Galeri
Beranda ยป Berita ยป Dingin Sikapuk dan Matahari yang Tak Pernah Terlambat

Dingin Sikapuk dan Matahari yang Tak Pernah Terlambat

Tour Nilamers, warga Nilam 1-2 Komplek Permata Depok. (Foto: Dok Suryansyah)

RUZKA INDONESIA — Malam masih terlelap tidur. Hembusan angin genit menggoda. Kusnan Wartoyo berselimut di sofa. Yang lainnya di kamar masing-masing. Memanjakan tubuh dalam selimut berlapis ganda.

“Serba salah, nggak bisa tidur. Dinginnya bukan main,” ujar Kusnan sambil menarik selimut meski berjaket tebal.

Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB. Suhu udara 8 derajat celcius. Di home stay Camelia, Dieng, Jawa Tengah. Dinginnya tak bisa diajak kompromi. Benar-benar menusuk tulang.

Tak ada yang berani keluar rumah. Kabut menggantung seperti selimut tipis yang belum ingin beranjak. Saya sesekali mengintip dari balik jendela.

“Berangkat jam 04.00. Nggak jadi ke Bukit Sikunir. Kita menunggu sunrise di Sikapuk,” kata Aak Sofian, Panitia Tour Nilamers, warga Nilam 1-2 Komplek Permata Depok.

Meriah Festival Perahu Naga Depok di Situ Rawa Kalong

Di luar, dunia masih gelap. Tak ada kehidupan. Rumah-rumah tertidur. Jalanan sepi. Lampu kendaraan jadi teman perjalanan ke bukit Sikapuk, Dieng.

Tak lebih dari 40 orang –paruh baya yang berlaga masih muda – bergerak memberanikan diri melawan keadaan. Hawa dingin yang tak ketulungan.

Di sebuah tempat terbuka dengan suhu yang sanggup membuat gigi beradu tanpa aba-aba.

Ada yang terus berdekap. Ada yang merokok. Ada yang menggerakkan jari-jari tangan. Ada juga yang kembali memilih berselimut. Bertahan di homestay karena takut dingin.

Di satu sudut lainnya melepas tawa. Memecah keheningan di pagi buta. Obrolan mereka ngawur ngidul. Lucu-lucuan untuk melawan dingin yang tak kompromi.

Wayangan Ruwat Hutan akan Digelar di Hutan Universitas Indonesia

Kalau berkata jujur, sebenarnya saya ingin bertanya: Kita ini mau melihat matahari terbit atau uji nyali melawan alam?

Tetapi perjalanan harus dilanjutkan. Jauh-jauh dari Depok harus dapat melihat indahnya matahari terbit. Meski ada pengorbanan yang harus dibayar. Melawan dingin.

Semakin mendekati Sikapuk, udara semakin dingin. Jaket yang semula terasa cukup mulai seperti sekadar formalitas. Tangan masuk ke saku. Kepala ditutup kupluk. Nafas keluar menjadi asap tipis.

“Di Depok kepanasan. Dikasi dingin disini (Dieng) malah mengkerut. Serbasalahโ€ฆ” celetuk Setiadi.

Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Fotografer

Begitu sampai, ternyata sudah banyak orang berdatangan. Tapi mereka tertib. Perlahan-lahan menapakan kaki.

Jaga Warisan Leluhur, H. Baya Dorong Nyiramkeun Pusaka Jadi Wisata Edukasi

Tujuannya sama: bangun di pagi buta, melawan dingin, datang ke tempat tinggi, lalu menunggu sesuatu yang sebenarnya bisa dilihat setiap hari.

Bedanya, di Sikapuk matahari terasa lebih istimewa. Tampak lebih dekat dalam genggaman.

Orang-orang mulai mencari posisi terbaik. Semua menoleh ke timur. Sebelum matahari terbit harus diabadikan.

“Kelompok usia 40 tahun silakan maju untuk foto,” teriak Argan dan Andi disambut tawa lainnya.

Jumlahnya lumayan. Lebih dari 10 orang. Kemudian lanjut sesi foto usia 50 tahunan. Tawa pun pecah, udara dingin sedikit menjadi hangat.

Sesi terakhir paling sedikit usia kepala enam. Hanya 5 orang. Termasuk ketua panitia Edi Sulistyo dan wakilnya Aak Sofian, Agus Taki dan Darmono. Saya hanya melengkapi biar seperti ‘Pandawa Lima’.

Sahut sahutan pecah antara usia kepala 5 dan 6. Meski usia 60 tahun Edi mengaku berjiwa muda. Masih kencang dan bertenaga. Meski ia sesekali pasang wajah sedih. Angka memang tak pernah dusta.

โ€œKeren Pandawa 5. Nggak kalah dengan yang muda urusan gaya,” celetuk Edi.

Bagus nggak?โ€

โ€œBagus.โ€

โ€œSerius?โ€

โ€œSerius.โ€

Padahal fotonya masih gelap. Tapi begitulah manusia. Kalau sudah jauh-jauh datang, foto apa pun harus terlihat bagus.

Saya memilih berdiri agak menjauh dari kerumunan. Tidak ingin terlalu sibuk dengan kamera.

Pagi itu saya ingin melihat matahari dengan mata sendiri.

Dari Gelap Menuju Terang

Langit masih gelap ketika kami tiba.
Gunung-gunung di kejauhan hanya berupa bayangan. Kabut bergerak perlahan. Angin dingin menyentuh wajah.

Lalu perlahan, warna langit berubah. Hitam menjadi biru tua. Biru berubah menjadi abu-abu.

Kemudian muncul semburat jingga di garis cakrawala. Di antara suhu udara 8 derajat Celcius.

โ€œSebentar lagi ayo siap-siap,โ€ seru Kusnan.

Semua mata mengarah ke timur. Dan akhirnya, cahaya itu muncul.

Pertama hanya sedikit. Kemudian semakin besar. Matahari perlahan keluar dari balik pegunungan.

Sinar keemasannya menyentuh bukit-bukit Dieng. Kabut yang semula kelabu berubah menjadi putih keemasan. Lembah yang sebelumnya gelap mulai terlihat.

Seketika, rasa dingin seperti terlupakan. Semua sibuk mengambil gambar.

Ada momen yang rasanya sayang dilewatkan. Harus diabadikan dari berbagai sudut.

Saya ingin mengingatnya secara langsung. Warna langitnya. Dinginnya udara. Kabut yang bergerak.

Dan perasaan ketika matahari pertama muncul. Kita sering tidak sabar menunggu.

Matahari terbit di Sikapuk sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Ia terjadi setiap pagi.

Tetapi manusia membutuhkan perjalanan untuk menyadari hal-hal sederhana.

Kita sering ingin semuanya cepat. Pekerjaan cepat selesai. Rezeki cepat datang. Masalah cepat selesai. Rencana cepat berhasil.

Kita bahkan kadang ingin kehidupan berjalan sesuai jadwal yang kita buat sendiri.

Padahal matahari saja tidak pernah terburu-buru. Ia terbit pada waktunya.

Tidak lebih cepat karena kita memintanya. Tidak lebih lambat karena kita mengeluh. Ia hanya menjalankan hukum alam.

Dan kita, manusia yang sering merasa paling sibuk di dunia, akhirnya hanya bisa berdiri dan menunggu.

Itulah pelajaran kecil dari Sikapuk pagi itu, Minggu 9 Agustus 2026. Tidak semua yang kita tunggu harus dipaksa datang lebih cepat. Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu.

Kopi Setelah Matahari Terbit

Setelah matahari cukup tinggi, perut mulai mengingatkan bahwa perjalanan belum selesai.

โ€œNgopi?โ€

Pertanyaan sederhana itu langsung disetujui. Secangkir kopi panas terasa seperti hadiah.

Uapnya naik perlahan. Tangan menggenggam gelas. Beberapa gorengan tersaji.

Kami tertawa. Membicarakan foto. Membicarakan perjalanan. Dan hal-hal lain yang tak terduga.

Dan tentu saja, membicarakan dinginnya Sikapuk.

Padahal beberapa jam sebelumnya kami sibuk mengeluh kedinginan. Begitulah manusia.

Sering kali baru bisa menghargai sebuah perjalanan setelah berhasil melewatinya.

Pulang Membawa Pagi

Ketika akhirnya meninggalkan Sikapuk, matahari sudah cukup tinggi.
Jalanan mulai ramai.

Namun, lima orang dari kami memilih jalan kaki ke homestay ketimbang naik bus. Lutfi, Muklis, Seihan, Dwi dan Andri ingin menikmati alam sambil olahraga. Bukan gaya-gayaan. Mereka memang hobi jalan kaki.

“Tantangannya bukan jarak 4,5 km, tapi medannya berkelok, turunan dan tanjakan,” kata Lutfi diamini oleh Muklis.

Sebuah pengalaman dari Bukit Sikapuk. Dan pengingat bahwa hidup tidak selalu harus dikejar.

Ada saatnya kita berhenti. Menarik napas. Menunggu. Dan membiarkan sesuatu datang pada waktunya.

Sikapuk mengajarkan itu dengan cara yang sederhana. Dalam dingin. Dalam gelap. Dalam penantian.

Dan ketika pagi itu tiba, kita mungkin baru sadar: ternyata perjalanan menunggunya adalah bagian paling indah dari semuanya. (***)

Penulis: Suryansyah
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan






Kolom