RUZKA INDONESIA — Kasus kematian akibat serangan jantung mendadak (sudden cardiac arrest) semakin sering menjadi perhatian publik.
Kondisi yang dahulu lebih banyak dikaitkan dengan kelompok usia lanjut kini mulai mengintai kelompok usia produktif.
Keterlambatan penanganan dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap gejala awal menjadi faktor yang kerap mempersempit peluang keselamatan korban.
Bertepatan dengan peringatan Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) yang jatuh pada tanggal 29 September setiap tahunnya, Universitas Indonesia (UI) mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit jantung melalui pemahaman gejala dini dan tindakan penyelamatan yang tepat.
Tahun ini, tema โDonโt Miss a Beatโ diusung oleh World Heart Federation (WHF) guna menekankan pentingnya mengenali tanda dan gejala awal serangan jantung sebelum terlambat.
Penyakit kardiovaskular hingga kini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hampir 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2022.
Di Indonesia, penyakit jantung dan stroke juga masih menjadi penyebab kematian tertinggi.
Pentingnya Peningkatan Kesadaran Masyarakat
Data tahun 2024 dari WHF menunjukkan bahwa sekitar 695.166 kematian akibat penyakit kardiovaskular terjadi di Indonesia pada 2024.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gejala, faktor risiko, serta penanganan dini penyakit jantung.
Pakar Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI) yang juga Ketua Klaster Riset Acute and Critical Care, Dr. Masfuri, S.Kp., M.N., menegaskan bahwa sebagian besar kasus serangan jantung sebenarnya tidak terjadi tanpa peringatan.
Menurutnya, masyarakat sering kali keliru menafsirkan gejala awal sehingga kesempatan memperoleh pertolongan medis menjadi terlambat.
Lebih lanjut, Masfuri memaparkan bahwa gejala khas serangan jantung yang mendera dapat berupa nyeri dada sebelah kiri yang terasa seperti tertindih beban berat, rasa terbakar di ulu hati yang menjalar hingga ke rahang, bahu, atau lengan, keringat dingin, serta sesak napas yang muncul secara tiba-tiba.
Sayangnya, banyak orang menganggap gejala tersebut hanya sebagai masuk angin, gangguan lambung (maag), atau kelelahan akibat aktivitas sehari-hari (burnout).
Gejala Peringatan
Padahal, penundaan penanganan selama beberapa menit saja dapat berdampak besar terhadap peluang keselamatan pasien.
โSebagian besar pasien sebenarnya telah mengalami gejala peringatan sebelum serangan jantung terjadi. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa nyeri dada yang tidak biasa, sesak napas mendadak, atau keringat dingin bukanlah kondisi yang boleh disepelekan. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang jaringan jantung dapat diselamatkan,โ ujar Masfuri.
Dalam dunia kegawatdaruratan jantung dikenal prinsip time saving is life saving. Masfuri menjelaskan bahwa terdapat periode emas atau golden hour dalam rentang 90 hingga 120 menit pertama sejak gejala muncul.
Pada periode tersebut, tindakan medis yang cepat dapat membantu mencegah kerusakan permanen pada otot jantung dan meningkatkan peluang hidup pasien.
Jika menemukan orang dengan gejala serangan jantung, masyarakat dianjurkan untuk menghentikan seluruh aktivitas korban, memosisikannya dalam keadaan duduk bersandar, serta segera menghubungi layanan gawat darurat atau membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat.
Apabila korban kehilangan kesadaran dan tidak bernapas normal, tindakan pertolongan pertama menjadi sangat krusial.
Masfuri mengimbau masyarakat untuk melakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau Hands-Only Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dengan menekan bagian tengah dada sebanyak 100โ120 kali per menit.
Harus Bertindak Cepat
Jika tersedia, Automated External Defibrillator (AED) dapat digunakan sesuai petunjuk suara yang terdapat pada perangkat.
Penelitian menunjukkan bahwa tindakan CPR dini oleh masyarakat awam dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup korban hingga dua sampai tiga kali lipat sebelum tenaga medis tiba.
Momentum Hari Jantung Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa penyelamatan nyawa tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengenali tanda bahaya dan bertindak cepat saat keadaan darurat terjadi.
Melalui edukasi berbasis riset dan kepakaran, UI terus mendorong peningkatan literasi kesehatan masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai risiko penyakit kardiovaskular, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kesehatan Indonesia yang berkelanjutan. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar