RUZKA INDONESIA — Pagi hari sering kali menjadi momen paling riuh bagi pikiran seorang lanjut usia.
Saat mata baru saja terbuka, ingatan langsung diserbu tumpukan kekhawatiran: jadwal minum obat, rasa nyeri fisik yang mulai mengganggu, urusan rumah tangga, hingga bayang-bayang masa lalu.
Di tengah kepungan pikiran tersebut, timbul pertanyaan mendasar yang kerap membayangi: Apakah bertambahnya usia secara otomatis menjadikan kita sosok yang lemah dan tak berdaya?
Menjawab keraguan tersebut, Sekolah Lansia Wulan Smart bersama Urban Spiritual Indonesia menggelar sesi edukasi dan praktik bertajuk “Lansia CERDAS dengan Meditasi Menuju Kesehatan Lahir dan Batin”.
Dipandu oleh pengagas Urban Spiritual Indonesia, Dr. Turita Indah Setyani, agenda ini mengajak para senior melihat proses penuaan dari kacamata baru, bukan sebagai penurunan kualitas hidup, melainkan sebagai kematangan jiwa yang bermakna.
“Tubuh boleh berubah dan menua, tetapi hidup terus berlangsung. Usia yang bertambah membawa kekayaan pengalaman dan kesempatan emas untuk semakin mengenal diri sendiri,” ujar Dr. Turita Indah Setyani di hadapan para peserta lansia.
Menjalani masa senja bukan sekadar berhitung berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita menjalani kehidupan tersebut.
Dr. Turita memperkenalkan filosofi LANSIA CERDAS, sebuah panduan mental dan perilaku bagi para senior:
CERIA: Menikmati setiap momen kehidupan dengan rasa syukur.
ENERGIK: Tetap bersemangat menjalani aktivitas sesuai batas kemampuan diri.
RAJIN: Konsisten merawat kesehatan fisik dan batiniah.
DAMAI: Memiliki ikhlas untuk menerima keadaan dan melepaskan beban emosi.
AKTIF: Tetap bergerak, bersosialisasi, dan mengambil peran di masyarakat.
SEHAT: Mencapai keseimbangan utuh antara tubuh, pikiran, dan spiritual.
Kunci utama dalam mewujudkan profil lansia ideal ini adalah Kesadaran (Mindfulness), kemampuan untuk menyadari tubuh, napas, pikiran, serta perasaan secara utuh dan hadir pada momen saat ini.
Banyak pandangan awam menganggap meditasi sebagai ritual sulit yang mengharuskan seseorang duduk bersila kaku atau mengosongkan pikiran.
Dr. Turita menepis anggapan tersebut. Baginya, meditasi lansia adalah latihan kesadaran yang sangat praktis, fleksibel, dan aman.
“Meditasi bukan perlombaan dan bukan pula paksaan untuk mengosongkan pikiran. Duduklah di kursi dengan nyaman, biarkan telapak kaki menapak lantai, dan dengarkan hembusan napas Anda sendiri,” jelas Dr. Turita.
Dalam metode ini, fokus latihan diletakkan pada hembusan napas alami melalui hidung. Secara fisiologis, hembusan napas yang disadari dapat menyeimbangkan saraf simpatik dan mengaktifkan saraf parasimpatik (saraf tak sadar).
Aktifnya saraf parasimpatik ini mendorong sirkulasi energi mikrokosmos (tubuh) serta memicu proses self-healing atau penyembuhan alami diri.
Dr. Turita menegaskan bahwa meditasi tidak boleh berhenti ketika mata kembali dibuka. Meditasi hendaknya bertransformasi menjadi Hidup Sadar: makan dengan sadar, berjalan dengan sadar, mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan menyadari rasa marah atau sedih secara bijak.
“Lebih baik melakukan meditasi beberapa menit setiap hari secara tekun dan konsisten, daripada bermeditasi lama namun hanya sesekali. Tekun dan sabar adalah kunci perubahan,” pungkas Dr. Turita.
Melalui inisiatif ini, Urban Spiritual Indonesia dan Sekolah Lansia Wulan Smart membuktikan bahwa bertambah tua bukanlah akhir dari pertumbuhan. Tubuh boleh menua, namun kesadaran dan kedamaian hati dapat terus bertumbuh tanpa batas. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com
(Pusinfo Urban Spiritual Indonesia)



Komentar