Nasional
Beranda » Berita » Di Balik Santunan Rp42 Juta: Kisah Aday, Petani Sederhana yang Tinggalkan Perlindungan untuk Keluarganya

Di Balik Santunan Rp42 Juta: Kisah Aday, Petani Sederhana yang Tinggalkan Perlindungan untuk Keluarganya

Penyerahan santunan Jaminan Kematian (JKM) sebesar Rp42 juta kepada ahli waris almarhumah Aday di Desa Sukakerta, Bekasi. Santunan ini menjadi bukti nyata perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja informal dan keluarga yang ditinggalkan. (Foto: Dokumentasi Lanin Alawin)

RUZKA INDONESIA — Pagi itu, suasana di Kantor Desa Sukakerta, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat terasa berbeda. Tidak seperti biasanya yang dipenuhi urusan administrasi warga, hari itu ruangan diselimuti sedikit nuansa haru. Sejumlah perangkat desa, perwakilan BPJS Ketenagakerjaan, hingga beberapa tokoh masyarakat sekitar hadir menyaksikan sebuah momen yang sederhana namun penuh makna: penyerahan santunan Jaminan Kematian (JKM) kepada keluarga almarhumah Aday.

Di tengah ruangan, Samin (56) duduk dengan wajah tenang, meski jelas masih menyimpan kesedihan mendalam. Ia baru saja kehilangan sosok yang selama ini menjadi pendamping hidupnya—Aday, seorang perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petani sekaligus ibu rumah tangga.

Namun di balik duka itu, ada satu hal yang sedikit meringankan langkahnya ke depan. Hari itu, ia menerima santunan sebesar Rp42 juta dari BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bekasi Cikarang—hak yang diperoleh dari kepesertaan almarhumah sebagai pekerja sektor Bukan Penerima Upah (BPU).

Perempuan Sederhana dengan Peran Besar

Aday bukanlah sosok yang dikenal luas. Namun seperti jutaan perempuan Indonesia lainnya, ia memegang peran penting dalam keluarganya.

Satpol PP Depok Gerebek Penjual Miras, Sita 1.972 Botol

Setiap hari, ia membantu suami mengolah lahan pertanian, memastikan hasil panen cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sela-sela aktivitas itu, ia juga menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga—mengurus rumah, memasak, dan menjaga keharmonisan keluarga.

“Almarhumah itu orangnya pekerja keras. Tidak pernah diam,” kenang salah satu warga yang mengenalnya.

Sebagai petani, penghasilan Aday dan suami tentu tidak menentu, bergantung pada musim, hasil panen, dan kondisi pasar. Namun satu hal yang tidak pernah ia abaikan adalah keinginannya memberikan rasa aman bagi keluarganya.

Keputusan untuk mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan menjadi salah satu langkah penting yang diambilnya. Sebuah keputusan yang mungkin terlihat kecil saat itu, tetapi kini terasa sangat besar manfaatnya.

Perlindungan untuk Semua, Termasuk Pekerja Informal

UU PPRT Perjelas Hak dan Kewajiban PRT dan Pemberi Kerja

Aday merupakan peserta BPJS Ketenagakerjaan dari sektor Bukan Penerima Upah (BPU). Artinya, ia bukan pekerja formal dengan gaji tetap, melainkan pekerja mandiri yang secara sadar mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan perlindungan sosial.

Lanin Alawin, Ketua Wadah Perisai Lavandafood MDH Bekasi Cikarang. (Foto: Dokumentasi Lanin Alawin)

Kepesertaannya juga tidak lepas dari peran Wadah Perisai Lavandafood MDH Bekasi Cikarang, yang aktif mengedukasi masyarakat melalui Agen Perisainya tentang pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan.

Melalui pendekatan langsung ke masyarakat, Agen Perisai Lavandafood MDH membantu menjangkau kelompok pekerja informal—mulai dari petani, pedagang kecil, hingga pekerja lepas—yang selama ini kerap luput dari perlindungan.

Dan Aday adalah salah satu dari mereka yang berhasil dijangkau.

Hari Penyerahan yang Penuh Makna

Survei LY Corp: Gempa Jadi Kekhawatiran Utama di Jepang dan Taiwan, Banjir di Thailand

Santunan JKM tersebut diserahkan langsung oleh Ridwan, Kepala Bidang Kepesertaan Program Khusus BPJS Ketenagakerjaan Bekasi Cikarang. Acara berlangsung sederhana, namun sarat makna.

Turut hadir dalam kesempatan itu Kepala Desa Sukakerta, Disan, yang menyaksikan langsung penyerahan santunan kepada warganya.

Ridwan dalam sambutannya menyampaikan bahwa santunan ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara melalui BPJS Ketenagakerjaan.

“Kami turut berduka cita atas meninggalnya almarhumah Aday. Santunan ini adalah hak peserta yang telah terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan sejak 1,5 tahun lalu. Ini adalah bentuk perlindungan bagi keluarga yang ditinggalkan, agar tetap bisa melanjutkan kehidupan dengan lebih tenang,” ujar Ridwan kepada RUZKA INDONESIA, Kamis (2/4/2026) usai penyerahan santunan.

Ridwan, Kepala Bidang Kepesertaan Program Khusus BPJS Ketenagakerjaan Bekasi Cikarang. (Foto: Lanin Alawin)

Ia juga menegaskan bahwa program ini terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat, tidak terbatas pada pekerja formal saja.

“Kami ingin menyampaikan bahwa siapa pun pekerjaannya—baik petani, pedagang, maupun pekerja mandiri lainnya—memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan,” tambahnya.

Peran Wadah Perisai: Menjangkau yang Tak Terjangkau

Di balik kepesertaan Aday, ada peran penting dari Wadah Perisai Lavandafood MDH Bekasi Cikarang. Organisasi ini menjadi jembatan antara BPJS Ketenagakerjaan dengan masyarakat, khususnya mereka yang berada di sektor informal.

Ketua Wadah Perisai, Lanin Alawin, mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya perlindungan jaminan sosial.

“Kami terus berupaya mengedukasi masyarakat, terutama pekerja informal, agar mereka menyadari pentingnya memiliki perlindungan. Banyak yang merasa belum perlu, padahal risiko bisa datang kapan saja,” jelas Lanin.

Menurutnya, almarhumah Aday menjadi contoh nyata bagaimana program ini benar-benar memberikan manfaat.

“Apa yang diterima oleh keluarga almarhumah hari ini adalah bukti nyata. Ini bukan sekadar program, tetapi perlindungan yang benar-benar dirasakan ketika risiko itu datang,” lanjut Lanin.

Di Tengah Kehilangan, Hadir Sebuah Harapan

Bagi Samin, santunan Rp42 juta ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada rasa haru atas kehilangan seorang istri. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa keputusan istrinya untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan akan memberikan dampak sebesar ini.

Dengan suara yang tertahan, ia menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada BPJS Ketenagakerjaan dan semua pihak yang telah membantu. Santunan ini sangat berarti bagi kami, terutama setelah kepergian istri saya,” ucapnya.

Santunan tersebut rencananya akan digunakan untuk menunjang keberlangsungan hidup keluarga ke depan.

Di tengah kondisi yang tidak mudah, bantuan ini menjadi semacam penyangga—memberikan ruang bagi keluarga untuk beradaptasi dengan kehilangan tanpa harus langsung terbebani masalah ekonomi.

Pelajaran dari Sebuah Kehidupan Sederhana

Kisah Aday mungkin sederhana, tetapi menyimpan pelajaran penting bagi banyak orang. Bahwa perlindungan sosial bukan hanya untuk mereka yang bekerja di kantor atau memiliki penghasilan tetap.

Justru bagi pekerja informal yang penghasilannya tidak menentu, perlindungan seperti ini menjadi semakin penting.

Risiko kehidupan tidak pernah bisa diprediksi. Kecelakaan, sakit, hingga kematian bisa datang kapan saja. Tanpa perlindungan, keluarga yang ditinggalkan bisa menghadapi beban yang jauh lebih berat.

Namun dengan adanya jaminan sosial, setidaknya ada sedikit kepastian di tengah ketidakpastian.

Harapan ke Depan

Melalui momen ini, BPJS Ketenagakerjaan berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya menjadi peserta.

Upaya sosialisasi akan terus dilakukan, termasuk melalui kolaborasi dengan Wadah Perisai dan pemerintah desa.

Kepala Desa Sukakerta, Disan, juga menyampaikan dukungannya terhadap program ini. Ia berharap warganya semakin sadar akan pentingnya perlindungan sosial.

“Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Saya berharap ke depan semakin banyak warga yang mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya singkat.

Lebih dari Sekadar Santunan

Apa yang terjadi di Kantor Desa Sukakerta hari itu bukan sekadar seremoni penyerahan santunan. Ia adalah potret nyata bagaimana sebuah program dapat menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.

Di balik angka Rp42 juta, ada cerita tentang seorang perempuan yang dengan kesederhanaannya telah mengambil langkah bijak untuk melindungi keluarganya.

Aday mungkin telah tiada, tetapi warisan yang ia tinggalkan bukan hanya kenangan. Ia juga meninggalkan rasa aman—sesuatu yang tidak ternilai harganya.

Kisah Aday menjadi pengingat bahwa perlindungan hari ini adalah ketenangan bagi keluarga di masa depan. Peran Agen Perisai di lapangan menjadi ujung tombak dalam menghadirkan perlindungan ini.

Dan bagi Samin, serta keluarganya, santunan itu bukan hanya bantuan finansial. Ia adalah bukti bahwa di tengah kehilangan, masih ada kepedulian yang hadir, memberikan kekuatan untuk melanjutkan hidup. (***)

Jurnalis/Editor: Djoni Satria

Komentar

  1. Lanin Alawin berkata:

    Semoga makin banyak yang terbantu oleh bpjs ketenagakerjaan khususnya para pekerja bukan penerima upah

Komentar ditutup.

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom