RUZKA INDONESIA — Bagi penyintas bencana, pemulihan tidak selesai ketika rumah baru berdiri. Kehilangan lingkungan sosial, ruang berkumpul, dan rasa aman sering kali menyisakan tantangan yang lebih panjang.
Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Indonesia (UI) melalui koordinasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendampingi warga Kampung Haji di Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar).
Giat untuk memperkuat pemulihan sosial dan membangun ketangguhan komunitas pascabencana.
Kerja sama yang dijalankan melalui Kegiatan Pendampingan Sosial di Daerah Pascabencana Kabupaten Sukabumi Tahun Anggaran 2026 tersebut memasuki tahap penting dengan penyerahan barang stimulan kepada tiga kelompok masyarakat (pokmas), yakni Kelompok Masyarakat Kesehatan, Kelompok Masyarakat Keagamaan, dan Kelompok Masyarakat Pendidikan-Kepemudaan.
Stimulan diberikan sebagai sarana untuk menghidupkan kembali ruang-ruang sosial masyarakat sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Warga Kampung Haji merupakan penyintas pergerakan tanah yang melanda Desa Kertaangsana pada 2019.
Bencana tersebut menyebabkan 129 rumah mengalami kerusakan dan memaksa ratusan warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Setelah menunggu selama sekitar lima tahun, para penyintas akhirnya menempati kawasan hunian tetap Kampung Haji pada 2024.
Proses Pemulihan
Namun, ketersediaan rumah baru tidak otomatis memulihkan kehidupan sosial yang sempat terputus akibat bencana.
Karena itu, UI dan BNPB memandang bahwa proses pemulihan perlu dilakukan secara holistik, tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui penguatan hubungan sosial, ruang belajar bersama, dan kapasitas warga dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.
Pendampingan difokuskan pada upaya menata kembali rasa memiliki terhadap lingkungan baru, menghidupkan aktivitas kemasyarakatan, serta memperkuat solidaritas antarwarga.
Melalui tiga pokmas yang telah dipercaya masyarakat, program ini menyalurkan berbagai sarana pendukung seperti perlengkapan Posyandu dan pemantauan tumbuh kembang anak, perlengkapan masjid dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), pojok baca dan perangkat permainan edukatif, perlengkapan sekolah kebun, hingga sarana olahraga bagi pemuda.
Seluruh kelompok juga menerima perlengkapan kesiapsiagaan bencana, seperti alat pemadam api ringan (APAR), tas siaga bencana keluarga, paket P3K, tandu evakuasi, dan lampu darurat.
Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan.
Bagi anak-anak, hadirnya ruang bermain, pojok baca, dan kegiatan edukatif menjadi sarana membangun kembali rasa aman dan rutinitas belajar.
Bagi ibu dan keluarga, penguatan Posyandu membantu menjaga kesehatan serta gizi ibu dan anak.
Penggerak Komunitas
Sementara itu, bagi pemuda, berbagai sarana kegiatan olahraga menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan sekaligus membangun kapasitas sebagai penggerak komunitas saat terjadi keadaan darurat.
Salah satu keunggulan program ini adalah pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pemulihan.
Daftar kebutuhan tidak disusun secara sepihak, melainkan dihimpun melalui proses konsultasi dan musyawarah bersama warga.
Seluruh stimulan kemudian diserahkan sebagai aset bersama yang diharapkan dapat dimanfaatkan dan dirawat secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat.
Tidak berhenti pada pemberian stimulan, program yang dipimpin oleh Nazarudin, M.A. dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB UI) ini akan berlanjut dengan berbagai bimbingan teknis, mulai dari Masjid Tanggap Bencana, pemulasaran jenazah, pendampingan kesehatan ibu dan anak, pengelolaan pojok baca, hingga pelatihan penggunaan APAR dan langkah tanggap darurat.
Selanjutnya, warga juga akan difasilitasi menyusun komitmen keberlanjutan program untuk tiga tahun ke depan.
Rangkaian program ini telah berlangsung sejak bulan Juli dan diproyeksikan selesai pada Desember 2026 nanti.
Pendampingan sosial ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya diukur dari berdirinya kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga dari pulihnya kehidupan sosial, rasa aman, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.
Sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia, UI siap berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang mendukung masyarakat menjadi lebih tangguh, berdaya, dan berkelanjutan. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar