Puput Carolina tidak ingin berhenti sebagai DJ panggung. Lewat eksplorasi techno, psytrance, Indo Bounce hingga gamelan, ia ingin membangun karya yang tetap berakar pada Indonesia dan suatu hari membawanya ke panggung internasional.
RUZKA INDONESIA — Dari dapur ke balik turntable. Perjalanan Puput Carolina menekuni dunia disc jockey (DJ) kini memasuki babak baru. Setelah sebelumnya dikenal lewat dunia kuliner, ia akan memulai rangkaian tur di 10 kota Indonesia sambil membawa ambisi yang lebih jauh: membangun identitas sebagai DJ sekaligus memperkenalkan warna musik Indonesia ke panggung internasional.
Tur tersebut akan membawanya ke beberapa kota antara lain ke Bogor, Bandung, Palangkaraya, Makassar, Bali, Jakarta hingga Timika. Sejumlah kota lainnya masih menyesuaikan dengan jadwal Puput, mengingat pada Oktober 2026 mendatang ia juga dijadwalkan tampil di Makau, Tiongkok serta tampil dalam salah satu festival Halloween di Jakarta.
Bagi Puput, rangkaian perjalanan itu bukan semata-mata soal tampil di atas panggung. Ia ingin menggunakan setiap kota sebagai ruang untuk mengenali karakter penonton, kebudayaan, sekaligus kuliner daerah yang didatanginya.
“Ini satu keberuntungan menurut aku, aku bisa ikut tur ini karena sekalian mengunjungi kota-kota yang belum pernah aku kunjungi. Aku excited banget buat kulinernya, juga kebudayaannya. Jadi ini bekerja sekaligus liburan,” ujar Puput kepada RUZKA INDONESIA, (22/8/2026) usai tampil di Lufre Dining & Lounge, Jalan Suryo, Jakarta Selatan.
Di setiap kota, ia tidak ingin memainkan musik dengan formula yang sama. Menurut Puput, karakter dan selera penonton berbeda-beda sehingga seorang DJ harus mampu membaca situasi dan menyesuaikan musik dengan energi audiens.
Pandangan itu lahir bukan hanya dari persiapannya menghadapi tur, tetapi juga dari pengalaman di atas panggung. Puput pernah tampil di sebuah venue dengan genre musik yang telah dipersiapkan sebelumnya. Namun, respons penonton tidak sesuai harapan. Mereka tidak berjoget.
Alih-alih bertahan pada setlist, Puput mengubah arah musik agar lebih sesuai dengan energi penonton. Suasana kemudian berubah. Penonton mulai berjoget, bernyanyi bersama dan menikmati penampilannya.
“Di situlah aku mengatur strategi DJ dan musisi, aku enggak lihat itu sebagai hanya kita DJ atau musisi, tapi sebenarnya aku memosisikan diri itu sebagai performer. Kita itu sebagai yang membawakan acara,” kata Puput.
Bagi dia, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa DJ bukan sekadar orang yang memainkan musik sesuai daftar yang telah disiapkan. Seorang DJ juga harus mampu membaca situasi dan menemukan cara agar musik yang dibawakan terhubung dengan penonton.
“Jadi bukan hanya DJ atau kita sekadar, sudah ini setlist yang kita harus mainkan atau arahnya begini. Tapi gimana kalau enggak nyambung sama penonton kita? Itu sih tantangan beratnya,” ujarnya.
Cara pandang itu sejalan dengan upaya Puput membangun identitas baru di dunia musik. Sebelum menjalani tur di Indonesia, ia mendapat pengalaman di Belgia setelah menjadi bagian dari Tomorrowland Academy dan berkesempatan tampil di pop-up stage Tomorrowland yang digunakan untuk memperkenalkan Tomorrowland Thailand.
Pengalaman tersebut semakin mendorongnya untuk tidak berhenti sebagai performer. Puput mulai serius memikirkan produksi musik sendiri. Ia mengaku mengidolakan sejumlah DJ dunia seperti Dimitri Vegas, Above & Beyond, dan Armin van Buuren. Menurutnya, para DJ tersebut tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi juga aktif memproduksi musik.

Hal itulah yang kini ingin dilakukan Puput. Ia mengaku telah mencoba memproduksi lagu, meski masih dalam tahap belajar dan melakukan berbagai eksperimen.
“Salah satu target aku, aku akan nge-produce juga. Kemarin sudah sempat nge-produce, cuma masih trial and error. Sekarang sudah mulai semangat lagi nanti mau produce,” katanya.
Karakter musik yang dikembangkan Puput masih berada di sekitar techno, house dan psytrance. Namun, ia juga mengeksplorasi Tech Bounce dan Indo Bounce. Di tengah eksplorasi tersebut, ada satu hal yang ingin tetap dipertahankan: keterkaitan dengan Indonesia.
Ambisi itu mulai terlihat melalui lagu berjudul “Bali” yang menggunakan unsur gamelan. Bagi Puput, musik elektronik bukan berarti harus meninggalkan akar budaya. Justru instrumen tradisional Indonesia dapat menjadi warna yang membedakan karya yang ia buat.
“Aku pengen banget ngenalin instrumen dari Indonesia, instrumen musik tradisional Indonesia, yang sudah memang aku lakukan di lagu ‘Bali’ yang aku rilis. Itu dari gamelan,” katanya.
Gamelan bukan satu-satunya instrumen yang ingin dieksplorasi. Puput juga membuka kemungkinan menggunakan angklung dan instrumen tradisional lainnya dalam musik elektronik.
Ia menyadari proses menggabungkan instrumen tradisional dengan musik elektronik bukan perkara sederhana. Namun, tantangan tersebut justru membuatnya tertarik untuk terus bereksperimen.
“Dari gamelan, angklung, dan yang lain. Tapi yang lain ini masih aku explore. Dan itu luar biasa challenge, tapi ini sangat menarik banget,” ujarnya.
Lagu “Bali” memiliki arti tersendiri bagi Puput. Selain menjadi bagian dari eksplorasi musiknya, nama Bali menurut dia memiliki daya pengenalan yang kuat ketika berbicara tentang Indonesia di mata internasional. Gamelan kemudian menjadi bagian dari upayanya memperkenalkan identitas tersebut melalui musik.
“Bali itu yang akan jadi kebanggaan aku. Karena Bali itu sendiri adalah tempat yang paling dikenal dari Indonesia di mata internasional. Kemudian gamelannya sendiri itu adalah salah satu instrumen musik tradisional kita yang luar biasa, indah didengar,” ungkapnya.
Mimpi Puput tidak berhenti pada satu lagu. Ia ingin suatu hari membawa musik Indonesia ke panggung festival internasional, termasuk di Tomorrowland. Ia terinspirasi oleh musisi dan DJ Indonesia yang telah lebih dulu membawa musik Indonesia ke panggung festival tersebut.
Di sisi lain, Puput juga ingin mengubah pandangan terhadap profesi DJ. Ia tidak ingin dunia DJ selalu dilekatkan dengan kehidupan malam, alkohol dan hal-hal negatif.
“Yang pasti aku enggak pengen dikenal DJ itu selalu negatif, malam, pemabok, alkohol, rusak. Aku pengennya orang tahu musik itu bisa membuat satu perubahan dalam hidup keseharian,” ungkapnya.
Karena itu, ia tengah menyiapkan konsep musik yang dapat digunakan untuk menemani olahraga dan fitness. Puput berencana membuat musik DJ berdurasi sekitar 20 hingga 25 menit yang ditargetkan dirilis pada November 2026 mendatang.
Melalui musik tersebut, ia ingin mengajak masyarakat berolahraga sambil berjoget menggunakan karya yang dibuatnya sendiri.
Rangkaian tur 10 kota kemudian menjadi ruang bagi Puput untuk menguji gagasan-gagasan tersebut sekaligus memperluas pengalamannya. Ia ingin bertemu dengan penonton dari berbagai daerah karena setiap wilayah memiliki karakter dan energi yang berbeda.
“Yang aku cari itu pengalaman sudah pasti, untuk mengenal banyaknya karakter-karakter di setiap daerah pasti berbeda. Koneksi dengan penonton itu juga sudah pasti,” ujarnya.
Di luar panggung, kecintaannya terhadap kuliner tetap menjadi bagian dari perjalanan itu. Ia bahkan menantikan kesempatan mencicipi makanan lokal ketika berkunjung ke Makassar, Palangkaraya hingga Timika.
“Itu salah satu mimpi aku bisa sampai dari ujung barat sampai ke Papua. Itu sih yang aku tunggu-tunggu untuk bisa menyelesaikan rangkaian 10 kota di Indonesia,” kata Puput.
Bagi Puput, perjalanan dari dapur menuju panggung DJ bukan pilihan untuk meninggalkan salah satunya. Kuliner tetap menjadi bagian dari dirinya, sementara musik menjadi ruang baru untuk bereksperimen dan membangun karya.
Di tengah eksplorasi techno, psytrance dan Indo Bounce, ia ingin musik yang dibuatnya tetap memiliki hubungan dengan Indonesia—baik melalui instrumen tradisional maupun karakter musik yang sedang dikembangkannya.
“Yang pastinya aku pengen selalu relate ke Indonesia, dari instrumen musiknya mungkin, nanti ada bounce-nya, dari Indo Bounce-nya. Itu yang sedang aku pelajari terus dan pelajari terus. Tapi kalau bisa dibilang, karakter musik sekarang techno dengan psytrance,” pungkas Puput. (***)
Jurnalis: Fandi Ahamad Syah
Editor: Djoni Satria












