Galeri Kolom
Beranda ยป Berita ยป Mencintai Layla, Berkali-kali

Mencintai Layla, Berkali-kali

Foto ilustrasi Mencintai Layla, Berkali-kali. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

Penulis: Geisz Chalifah/Pengamat Sosial Politik

RUZKA INDONESIA — “Aku melewati rumah-rumah Layla. Kucium dinding yang ini, lalu kucium dinding yang itu. Bukan karena cinta kepada rumah-rumah itu yang menguasai hatiku, melainkan karena cinta kepada dia yang pernah tinggal di dalamnya.โ€

Ada ratusan, mungkin lebih dari seribu novel yang telah saya baca hingga halaman terakhir.

Namun, hanya satu novel yang membuat saya terus kembali membacanya berulang kali: Layla dan Majnun karya Nizami Ganjavi.

Novel ini berhasil menggeser kesan mendalam yang pernah ditinggalkan Wanita karya Paul L. Wellman.

Jaga Warisan Leluhur, H. Baya Dorong Nyiramkeun Pusaka Jadi Wisata Edukasi

Ia melampaui daya pikat Musashi yang berjilid-jilid, bahkan mengalahkan kisah-kisah getir tentang nasib perempuan di Pakistan, Afghanistan, dan negeri-negeri lain.

Begitu pula The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, maupun And the Mountains Echoed karya Khaled Hosseini. Semuanya pernah menggetarkan batin saya. Sebagian meninggalkan luka, sebagian meninggalkan haru.

Namun, tidak satu pun membuat saya kembali membuka halaman-halamannya dengan kerinduan yang sama seperti Layla dan Majnun.

Saya masih mengingat empat baris pembuka And the Mountains Echoed yang begitu lirih:

Kulihat peri kecil muram,
Di keteduhan pohon kertas.
Kumengenal peri kecil muram,
Yang tertiup angin suatu malam.

Catatan Cak AT: Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Saya juga masih mengingat bagaimana puisi-puisi cinta Nizar Qabbani mengajarkan bahwa kerinduan dapat tumbuh menjadi kesunyian, dan kesunyian dapat menjelma menjadi luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Akan tetapi, Layla dan Majnun meninggalkan sesuatu yang berbeda. Novel ini bukan sekadar menyisakan kalimat-kalimat indah di kepala saya, melainkan menghunjam jauh ke dalam batin. Ada kalimat-kalimat yang terus hidup, bahkan bertahun-tahun setelah halaman terakhir ditutup.

โ€œEngkau adalah mahkota untukku, tetapi menghiasi kepala orang lain.โ€

โ€œEngkau adalah surga untukku, tetapi aku tak menemukan kuncinya.โ€

โ€œHanya dalam kematian keduanya diizinkan untuk bersanding.โ€

Catatan Cak AT: Memetakan Lagu Tilawah Al-Qur’an

Barangkali, itulah sebabnya saya selalu kembali kepada novel ini. Bukan karena ingin mengetahui akhir kisahnya. Akhir itu telah lama saya hafal. Saya kembali karena setiap kali membacanya, saya menemukan luka yang baru. Dan anehnya, setiap luka itu selalu terasa seperti pertama kali.

Mungkin memang ada kisah yang selesai ketika halaman terakhir ditutup. Namun ada pula kisah yang baru benar-benar dimulai setelah buku itu disimpan di rak. Layla dan Majnun adalah salah satunya. Ia tidak tinggal di dalam buku, melainkan menetap di dalam hati pembacanya. Itulah sebabnya, bertahun-tahun kemudian, ketika membaca syair Qais:

โ€œAku melewati rumah-rumah Laylaโ€ฆโ€

kita tidak lagi sedang membaca kisah seorang lelaki di padang pasir. Kita sedang membaca kerinduan manusia yang paling purba: mencintai seseorang yang tak pernah benar-benar dapat dimiliki.

Barangkali, begitulah cara saya mencintai Layla: berkali-kali. (***)

Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan






Kolom