Nasional
Beranda ยป Berita ยป Jamiluddin Ritonga: Penyadapan Ilegal Berimplikasi Politis di Internal dan Eksternal Polri

Jamiluddin Ritonga: Penyadapan Ilegal Berimplikasi Politis di Internal dan Eksternal Polri

PENGAMAT Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga melihat, bisa jadi kelompok tersebut berafiliasi ke sosok tertentu yang masih punya pengaruh politik. Hanya saja bola politiknya sekarang sepenuhnya ada di tangan Prabowo. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)
PENGAMAT Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga melihat, bisa jadi kelompok tersebut berafiliasi ke sosok tertentu yang masih punya pengaruh politik. Hanya saja bola politiknya sekarang sepenuhnya ada di tangan Prabowo. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA โ€“ PENGAMAT Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta M Jamiluddin Ritonga yang menilik kasus penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto, tokoh-tokoh poliiik, media, tokoh ormas, LSM, dan para pengusaha tentu berimplikasi politis di internal dan eksternal Polri.

“Untuk jangka pendek, peristiwa tersebut dapat mengganggu situasi kondusif di internal Polri. Akan berpeluang terjadi kelompok-kelompok di internal Polri yang saling curiga. Kelompok satu akan curiga kepada kelompok lainnya. Kecurigaan antarkelompok ini dapat memperlemah soliditas di internal Polri,” ungkap Jamil kepada RUZKA INDONESIA, Rabu (04/11/2026) pagi.

Menurutnya, kalau kasus tersebut tidak cepat ditangani, hal itu dapat membelah internal Polri. Di tubuh Polri akan berisi faksi-faksi yang akan meruaak soliditas.

Di eksternal Polri, imbuhnya, khususnya para elite politik juga berpeluang muncul saling curiga. Sesama elite politik antarpartai bisa saja mencurigai sebagai aktor penyadapan tersebut.

“Hal itu dapat berimplikasi pada terganggunya komunikasi politik elite politik antar partai. Saling curiga ini dapat merusak stabilitas politik nasional. Namun demikian, untuk jangka panjang situasi politik dalam negeri diperkirakan relatif akan kondusif dan stabil. Hal ini bisa terjadi karena orang orang yang bermain dan melakukan gerakan perlawanan secara silent operation dengan target yang ingin dicapai bisa melakukan bargaining kekuasaan politik dengan Presiden Prabowo,” tandas Jamil.

Mudah bagi Melantina, Bagaimana dengan Pensiunan Lain? Menguji Kemudahan Layanan TASPEN

Jamil juga melihat, bisa jadi kelompok tersebut berafiliasi ke sosok tertentu yang masih punya pengaruh politik. Hanya saja bola politiknya sekarang sepenuhnya ada di tangan Prabowo.

“Kalau Prabowo cepat dan tegas menyelesaikan gerakan perlawanan melalui penyadapan itu, maka kondusifitas politik nasional cepat pulih kembali. Namun bila Prabowo masih menggunakan politik tarik ulur seperri bermain layang-layang, maka politik nasional akan lama menjadi kondusif,” tandas mantan Dekan Fikom IISIP Jakarta ini.

“Jadi, agar kondusivitas politik cepat pulih, maka Prabowo perlu tegas terhadap aktor di balik penyadapan ilegal tersebut. Untuk itu, Polri perlu segera mengungkap aktor penyadapan tersebut,” pungkasnya. (***/Jie)

Editor: Ao S Dwiyanthoputra
Email: aodwiyantho@gmail.com

PWI dan Bakom RI: Wartawan Harus Kedepankan Kompetensi dan Etika Jurnalistik

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom