RUZKA INDONESIA — Penurunan kualitas air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung akibat pencemaran antropogenik terus menjadi tantangan serius.
Kompleksitas persoalan tersebut menuntut sistem pemantauan kualitas air yang tidak hanya akurat dan mutakhir, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kondisi lokal, baik dari aspek sosial, geografis, hingga operasional.
Peneliti Universitas Indonesia (UI) dari Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB), Heru Dwi Wahyono, menawarkan desain sistem online monitoring kualitas air untuk mendukung perlindungan dan pengelolaan kualitas air.
Penelitian tersebut Heru paparkan dalam disertasinya yang berjudul โDesain Sistem Online Monitoring Kualitas Air untuk Perlindungan dan Pengelolaan Kualitas Air Berkelanjutan di Sungai Ciliwungโ, yang sukses dipertahankan dalam Sidang Promosi Doktor pada Sabtu (19/09/2026).
Riset yang dikembangkan berangkat dari berbagai kendala yang masih dihadapi sistem pemantauan kualitas air yang tersedia saat ini.
Selain tingginya biaya investasi perangkat impor, operasional stasiun pemantauan juga sering terkendala risiko vandalisme, banjir, serta keterbatasan sumber daya manusia dalam pemeliharaan dan pengoperasian sistem.
Kondisi tersebut menyebabkan upaya pemantauan kualitas air secara berkelanjutan belum berjalan optimal, padahal data kualitas air yang akurat sangat dibutuhkan sebagai dasar penyusunan kebijakan, mitigasi pencemaran, dan perlindungan ekosistem sungai.
Penelitian Tiga Segmen DAS Ciliwung
Heru Dwi Wahyono melakukan penelitian pada tiga segmen DAS Ciliwung, yakni wilayah hulu di Cipayung Datar, wilayah tengah di Srengseng Sawah, dan wilayah hilir di Menteng.
Penelitian ini mengintegrasikan pendekatan Cost Benefit Analysis (CBA) dan System Development Life Cycle (SDLC) untuk mengevaluasi aspek ekonomi, teknis, dan operasional sistem pemantauan kualitas air secara komprehensif.
Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan perangkat sensor alternatif mampu menurunkan kebutuhan investasi awal (capital expenditure) hingga sekitar 59 persen, dari Rp717 juta menjadi sekitar Rp289 juta.
Inovasi utama penelitian ini terletak pada desain arsitektur sistem yang disesuaikan dengan kondisi lokal Indonesia.
Sistem tersebut memadukan bangunan pelindung berbentuk panggung yang dilengkapi CCTV dan alarm, metode direct immersed sampling dengan sistem pembersihan otomatis, serta sumber energi hybrid yang menggabungkan listrik PLN dan tenaga surya.
Selain itu, sistem smart data logger berbasis Internet of Things (IoT) dirancang secara modular sehingga dapat dievakuasi dengan lebih mudah saat banjir melanda.
Melalui pendekatan tersebut, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk sektor elektronika dan telematika berhasil mencapai 59,42 persen.
Rekomendasi Tata Kelola
Selain menawarkan inovasi teknologi, penelitian ini juga menghasilkan rekomendasi tata kelola yang menempatkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai aktor utama pengelola sistem.
Model tersebut diperkuat melalui partisipasi masyarakat bantaran sungai melalui pendekatan citizen science, sehingga warga dapat berperan aktif menjaga fasilitas pemantauan maupun kebersihan sungai.
Temuan ini memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar peningkatan efektivitas pemantauan kualitas air.
Dengan nilai TKDN mencapai 59,42 persen, sistem yang dirancang berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap perangkat impor, memperkuat kapasitas industri teknologi lingkungan dalam negeri, serta mendukung pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien dan berbasis data.
Dalam jangka panjang, inovasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sistem peringatan dini pencemaran air di berbagai wilayah Indonesia dan mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan di sektor lingkungan hidup.
Penelitian yang dikembangkan oleh Heru Dwi Wahyono menjadi penegas peran UI sebagai universitas unggul yang terus mendorong lahirnya solusi inovatif bagi berbagai tantangan pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan ekosistem akademik yang mendukung kolaborasi lintas disiplin ilmu, UI tidak hanya menghasilkan temuan ilmiah yang berkontribusi pada pengembangan pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi yang dapat dimanfaatkan secara nyata untuk mendukung ketahanan sumber daya air, meningkatkan kualitas lingkungan hidup, serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar