Oleh: Gunawan Wicaksono/Fotografer Senior
RUZKA INDONESIA — Malam itu, seperti ratusan malam lainnya antara tahun 2006 hingga 2012, raungan mesin sepeda motor kami membelah keheningan jalanan dari Kebayoran Center menuju rumah masing-masing.
Jarum jam sudah melewati tengah malam, bahkan tak jarang hampir memasuki waktu subuh. Kami, dua pemuda yang ego dan adrenalinnya masih menyala, saya di pertengahan usia 20-an dan dia, Arie Basuki , yang akrab dipanggil Arbas, di awal 30-an selalu menjadikan perjalanan pulang kerja sebagai arena adu cepat.
Kebut-kebutan di bawah temaram lampu jalan adalah cara kami merayakan masa muda, setelah seharian bergelut dengan tenggat waktu dan kerasnya jalanan Jakarta.
Namun, riuh mesin motor dan tawa lepas itu kini mendadak senyap. Pada Selasa, 8 September 2026, sebuah kabar memukul dada saya dengan telak.
Arbas, bersama empat jurnalis lainnya, dilaporkan hilang kontak saat melakukan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Panjatkan Doa
Di tengah kepanikan dan doa yang terus dipanjatkan, ingatan saya langsung melompat jauh ke belakang, ke tahun 2004, saat untaian persahabatan ini pertama kali dirajut.
Pertemuan kami berawal dari ketidaksengajaan di lapangan. Arbas saat itu sudah gagah membawa nama besar TEMPO, sementara saya masih seorang fotografer hijau di Koran Reporter, sebuah media kecil milik salah satu tokoh Pemuda Pancasila.
Meski berbeda bendera dan kasta media, Arbas tidak pernah memandang sebelah mata. Ketika badai menggulung tempat kerja saya hingga koran tersebut terpaksa gulung tikar pada 2005, Arbas-lah orang pertama yang mengulurkan tangan.
“Gun, lamar ke Tempo. Sini bareng gue,” ujarnya waktu itu.
Ajakan sederhana yang mengubah garis hidup dan karier saya.
Diterima di TEMPO, kedekatan kami menjelma menjadi ikatan yang lebih solid dari sekadar rekan sejawat.
Sepanjang tahun 2006 hingga 2010, takdir menempatkan meja kerja Arbas persis di sebelah kanan saya.
Ritual Kecil yang Absurd
Kedekatan fisik itu membuat kami menghafal luar kepala tabiat masing-masing, mulai dari keluh kesah urusan keluarga hingga ritual-ritual kecil yang absurd.
Salah satu kebiasaan aneh Arbas yang paling saya ingat adalah caranya mengobati pusing.
Jika kepalanya mulai sakit, dengan santai ia akan menenggak pil Neozep, lalu meminumnya bukan dengan air putih, melainkan dengan secangkir kopi hitam pekat.
Kantor TEMPO sudah seperti rumah kedua. Kami sering menginap di sana, terkadang bukan karena tugas, melainkan karena sedang begadang bersama memantau pengumuman event lomba foto terdekat.
Era itu adalah masa-masa kompetitif yang indah. Saya dan Arbas bergantian menaiki podium juara, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Arbas adalah seorang pemburu lomba yang tangguh. Koleksi pialanya berderet. Suatu hari, rasa penasaran membuat saya bertanya langsung kepadanya, โBas, rahasia lo apa sih, kok sering banget menang lomba?โ.
Arbas tidak menjawab dengan teori komposisi atau teknik pencahayaan yang rumit. Ia hanya tersenyum, membuka komputernya, dan menunjukkan sebuah folder foto.
Anak Yatim
Saat dibuka, isinya adalah dokumentasi foto anak-anak yatim.
โIni Gun. Gue sering datang ke mereka, ya berbagi sukacita aja,โ jawabnya lirih.
Seketika saya tertegun. Di balik perawakannya yang keras, bicaranya yang cenderung asal-asalan dengan moto hidupnya yang terangkum dalam satu kata โMengalirrโ, dan gayanya yang slebor, Arbas menyimpan sisi humanis yang luar biasa dalam.
Ketulusan hatinya yang tersembunyi itulah yang barangkali menuntun matanya menangkap momen-momen magis lewat lensa kamera.
Kendati demikian, dalam urusan profesi, Arbas adalah “singa”. Dia adalah jurnalis foto yang memiliki determinasi tinggi untuk selalu mendapatkan foto eksklusif di setiap peristiwa.
Tak ada kata takut dalam kamusnya. Di tengah situasi demonstrasi yang berujung rusuh, saat massa melempari batu dan aparat mulai kalap mengayunkan pentungan, Arbas tetap bergeming di garis depan demi merekam kebenaran.
Uniknya, pria yang tidak punya rasa takut terhadap peluru atau gas air mata ini, justru kerap risau oleh hal-hal tak kasat mata.
Arbas paling takut jika sebuah mimpi buruk hadir dalam tidurnya. Jika terbangun dengan keringat dingin setelah mimpi aneh, dia biasanya langsung mencari saya, bertanya dengan raut wajah serius karena dia menganggap saya mengerti hal-hal supranatural.
Kami akan berdiskusi tentang arti mimpi itu sampai dia merasa tenang dan kembali tertawa.
Tahun 2012, kebersamaan kami di bawah atap yang sama harus berakhir ketika Arbas memutuskan untuk resign dan pindah ke Merdeka.com.
Status Sahabat
Namun, perpisahan kantor tidak pernah mengikis status sahabat yang sudah melekat. Kami tetap saling memantau dan saling mendukung dari kejauhan.
Kini, kamera Arbas mungkin sedang tergeletak di suatu tempat di sekitar Selat Sunda, terancam oleh debu vulkanik dan gelombang laut.
Sosok pemberani yang tidak pernah takut pada amuk massa itu kini sedang menghadapi amuk alam yang jauh lebih besar.
Bas, lo adalah orang baik yang menyembunyikan kebaikan itu di balik topeng kepolosan dan kekerasan jalanan. Di saat pencarian masih terus dilakukan, ketahuilah bahwa lo tidak sendirian menghadapi kegelapan di Selat Sunda.
Doa gue, doa keluarga, dan doa dari ratusan anak yatim yang pernah lo bagikan sukacita, kini terbang bersama angin malam, merayap di sela-sela debu Anak Krakatau, mengalir bersama semangatmu, menjagamu untuk pulang. Bertahanlah, Bas. (***)
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar