RUZKA INDONESIA — Aktivitas erupsi gunung berapi yang terus bergejolak di berbagai wilayah di Indonesia saat ini menjadi alarm serius yang harus diwaspadai oleh masyarakat.
Tak hanya soal ancaman bencana, erupsi gunung berapi juga berdampak serius bagi kesehatan masyarakat, terlebih anak-anak.
Peneliti Universitas Indonesia (UI), yang juga Ketua Klaster Child Health and Well-Being Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI), Prof. Dr. Nani Nurhaeni, S.Kp., M.N., menjelaskan bahaya laten dari paparan partikel erupsi yang tidak boleh diabaikan.
Prof. Nani menjelaskan bahwa abu vulkanik terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat halus, tajam, serta abrasif.
Partikel ini mampu menembus saluran napas hingga ke alveoli, ditambah membawa gas iritan seperti sulfur dioksida dan karbon monoksida yang memperberat peradangan.
Anak-anak jauh lebih rentan karena tubuh mereka lebih kecil dibanding orang dewasa.
“Bayangkan jika jumlah abu yang sama terhirup oleh anak dengan berat 20 kilogram dan orang dewasa dengan berat 60 kilogram, maka beban partikel yang masuk ke tubuh anak akan terasa lebih berat karena terbagi ke dalam tubuh yang lebih ringan. Ditambah lagi, saluran napas anak lebih sempit, sistem imun belum matang, dan postur tubuh mereka lebih pendek sehingga bernapas di zona udara rendah tempat partikel berat mengendap. Kombinasi faktor ini membuat anak-anak jauh lebih mudah mengalami gangguan pernapasan saat terjadi erupsi gunung berapi,โ ungkap Prof. Nani dalam siaran pers yang diterima, Kamis (17/09/2026).
Berisiko Mengganggu Pertumbuhan Struktur Alveolar Jangka Panjang
Riset juga menunjukkan bahwa paparan abu vulkanik tidak hanya memicu gangguan fungsi paru jangka pendek, tetapi juga berisiko mengganggu pertumbuhan struktur alveolar jangka panjang.
Kondisi ini menempatkan anak-anak sebagai kelompok paling rentan dalam situasi erupsi, di mana hujan abu vulkanik yang mengiringinya membawa partikel berbahaya.
Untuk mencegah risiko serius, Prof. Nani mengingatkan orang tua agar memahami kriteria tanda bahaya (red flags) yang dirumuskan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
โKeterlambatan mengenali tanda bahaya bisa berakibat fatal karena cadangan pernapasan anak jauh lebih kecil dibanding orang dewasa. Tanda bahaya itu mencakup laju napas anak menjadi sangat cepat, dada tampak tertarik ke dalam saat bernapas, dan saturasi oksigen turun di bawah 94%. Jika tanda-tanda ini muncul, anak harus segera dibawa ke rumah sakit,โ jelasnya.
Jika tanda tersebut muncul, anak harus segera dibawa ke rumah sakit. Sebelum gejala berat terjadi, orang tua perlu mewaspadai tanda awal seperti batuk kering maupun berdahak, rasa gatal di tenggorokan, mata merah berair, hingga munculnya mengi (suara napas menciut).
Anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas berada pada kelompok berisiko tinggi yang ambang kewaspadaannya harus ditingkatkan.
Dalam hal penanganan di rumah, evakuasi tetap menjadi langkah utama.
Namun jika terpaksa bertahan, Prof. Nani menekankan pentingnya manajemen lingkungan.
โMatikan AC yang menghisap udara luar dan hindari penggunaan kipas angin karena hembusannya akan menerbangkan kembali partikel abu yang sudah mengendap di lantai maupun perabot sehingga terhirup ulang oleh anak,โ terangnya.
Pakai Masker Khusus
Dia menambahkan pula bahwa pembersihan rumah sebaiknya menggunakan lap lembap, dan anak di atas dua tahun dipakaikan masker khusus.
Jika anak mendadak sesak, segera dudukkan dalam posisi tegak dan hindari menyapu kering atau memberikan obat batuk milik orang dewasa.
Mengakhiri penjelasannya, Prof. Nani menegaskan bahwa prinsip pencegahan dan kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama. โKeselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas melalui tindakan preventif yang tegas dan cepat, tanpa menunggu gejala tanda bahaya muncul,โ pungkasnya.
Kajian dan edukasi yang dipaparkan oleh Prof. Nani menjadi penegas peran UI sebagai kampus yang aktif memberikan kontribusi akademik dan advokasi kesehatan masyarakat, khususnya bagi kesehatan anak.
Harapannya, selain memberi manfaat kepada masyarakat luas, kajian ini juga mendorong lahirnya kebijakan serta praktik mitigasi yang lebih responsif terhadap kelompok rentan. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar