Nasional
Beranda ยป Berita ยป Listyo Sigit Tersangka, Adib Miftahul Soroti Keretakan Elite Prabowo-Jokowi

Listyo Sigit Tersangka, Adib Miftahul Soroti Keretakan Elite Prabowo-Jokowi

Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Lanskap politik nasional dikejutkan oleh pengungkapan kasus luar biasa yang menyeret lingkaran elite istana dan petinggi penegak hukum. Bareskrim Polri resmi menetapkan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) sekaligus mantan Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, bersama dua perwira tinggi lainnya yakni Kadivkum Polri Irjen Ahrie Sonta dan Irjen Eko Hadi Santoso sebagai tersangka.

Ketiganya disangkakan melakukan tindakan penyadapan ilegal (illegal tapping) serta akses sistem elektronik tanpa hak (illegal access) yang menargetkan nomor telepon Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, sejumlah pejabat negara, tokoh politik, media, hingga pimpinan organisasi masyarakat dan pengusaha sepanjang periode 2025 hingga Oktober 2026.

Kasus yang turut melibatkan penghapusan jejak log data pada sistem Lawful Interception Management System (LIMS) ini langsung memantik perhatian masif publik, menjadikannya bukan sekadar persoalan hukum konvensional, melainkan sebuah ujian serius yang berpotensi mengubah peta relasi kekuasaan di tingkat tertinggi.

Transparansi Penegakan Hukum dan Spekulasi Publik

Menanggapi situasi tersebut, Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN), Adib Miftahul, memberikan pandangan komprehensif terkait kompleksitas persoalan ini.

Menurutnya, langkah krusial yang harus dipastikan adalah bagaimana penegakan hukum berjalan secara murni tanpa ada intervensi politik.

Raih Penghargaan APSIPOL, Meutya Hafid: PP TUNAS Lindungi Masa Depan 70 Juta Anak

Penyadapan terhadap Presiden Republik Indonesia selaku simbol negara bukan sekadar pidana biasa, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap kedaulatan informasi yang harus dihukum berat.

Lebih lanjut, Miftahul menegaskan bahwa Polri harus mendetailkan dan membuka kasus ini secara transparan agar publik tidak terjebak pada spekulasi liar, termasuk menjawab keraguan masyarakat terkait dugaan pengalihan isu atas berbagai persoalan lain di tanah air.

“Polri harus menjelaskan secara utuh bahwa ini bukan sanderaan politik, melainkan murni penegakan hukum. Hal ini krusial karena di tengah masyarakat muncul berbagai spekulasi, apakah kasus ini merupakan pengalihan isu dari rentetan persoalan nasional seperti masalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta isu-isu strategis lainnya. Polri harus mendetailkan, membuka secara transparan, siapa invisible hand di balik keberanian seorang jenderal bintang empat dan bintang dua bisa menyadap Presiden Republik Indonesia,” ujar Miftahul, Rabu (4/11/2026).

Ia menambahkan, keterbukaan informasi ini menjadi kunci pembuktian bagi institusi kepolisian bahwa proses hukum yang berjalan murni penegakan hukum, bukan instrumen tawar-menawar politik.

Dengan begitu, ketika kasus dibuka secara gamblang, publik dapat melihat objektivitas yang utuh.

Wamen Nezar Patria Dorong Startup Aceh Ciptakan AI Berbasis Bahasa Lokal

Pertarungan Politik Senyap dan Kalkulasi Menuju 2029

Dari sudut pandang kajian politik, ketegasan penegakan hukum tersebut beririsan langsung dengan eskalasi hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo yang kini telah memasuki babak baru yang sangat diuji.

Melihat dinamika yang terjadi, Miftahul menyoroti fenomena sikap diam sejumlah partai politik yang dulunya merupakan bagian dari gerbong kekuasaan Joko Widodo ketika isu terkait Gibran Rakabuming Raka muncul ke permukaan.

Menurutnya, partai-partai tersebut seolah mengambil jarak dan tidak memberikan pembelaan terbuka.

“Kalau kita lihat track record-nya, ketika isu Gibran muncul, banyak pihak dari parpol yang dulu diakomodir oleh Jokowi seolah-olah tidak ada yang membela. Yang mempermasalahkan justru kelompok-kelompok parlemen jalanan dan oposisi yang konsisten mengkritik. Diamnya partai-partai tersebut bisa dibaca sebagai sinyal bahwa mereka menyadari adanya pertarungan politik tingkat tinggi yang berlangsung secara senyap demi mengamankan konfigurasi jangka panjang menuju 2029,” jelasnya.

Kendati demikian, eskalasi dipastikan akan terus terjadi mengingat latar belakang institusional. Tidak bisa dipungkiri bahwa Jenderal Listyo Sigit Prabowo merupakan figur yang berafiliasi secara politik kepada era pemerintahan Joko Widodo.

Prabowo Lawan Oligarki, Kenapa Pemkot Tangsel Copot Baliho Anti-Oligarki

Kelompok-kelompok yang terafiliasi di dalam lingkaran tersebut dipastikan tidak akan tinggal diam dan berpotensi membingkai penegakan hukum ini sebagai sebuah serangan politik.

“Pisah Ranjang” Kekuasaan dan Titik Temu Elite

Dalam perspektif politik yang lebih tajam, Miftahul menilai bahwa keretakan politik antara Jokowi dan Prabowo kini sudah mulai terlihat secara nyata.

Di internal Istana, Presiden Prabowo dihadapkan pada pertanyaan mendasar mengenai loyalitas moral dan kebangsaan dari para pembantunya.

“Mungkin di benak Presiden Prabowo muncul pertanyaan, ‘Kok tega ya, anak buah yang seharusnya tegak lurus kepada saya, tega menyadap saya? Bagaimana jiwa nasionalismenya?’ Atau apakah ini murni ide-ide liar Listyo dan kawan-kawan untuk mencari muka demi kepentingan kelompoknya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu pasti ada,” ungkap Miftahul.

Dinamika dan drama politik diprediksi akan terus memanas seiring terbukanya tabir persidangan dan fakta-fakta baru, Miftahul memandang bahwa Presiden Prabowo memiliki karakter yang cenderung mudah memberikan pengampunan (pardon).

Namun, bermuara dari keretakan yang diibaratkan sebagai “pisah ranjang” dalam relasi rumah tangga politik ini, keputusan akhir dan penyelesaian hubungan kedua tokoh sentral tersebut sepenuhnya berada di tangan sikap politik resmi Prabowo dan Jokowi.

“Publik hari ini memaknai bahwa hubungan politik Prabowo dan Jokowi sedang diuji, ibarat berumah tangga, ini adalah fase ‘pisah ranjang’. Pada akhirnya, hanya pernyataan resmi dan sikap politik dari kedua belah pihak, Prabowo dan Jokowi, yang dapat menyelesaikan persoalan hubungan politik ini secara tuntas,” pungkasnya.

Stabilitas dan arah politik nasional ke depan kini tidak hanya bergantung pada proses penegakan hukum yang transparan dan berkeadilan, tetapi juga pada bagaimana para elite politik utama menyikapi turbulensi kekuasaan ini dengan kepala dingin demi menjaga kedaulatan serta keutuhan negara. (***)

Jurnalis: Egi
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom