RUZKA INDONESIA — Malam itu, angin sepoi-sepoi khas Yogyakarta menemani sebuah diskusi penting di lingkungan Kadipaten Pakualaman.
Pada Jumat malam, 26 Juni 2026, kelompok musik etnik dan musikalisasi puisi Swara SeadaNya asal Kota Depok menggelar acara Focus Group Discussion/FGD bersama filolog terkemuka Dr. Sri Ratna Sakti Mulya dan seniman sekaligus akademisi UGM, Paksi Raras Alit.
Pertemuan intim di sudut istana yang penuh sejarah ini menjadi babak baru bagi Swara SeadaNya dalam menghidupkan kembali roh naskah kuno Nusantara ke atas panggung modern.
Suasana di sekitar Pura Pakualaman terasa magis malam itu. Setelah seharian mengikuti prosesi adat Kirab Labuhan Pakualaman di Pantai Glagah, pada pagi 26 Juni 2026, para seniman yang tergabung dalam komunitas Swara SeadaNya tidak lantas beristirahat.
Mereka justru berkumpul, duduk melingkar, siap menyelami masa lalu membahas naskah kuno Kakawin Sutasoma.
FGD malam itu bukan sekadar diskusi biasa. Acara ini merupakan bagian dari riset mendalam mereka untuk membedah karya sastra besar Jawa Kuno, Kakawin Sutasoma.
Sutasoma adalah naskah legendaris yang melahirkan semboyan pemersatu bangsa kita: Bhinneka Tunggal Ika. Hadir di tengah-tengah mereka, Dr. Sri Ratna Sakti Mulya, seorang pakar naskah kuno (filolog) sekaligus abdi dalem yang memimpin Perpustakaan Kadipaten Pakualaman.
Dengan penuh ketelitian, beliau memandu para musisi untuk memahami makna mendalam di balik aksara-aksara tua. Tidak sendirian, seniman musik Yogyakarta, Paksi Raras Alit, turut membagikan pandangannya.
Lingkungan Tradisi
Sebagai musisi yang besar di lingkungan tradisi sekaligus akademisi UGM, Paksi memberikan masukan berharga tentang bagaimana bunyi-bunyian etnik bisa mengantar pesan suci Sutasoma agar terdengar indah di telinga generasi muda saat ini.
“Riset ini sangat penting agar pesan asli dari naskah tidak hilang saat diubah menjadi lagu,” ujar Dr. Turita Indah Setyani, pakar kebudayaan Jawa dari Universitas Indonesia yang mendampingi Swara SeadaNya.
Swara SeadaNya, yang dimotori oleh seniman-seniman berbakat dari Komoenitas Makara seperti Asep Rachman Muchlas, Gunawan Wicaksono, Theressa Rida, Indonesiana Ayuningtyas, Abrar Husin, Ayie Suminar, dan Dr. Ari Prasetiyo , memiliki misi besar. Mereka sedang menyiapkan sebuah pertunjukan pada September 2026 mendatang.
Hasil riset dari Pakualaman ini akan diubah (dialihwahanakan) menjadi bentuk Alunan musik etnik baru, Musikalisasi puisi yang menyentuh hati, dan Gerakan tari tradisional yang indah.
Malam semakin larut di Kadipaten Pakualaman. Namun, semangat di dalam ruangan itu justru semakin hangat.
Dukungan penuh dari pihak istana, terutama dari Gusti Putri (G.K.B.R.A.A. Paku Alam), membuat langkah Swara SeadaNya semakin mantap.
Melalui diskusi malam itu, Swara SeadaNya membuktikan bahwa merawat tradisi tidak selalu lewat cara yang kaku. Lewat musik, mereka sedang menjembatani masa lalu dan masa depan Indonesia. (***)
Sumber: Humas Swara SeadaNya
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com






Komentar