RUZKA INDONESIA — Sebuah perkawinan magis antara melodi abadi Eropa Barat dan kedalaman spiritual sastra Nusantara tersaji indah di selasar Makara Art Center Universitas Indonesia, pada Selasa 30 Juni 2026.
Panggung tersebut bernama Majelis Nyala Purnama yang digelar khusus untuk memperingati Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2026.
Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Urban Spiritual Indonesia, dan Komoenitas Makara seolah menjadi saksi bagaimana kelompok musikalisasi puisi Swara SeadaNya merajut harmoni transendental.
Mereka menyatukan komposisi klasik mahakarya Johann Sebastian Bach yang bertajuk “Air” (dari Orchestral Suite No. 3) dengan bait-bait kontemplatif puisi “Jalan Pulang” karya Ayie Suminar.
Swara SeadaNya yang malam itu diperkuat oleh personelnya Asep Rachman Muchlas (Bass), Gunawan Wicaksono (Vocal), Theressa Rida (Celempung), Indonesiana Ayuningtyas (Tari Tradisional), Abrar Husin (Kecapi), Ayie Suminar (Puisi), dan personel baru nya Bay Guitaro (Biola).
Mereka tidak sekadar menyajikan sebuah pertunjukan estetis, melainkan sebuah ritus perenungan batin yang menyentuh kesadaran paling dalam dari setiap pasang mata yang hadir.
Malam itu, atmosfer Majelis Nyala Purnama diselimuti keheningan yang khusyuk.
Ketika gesekan dawai pertama biola yang dimainkan oleh Bay Guitaro mengalun membawa melodi “Air” karya Bach, ditambah liukan tubuh penari Indonesiana Ayuningtyas yang menggabungkan Gerakan balet dengan ragam gerak tari Nusantara.
Hal itu membuat penonton seakan dibawa melintasi ruang dan waktu. Komposisi klasik abad ke-18 yang terkenal dengan kelindan melodinya yang tenang namun megah tersebut, bertransformasi menjadi kanvas kosong yang siap dilukis oleh makna.
Di atas hamparan musik yang megah namun intim itu, untaian kata dari puisi “Jalan Pulang” karya Ayie Suminar mulai ditiupkan. Karakter vokal dan interpretasi dari personel Swara SeadaNya berhasil meleburkan batas-batas geografis dan zaman.
Musik Bach yang matematis dan ilahi berdialog secara organik dengan diksi-diksi spiritual yang dituliskan Ayie Suminar yang sarat akan pesan kepasrahan, perjalanan spiritual, dan kerinduan manusia untuk kembali kepada Sang Penguasa Jagad Raya.
Swara SeadaNya kembali membuktikan kelasnya sebagai kelompok musik etnik kontemporer yang tidak hanya piawai mengolah nada, tetapi juga menangkap “ruh” dari sebuah karya sastra.
Repertoar gabungan ini disajikan dengan aransemen yang presisi namun tetap menyisakan ruang bagi improvisasi yang emosional.
Tak hanya itu, Swara SeadaNya juga berhasil mengajak para tokoh seperti yang hadir untuk menari Bersama, seperti Deputi Pencegahan BNN RI Irjen Pol. M. Zainul Muttaqien, S.H., S.I.K., M.A.P, Deputi Bidang Rehabilitasi BNN RI dr. Bina Ampera Bukit, M.Kes, Guru Besar Departemen Kriminologi Universitas Indonesia Prof. Drs. Adrianus Eliasta Meliala, M.Si., M.Sc., Ph.D, Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al Zastrouw, dan Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani.
Pertunjukan malam itu menegaskan peran Majelis Nyala Purnama dengan pembinanya Dr. Ngatawi Al Zastrouw, sebagai ruang hulu kebudayaan yang konsisten melahirkan oase spiritual di tengah hiruk-pikuk modernitas.
Kolaborasi antara Johann Sebastian Bach dan Swara SeadaNya adalah sebuah penanda zaman: bahwa seni pada puncaknya adalah sebuah medium universal untuk menemukan jalan pulang ke dalam diri manusia itu sendiri.
Ketika petikan pamungkas mereda, yang tersisa di selasar Makara Art Center bukan lagi sekadar tepuk tangan, melainkan sebuah keheningan yang sarat maknaโsebuah kepulangan yang purna.
Puisi Jalan Pulang
Adapun puisi berjudul โJalan Pulangโ, karya Ayie Suminar adalah sebagai berikut:
JALAN PULANG
Barangkali masih banyak jiwa-jiwa yang setiap malam berdoa dalam diam,
“Tuhan, aku ingin pulang, tetapi kakiku tak lagi mengenali jalan.”
Barangkali ada hati yang terus berperang melawan dirinya sendiri. Ingin lepas, namun terbelenggu oleh luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Barangkali ada ibu dan Ayah yang selalu menangis dalam doa-doa mereka.
Mengenang langkah pertama anaknya dan memanggil “Ibu..ibu..Ayah-ayahh”.
Mengenang hari pertama ia bersekolah.
Mengenang mata yang dulu penuh cahaya.
Yang kini redup dan tak lagi mengenali ibunya.
Malam ini, kita tidak sedang bertanya siapa dan kenapaโฆ
Malam ini, kita sedang berdoa.
Menyalakan pelita-pelita kecil di rumah-rumah kita.
Di kampung-kampung kita.
Di lingkungan tempat kita hidup dan saling menghidupi
Karena pada akhirnya, kita semua hanyalah para pejalan yang sedang belajar pulang.
Pulang dari lupa menuju sadar.
Pulang dari gelap menuju cahaya.
Pulang dari keterpisahan menuju persaudaraan dan persatuan.
Dan semoga tak ada satu jiwa pun yang harus menempuh perjalanan itu sendirian.
Agar tak ada lagi yang merasa kehilangan rumah.
Agar tak ada lagi yang merasa tak memiliki tempat untuk pulang.
Untuk semua yang sedang berjuang..
Untuk keluarga yang tak pernah berhenti berharap agar mereka pulang.
Untuk negeri yang sehat
Untuk bangsa yang kuat
Untuk INDONESIA
(***)
Sumber: Humas Komoenitas Makara
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com






Komentar