Pendidikan Navigator se-Sumatera, hingga Training of Trainer (ToT) Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih (Pepelingasih) Indonesia di bawah naungan Kemenpora.
Belum puas sampai di situ, ia juga menyelesaikan Pendidikan Dasar Korp Sukarela (KSR) PMI Kota Medan, terpilih mengikuti program pendidikan Green Leadership Indonesia (GLI) Batch 1 yang diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia di dukung oleh KLHK RI, hingga puncaknya pada tahun 2025 sukses menyelesaikan program Forest Youthverse yang di inisiasi oleh Pusgenri Kementerian Kehutanan serta Conservation Leadership Training Bacth VIII yang di inisiasi oleh OIC.
Semua bekal keilmuan teoritis ini tidak ia biarkan mengendap di atas kertas, melainkan langsung diwujudkan melalui berbagai aksi nyata.
Rekam jejak kemanusiaan Nurhabli tercatat sangat panjang dan berisiko tinggi. Ia tercatat pernah terjun langsung sebagai relawan garis depan saat erupsi Gunung Sinabung, Ia juga menjadi bagian penting dari Tim Evakuasi korban banjir bandang di kawasan wisata Air Terjun Dua Warna Sibolangit yang memakan banyak korban jiwa.
Ia juga menjadi Tim Evakuasi Banjir Kota Padang, Tim Evakuasi Banjir Kota Medan, Satgas COVID-19 Sumatera Utara.
Jiwa volunterismenya kian teruji saat ia mendedikasikan energinya menjadi Relawan sukses penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI AcehโSumatera Utara, serta relawan kemanusiaan pada bencana hidrometeorologi di Aceh.
Selain itu, ia aktif mengedukasi masyarakat mengenai konservasi lingkungan hidup, melaksanakan penanaman pohon di kawasan rawan longsor, menginisiasi kegiatan Camp Edukasi Biodiversity and Cleanup Movement, menjadi instruktur pendidikan dasar pencinta alam, koordinator daerah Green Youth Movement Angkatan 2 Provinsi Sumatera Utara, serta Fasilitator Daerah YOU RINGS Sumatera Utara.
Pengakuan dan Berbagai Prestasi
Dedikasinya di bidang konservasi mendapatkan pengakuan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, yang menetapkannya sebagai Kader Konservasi Alam binaan sejak 2020.
Sejumlah penghargaan juga pernah diraih Nurhabli, antara lain Juara III Duta Konservasi Alam BBKSDA Sumatera Utara tahun 2019, Wisudawan Terbaik Green Leadership Indonesia Batch 1 tahun 2021, masuk 100 Besar Nasional Forest Youthverse 2025, serta menjadi PIC kelompok penerima manfaat pendanaan FOLU Net Sink 2030 melalui BPDLH,
Pada tahun 2012, Nurhabli mewakili Sumatera Utara pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat Nasional Bidang Joinery. Ia juga menerima penghargaan donor darah 10 kali dari UTD PMI Kota Medan pada 2025.
Pada 2026, perjalanan panjang tersebut kembali memperoleh pengakuan melalui Penghargaan Juara 1 Wana Lestari Tingkat Provinsi Sumatera Utara kategori Kader Konservasi Alam dan mewakili Sumatera Utara pada penilaian Wana Lestari tingkat Nasional.
Penghargaan Bukan Tujuan Akhir
Di luar aktivitas lapangan, Nurhabli juga aktif menulis artikel dan opini mengenai lingkungan, konservasi, perubahan iklim, serta isu sosial kemanusiaan yang dipublikasikan di berbagai media lokal maupun nasional.
Baginya, tulisan merupakan sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mengajak lebih banyak orang berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam.
Nurhabli mengungkapkan penghargaan Wana Lestari bukan semata-mata pencapaian pribadi, tetapi apresiasi terhadap kerja kolektif para pegiat lingkungan, komunitas pencinta alam, relawan, dan generasi muda yang selama ini bergerak menjaga alam.
โPenghargaan ini bukan akhir dari perjuangan. Justru menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam menjaga alam. Saya mempersembahkan penghargaan ini untuk GRAS, Genetika FP UISU, seluruh pegiat lingkungan, komunitas pencinta alam, generasi muda, dan masyarakat yang terus berjuang menjaga alam,โ ujar Nurhabli.
Ia menilai tantangan lingkungan saat ini semakin kompleks, mulai dari kerusakan hutan, hilangnya habitat satwa, pencemaran lingkungan, perubahan iklim, hingga berbagai persoalan ekologis lainnya.
โKonservasi bukan hanya tentang menjaga hutan. Konservasi adalah bagaimana kita menjaga ekosistem, melindungi keanekaragaman hayati, membangun kesadaran masyarakat, dan memastikan generasi mendatang masih memiliki ruang hidup yang layak,โ katanya.
Penghargaan Wana Lestari 2026 pun menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang anak muda yang memilih jalan pengabdian melalui konservasi, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Nurhabli berharap penghargaan tersebut dapat menjadi energi baru untuk memperkuat gerakan konservasi, khususnya di kalangan generasi muda.
โPenghargaan ini bukan garis akhir. Ini adalah pengingat bahwa masih banyak yang harus kita lakukan untuk alam. Selama alam masih membutuhkan kita, perjuangan konservasi harus terus berjalan,โ pungkas Nurhabli. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


