Dokumen sejarah berdasarkan catatan dan kesaksian perjalanan Yogi Kurniawan
RUZKA INDONESIA — Sebuah perjalanan dalam sepak bola tidak selalu dimulai dari ruang rapat, kantor manajemen, atau kepemilikan sebuah klub.
Banyak perjalanan besar justru dimulai dari tempat yang paling sederhana: tribun stadion.
Bagi Yogi Kurniawan, perjalanan panjangnya bersama sepak bola Depok dimulai sebagai seorang suporter.
Dari berdiri bersama kawan-kawan di tengah perkembangan awal kelompok pendukung
Persikad, perjalanan itu kemudian membawanya menjadi bagian dari organisasi suporter,
pengurus, koordinator wilayah, manajemen klub, penggerak kelompok ultras, hingga akhirnya
dipercaya memimpin klub sebagai CEO.
Perjalanan tersebut bukan sekadar perubahan jabatan. Ini adalah cerita tentang seseorang yang
tumbuh bersama klub dan sepak bola kotanyaโdari dukungan di tribun menjadi perjuangan untuk
mempertahankan identitas Persikad.

Awal Mula: DFC dan Vockers
Pada awal tahun 2000-an, kultur suporter Persikad mulai tumbuh melalui kelompok-kelompok anak muda Depok.
Salah satu kelompok awal tersebut dikenal sebagai DFC atau Depok Fans Club, yang
juga dikenal dengan nama Vockers.
Dalam lingkaran awal kelompok tersebut terdapat almarhum Bang Agustian, yang pernah menjadi
Ketua KNPI Kota Depok, bersama Abong atau Amir Paksi, Rodek, Dery, Sigih, Bung Lilik Budiono,
Bung Sigit, almarhum Oji, dan Yogi Kurniawan.
Pada masa itu Persikad masih bermain di Divisi II. Stadion Merpati belum memenuhi standar
kompetisi sehingga pada masa Wali Kota Badrul Kamal, Persikad menggunakan Stadion Pajajaran
sebagai homebase sementara sambil menunggu pembenahan Stadion Merpati.
Persikad kemudian melakukan perekrutan pemain, termasuk Nana Priatna, Maiyadi Rakasiwi,
Guntur, Bang Lestaluhu, dan Abdul Manan.
Perubahan kekuatan tim membawa Persikad naik ke Divisi I dan sekaligus mendorong semakin tumbuhnya dukungan masyarakat Depok.
Lahirnya Depok Mania
Pada tahun 2002 muncul kelompok suporter lain bernama DMC yang diketuai oleh Adi Mahmudi.
Keberadaan DFC/Vockers dan DMC sempat diwarnai konflik dan bentrokan. Namun pada tahun 2003, kedua kelompok akhirnya mengambil keputusan untuk bersatu.
Dari penyatuan tersebut lahirlah Depok Mania. Adi Mahmudi dipercaya sebagai Ketua, Yadi sebagai
Sekretaris, dan Yogi Kurniawan sebagai Bendahara.
Depok Mania kemudian berkembang semakin besar. Muncul pula Demanita atau Depok Mania
Wanita dengan nama-nama seperti Mbak Ayu dan Oneng.
Jaringan Korwil juga terbentuk di berbagai wilayah Kota Depok.
Temon dikenal sebagai Korwil Depok I, Abong sebagai Korwil Depok Timur, Yogi Kurniawan
sebagai Korwil Simpangan, Bang Yadi sebagai Korwil Sawangan, Bang Adi Pante sebagai Korwil CipayungโSukmajaya, dan Botel sebagai Korwil Beji.
Wilayah Simpangan di bawah koordinasi Yogi mencakup BBM, Tole Iskandar, Jatijajar, Cimanggis, Tapos, dan Cilodong.
Wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi sejumlah subkorwil.
Sementara Botel, yang sebelumnya menjadi Korwil Beji, pada tahun 2009 kemudian bergabung
dengan Super Depok.
Masa Besar Persikad dan Depok Mania
Tahun 2006 menjadi salah satu periode yang paling dikenang oleh pendukung Persikad.
Ketika Persikad dilatih oleh Isman Jasulmei, atmosfer sepak bola Depok semakin hidup dan Depok Mania berkembang semakin besar.
Persikad diperkuat sejumlah pemain berkualitas, sementara salah satu kebanggaan masyarakat
Depok adalah keberhasilan putra daerah M. Robby masuk ke Tim Nasional Indonesia.
Namun setelah masa tersebut, persoalan finansial mulai menghantui Persikad.
Tahun 2009 menjadi salah satu periode terberat ketika klub sempat hijrah ke Cirebon.
Dalam situasi tersebut, Yogi mendampingi Bang Hasbullah Rahmat yang saat itu mendapatkan harapan dukungan dari pengusaha alat berat Edy Junardi.

Masuk ke Manajemen dan Lahirnya Ultras Depok
Tahun 2011 menjadi titik penting dalam perjalanan Yogi Kurniawan. Ketika sepak bola Indonesia
mengalami perpecahan antara ISL dan IPL, Persikad juga terbagi.
Satu Persikad mengikuti jalur ISL di bawah komando Bapak Yuyun WS. Sementara Persikad
lainnya mengikuti Indonesian Premier League atau IPL, dengan Imran sebagai Manager dan Yogi
Kurniawan sebagai Asisten Manager.
Inilah awal keterlibatan Yogi secara langsung dalam manajemen klub. Pada periode tersebut, Yogi bersama Temon membangun kelompok Ultras Depok.
Pada tahun 2015 Persikad kembali mengalami krisis finansial dan kemudian dibawa ke Purwakarta dengan identitas Persikad Purwakarta.
Ketika Persikad kembali ke Depok pada 2016, Ultras Depok berubah menjadi Ultras Persikad dan dikelola oleh Bapak Nugi, Ade Firmansyah, serta
kawan-kawan.
Namun perbedaan visi kemudian membuat Yogi bersama Eko Mbot keluar dari Ultras Persikad.
Keputusan itu membuka jalan bagi lahirnya sebuah kelompok baru.
Persikad Fans Curva Sud dan Perjuangan Mempertahankan Identitas
Yogi Kurniawan bersama Eko Mbot dan kawan-kawan kemudian membangun Persikad Fans Curva Sud atau PFCS.
Pada tahun 2017, ketika Stadion Merpati sedang direnovasi, Persikad menggunakan Cilegon
sebagai homebase.
Situasi kemudian berkembang hingga identitas Persikad berubah menjadi Bogor FC.
Bagi Yogi dan kawan-kawan PFCS, Persikad bukan sekadar nama klub. Persikad merupakan
bagian dari sejarah dan identitas sepak bola Kota Depok.
Karena itu, PFCS melakukan aksi protes. Mereka melakukan corteo dari Pertigaan Ramanda
menuju Kantor Wali Kota Depok untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kondisi yang terjadi.
Dari aksi tersebut, perjuangan kemudian berkembang. Tidak hanya menuntut dan memprotes, muncul keinginan untuk mencari jalan agar Persikad kembali memiliki masa depan.

Membangun Kembali Jalan Persikad
Pada tahun 2018, Yogi Kurniawan mengakuisisi lisensi Gelatik FC yang saat itu bermarkas di
Purwakarta.
Akuisisi tersebut bukan dilakukan sebagai bentuk balas dendam terhadap masyarakat Purwakarta, melainkan sebagai peluang untuk membuka jalan agar Depok kembali memiliki klub yang dapat mengikuti kompetisi resmi.
Dalam proses tersebut, Yogi mendapatkan bantuan dari Kang Yudi dan Pak Aan. Yana juga
memiliki peran yang sangat penting dalam mendampingi perjalanan proses akuisisi tersebut.
Yana menemani berbagai perjalanan dari Depok, Purwakarta, hingga Bandung. Perannya terus
berlanjut dalam aktivitas klub dan mes pemain Persikad 1999.
Sebagai salah satu sekretaris klub, Yana menjadi bagian penting dalam urusan administrasi, perjalanan, dan kegiatan operasional
hingga tahun 2020.
Pada tahun 2018, Coach Bachtiar menjadi pelatih Persikad. Namun karena adanya perbedaan visi
dengan Yogi dan kawan-kawan manajemen, sebelum kompetisi Liga 3 Jawa Barat 2019 dimulai
dilakukan perubahan kepelatihan.
Persikad kemudian merekrut almarhum Coach Slamet dan Coach Mochtar Dource.
Lima Orang yang Bertahan dalam Perjuangan
Dari delapan orang yang berada dalam lingkaran awal perjuangan membangun kembali Persikad,
menurut kesaksian Yogi Kurniawan, terdapat lima orang yang benar-benar bertahan dan berjuang
hingga klub berdiri.
Mereka adalah Yogi Kurniawan sebagai penggerak atau motor perjuangan, Eko Mbot, Uban, Indra Comot, dan Hendri Black.
Dalam analogi kultur suporter Italia, peran Yogi sebagai penggerak dapat disamakan dengan figur
Capo.
Namun perjuangan membangun kembali Persikad tetap merupakan hasil kerja dan pengorbanan bersama.
Liga 3 Jawa Barat 2019 dan Kembalinya Persikad
Memasuki tahun 2019, perjuangan Persikad memasuki tahap yang lebih besar. Melalui Bapak
Sogong, Persikad mendapatkan jalan untuk mengikuti kompetisi Liga 3 Jawa Barat.
Perjuangan agar Persikad dapat menjadi tuan rumah juga melibatkan peran Wawan Gaul dan Pak Yudi PGRI.
Dukungan dan kerja berbagai pihak menjadi bagian penting dalam upaya membawa
Persikad kembali ke kompetisi.
Kembalinya Persikad sebagai peserta dan tuan rumah Liga 3 Jawa Barat memiliki arti besar bagi
masyarakat dan suporter Depok.
Persikad kembali memiliki ruang untuk bermain dan kembali hadir di hadapan masyarakatnya sendiri.

Dari Suporter Menjadi CEO Klub
Pada fase awal pembangunan kembali Persikad, Yogi Kurniawan merupakan pemilik saham
terbesar dan kemudian dipercaya menjadi CEO klub.
Perjalanan ini menjadi perubahan besar. Seorang yang memulai perjalanan dari dunia suporter kini
berada dalam posisi memimpin klub yang selama bertahun-tahun diperjuangkannya.
Namun perjalanan tersebut tidak dibangun seorang diri. Banyak orang terlibat dalam proses
membangun kembali Persikad, baik yang berada di depan maupun bekerja di balik layar.
Orang-Orang di Balik Layar
Pada periode 2018 hingga 2020, kerja media dan komunikasi menjadi bagian penting dalam
membangun kembali identitas Persikad 1999.
Anhar menjalankan peran sebagai Media Officer Persikad 1999. Dalam perjalanan tersebut, ia
bersama Zaeni Muchtar, Danil, dan Pepeng menjadi bagian dari kerja media, komunikasi, dan
dokumentasi klub.
Mereka membantu menyampaikan informasi dan mendokumentasikan perjalanan Persikad 1999
pada masa awal kebangkitannya.
Sementara Yana terus menjalankan peran penting dalam kesekretariatan dan operasional klub.
Kehadirannya sejak proses akuisisi hingga berbagai aktivitas perjalanan dan mes pemain
menjadikan perannya sebagai salah satu bagian vital dalam perjalanan Persikad 1999 sampai
tahun 2020.
Estafet Kepemimpinan Tahun 2020
Pada tahun 2020, Yogi Kurniawan mengambil keputusan untuk menyerahkan jabatan CEO kepada Handiyana Sihombing.
Keputusan tersebut bukan merupakan jual beli klub. Tidak ada proses penjualan Persikad. Yang
dilakukan adalah sebuah estafet kepemimpinan.
Yogi menilai Handiyana layak untuk meneruskan perjuangan. Selain itu, Yogi menyadari
keterbatasan finansial secara pribadi dalam mengelola sebuah klub sepak bola.
Dalam perjalanan berikutnya, Handiyana tidak bekerja sendiri. Mas Cahyo menjadi salah satu orang yang membantu Handiyana dalam mengurus perjalanan dan kegiatan klub.
Penutup
Perjalanan Yogi Kurniawan adalah perjalanan panjang seorang suporter yang tumbuh bersama
sepak bola Depok.
Dari DFC dan Vockers, perjalanan berlanjut ke Depok Mania. Dari Bendahara organisasi menjadi
Korwil Simpangan.
Dari dunia suporter masuk ke manajemen Persikad IPL. Dari Ultras Depok, Ultras Persikad, hingga kemudian ikut membangun Persikad Fans Curva Sud.
Ketika Persikad kehilangan identitasnya, perjuangan tidak berhenti di tribun.
Perjuangan berkembang menjadi aksi, pengorganisasian, pencarian jalan baru, proses akuisisi, pembangunan tim, hingga membawa Persikad kembali ke kompetisi.
Perjalanan tersebut akhirnya membawa Yogi dari seorang suporter menjadi CEO klub.
Namun sejarah Persikad 1999 tidak pernah menjadi cerita tentang satu orang saja.
Sejarah itu dibangun oleh banyak orang: para suporter, penggerak, pengurus, manajemen, sekretaris, tim media, pelatih, pemain, dan semua pihak yang ikut menjaga agar nama Persikad tetap hidup.
Dari tribun menuju manajemen. Dari dukungan menjadi perjuangan. Dari seorang suporter menjadi CEO klub.
Untuk Depok. Untuk Persikad.
(***)
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar
Terima kasih atas beritanya
Keren abangku, sukses selalu
Kelas ini, diakui bukan mengakui wkwk
Keren Yogi