Galeri
Beranda ยป Berita ยป Jalin Ikatan Budaya Jawa, Wayang Wong Manggung di Festival Bulan Mengambang di Johor

Jalin Ikatan Budaya Jawa, Wayang Wong Manggung di Festival Bulan Mengambang di Johor

Ikatan Alumni ASKI STSI ISI di Jakarta meramaikan Festival Bulan Mengambang di Johor, Malaysia.
Ikatan Alumni ASKI STSI ISI di Jakarta meramaikan Festival Bulan Mengambang di Johor, Malaysia.

www.ruzkaindonesia.id–Para seniman tari dari Ikatan Alumni ASKI STSI ISI di Jakarta meramaikan Festival Bulan Mengambang di Kraton Mbah Anang, Muar, Johor, Malaysia, Sabtu, (02/03/2024).

Adalah daerah Muar yang menjadi tempat festival yang merupakan daerah yang perkampungannya banyak dihuni masyarakat Jawa.

Tak heran jika menyusuri kawasan itu, dapat dilihat cara hidup dari pertuturan, makanan hingga kepada adat budayanya yang masih kental.

Festival Bulan Mengambang yang selalu dilaksanakan pada saat bulan purnama (mengambang), kerap menampilkan Budaya Jawa mulai dari Reog, Wayang Kulit, Wayang Wong dan seni tradisional lainnya.

Festival dengan menampilkan pentas seni tradisional ini tujuannya untuk memelihara ikatan budaya bagi imigran Jawa yang sudah beranak-pinak dan menjadi warga negara Malaysia.

Pagelaran Wayang HUT TVRI Jakarta di Studio Alam Depok

"Silahturahmi budaya saya pikir menjadi jalinan penting kedua bangsa Indonesia-Malaysia," kata Dwino Hermantoro, sutradara dan penulis naskah Wayang Wong.

Dalam pementasan ini diberi judul Hilangnya Ajimat Kalimosodho' dengan cerita mengambil latar belakang dari kisah klasik pewayangan dimana ajimat sakti itu hanya dimiliki oleh Prabu Puntadewa (alias Yudistira), pemimpin para Pandawa.

Pusaka ini berwujud kitab, dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta. Para Kurawa dengan berbagai cara berusaha mencuri Ajimat itu, untuk mengantisipasi perang yang akan berlangsung.

"Inspirasinya cerita ini dari kisah Mahabharata," ungkap Umi Khulsum, penari Drupadi yang anggun.

Wayang Wong ini diperankan oleh, Agus Ary Tjahjadi (Bumiloka), Sujatmiko (Gatutkaca), Fety Fatimah (Prajurit), Dwi Hastuti (Prajurit), Martini,(Srikandi), Umi Khulsum (Drupadi), Susamsi (Cakil), Reni Tri Hastuti (Prajurit).

Memaknai Kepemimpinan Perempuan Nusantara Melalui Tari Ratu Graeni di Komoenitas Makara

Lalu Fathnuraini Priyahita Iskandar (Prajurit), Enti Wahyuningtias (Prajurit), Heri Rahadiyanto (Begawan Kolo Pujonggo), Hanura Siwi (Prajurit), Ilham Mujiriyanto.(Priyambodo), Sendang Wangi (penari Golek Ayun Ayun).

Ketua Persatuan Jawa Parit Bugis (PERJAWA) Johar bin Paimin, menjelaskan pementasan Wayang Wong sebenarnya tak terpikirkan juga bisa dimainkan di kawasan perkampungan Jawa di Johor.

"Tadinya kami pikir siapa yang mau datang ke kampung dan menonton pementasan ini, namun kami senang dibantu Seniman Indonesia mimpi pementasan Wayang Wong bisa terlaksana," jelas Johar.

Para penonton generasi muda yang sebagian besar bertutur Melayu antusias dengan pertunjukan tarian Wayang Wong, sembari berbicara bahasa Jawa, dengan gerakan tari yang luwes dan kostum yang menarik.

Konjen RI di Johor Sigit Suryantoro Widiyantosangat menyambut baik pementasan budaya Indonesia di Malaysia. Budaya adalah alat pemersatu bangsa-bangsa serumpun, karena banyak sekali keturunan Jawa yang tinggal di Malaysia.

Bicara Kerusakan Ekologis Lewat Pameran Foto Pesta Media 2026

"Budaya menembus negara, budaya menjalin persahabatan antar bangsa. Budaya Jawa adalah way of life sebagian besar penduduk Indonesia, " katanya.

Selama pementasan Wayang Wong, diiringi Gending Karawitan mahasiswa Aswara (Akademi Seni Warisan) Kuala Lumpur.

Lokasi Festival Bulan Mengambang secara rutin dilangsungkan di Parit Bugis. Para pemukim Jawa ini bahkan membangun replika Keraton Jawa.

Rumah kayu besar berhias ukiran kudus ini, berada di tengah-tengah kebun sawit maha luas. Jaraknya 150 km dari Ibukota Johor Bahru.

Pintu gerbang Kraton Mbah Anang ini meniru candi zaman Majapahit dengan struktur bata merah Wringinlawang.

Panorama kediaman Keraton Mbah Anang, rumah kayu tiang empat dan atap berbumbung tiga tingkat didiami keluarga besar Allahyarham Mingan Sakimin, salah satu perintis pemukim Jawa tiga generasi lalu. (***)

Reporter: Hendrata Yudha

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom