RUZKA INDONESIA — Nama KH Abbas Abdul Jamil kembali diperjuangkan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Ulama asal Buntet Pesantren, Cirebon, itu dinilai memiliki rekam jejak perjuangan yang kuat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dukungan terhadap pengusulan tersebut datang dari Pemerintah Kabupaten Majalengka. Bupati Majalengka, Drs. H. Eman Suherman menyatakan dukungan penuh saat menghadiri Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH Abbas Abdul Jamil di Aula MA Unggulan Amanatul Ummah 02 Leuwimunding, Ahad (09/08/2026).
Seminar tersebut dihadiri sejumlah ulama, tokoh masyarakat dan akademisi dari wilayah Ciayumajakuning. Hadir sebagai narasumber Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), Prof. Dr. Usep Abdul Matin, serta Ketua Umum Pergunu, Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, M.A.
- Bupati Eman sebut perjuangan KH Abbas bagian dari sejarah Jawa Barat
Bupati Eman mengatakan pengusulan KH Abbas Abdul Jamil bukan hanya soal memberikan penghargaan kepada seorang tokoh.
Menurutnya, perjuangan tersebut menjadi bagian dari upaya merawat sejarah sekaligus mengenalkan kembali kontribusi ulama dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
โAtas nama Pemerintah Kabupaten Majalengka, saya menyatakan dukungan dan komitmen penuh terhadap upaya pengusulan KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional. Perjuangan ini adalah perjuangan Jawa Barat dan menjadi kebanggaan kita bersama,โ ujar Eman.
KH Abbas dikenal sebagai pengasuh Buntet Pesantren Cirebon. Ia disebut berada di garis depan dalam menggerakkan laskar santri Jawa Barat setelah seruan Resolusi Jihad.
Perannya kemudian dikaitkan dengan rangkaian perjuangan menuju Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Selain perjuangan di medan perang, KH Abbas juga dikenal sebagai tokoh yang mendorong pembaruan pendidikan pesantren dengan memasukkan pengetahuan umum dalam sistem pendidikan.
Bukan untuk Dikenang
- Bukan mengejar gelar, perjuangan KH Abbas disebut untuk kemerdekaan
Ketua Umum Pergunu Prof. KH Asep Saifuddin Chalim menegaskan, perjuangan mengusulkan KH Abbas sebagai Pahlawan Nasional bukan berarti sang tokoh dahulu berjuang demi mendapatkan penghargaan.
KH Abbas merupakan sahabat seperjuangan KH Abdul Chalim, ayah dari Prof Asep yang telah lebih dahulu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
โKH Abbas dan KH Abdul Chalim adalah sahabat seperjuangan yang tidak mencari gelar. Keduanya berjuang untuk kemerdekaan, bukan untuk dikenang. Tapi sebagai generasi penerus, kita wajib menghormati jasa beliau,โ kata Asep.
Karena itu, proses pengusulan kini diperkuat melalui penelitian akademik dan penelusuran berbagai sumber sejarah.
Menurut Asep, tim telah mengumpulkan puluhan sumber primer yang dinilai dapat memperkuat rekam jejak perjuangan KH Abbas.
โInsya Allah, dengan lebih dari 67 sumber primer yang telah kami kumpulkan, tahun ini KH Abbas layak dan harus diakui sebagai Pahlawan Nasional,โ ujarnya.
Ia menilai pengakuan tersebut nantinya bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga besar Buntet Pesantren, tetapi juga masyarakat Cirebon, Majalengka dan Jawa Barat.
- KH Abbas disebut punya peran dalam menentukan serangan 10 November
Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Usep Abdul Matin, mengatakan penelitian mengenai KH Abbas telah dilakukan sejak 2024.
Usep bahkan kembali dipercaya menjadi Ketua TP2GP untuk periode 2026.
โIni yang ketiga kalinya saya sebagai ketua, dari 2024, 2025, dan 2026,โ katanya.
Pertempuran Surabaya.
Menurut Usep, salah satu bagian penting dari rekam jejak KH Abbas adalah keterlibatannya dalam rangkaian peristiwa menuju Pertempuran Surabaya.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia kembali menghadapi ancaman pasukan Sekutu dan Belanda.
Dalam kondisi tersebut, jaringan ulama dan santri ikut mengambil peran dalam mempertahankan kemerdekaan.
โAlmarhum KH Abbas memiliki peran dalam menentukan momentum serangan pada 10 November 1945,โ ujar Usep.
Ia menjelaskan, pada 6 November 1945, KH Abbas menggelar musyawarah bersama keluarga, para kiai dan santrinya untuk menentukan pemimpin ulama dan santri yang akan terlibat dalam perjuangan di Surabaya.
KH Abbas kemudian berangkat bersama putranya, KH Abdullah Abbas, dan para santri menuju Tebuireng, Jombang.
Dari rangkaian peristiwa tersebut, KH Abbas disebut memberikan arahan agar serangan dilakukan pada pagi hari 10 November 1945.
โKH Abbas mengatakan, besok subuh harus kita serang. Artinya besok subuh itu 10 November 1945,โ kata Usep.
- Ada puluhan sumber primer, termasuk dokumen kolonial Belanda
Tidak hanya menelusuri kiprah KH Abbas ketika revolusi kemerdekaan, TP2GP juga mencari bukti mengenai aktivitas perjuangannya sebelum Indonesia merdeka.
Sumber Sejarah
Usep menyebut salah satu kekuatan pengusulan KH Abbas terletak pada kelengkapan sumber sejarah yang berhasil dihimpun.
โPengusulan KH Abbas Abdul Jamil ini paling lengkap sumber primernya. Dari 95, 74-nya sumber primer dan 23-nya sumber sekunder,โ ujarnya.
Salah satu sumber yang dikaji berasal dari dokumen dan laporan pemerintahan kolonial Belanda.
Menariknya, sejumlah dokumen tersebut justru menggambarkan KH Abbas sebagai tokoh yang dianggap berbahaya bagi kepentingan pemerintah Hindia Belanda.
Aktivitas KH Abbas sebagai pemimpin Tarekat Tijaniyah menjadi salah satu bagian yang ditelusuri.
Menurut Usep, catatan tersebut memperlihatkan bahwa jaringan keagamaan dan pesantren yang dipimpin KH Abbas dipandang pemerintah kolonial sebagai kekuatan yang berpotensi melahirkan perlawanan.
โKalau musuh yang mengatakan, kan kuat. Berbeda kalau yang di dalam,โ katanya.
- Perjuangan KH Abbas dibangun lewat jaringan pesantren dan NU
Jejak perjuangan KH Abbas juga tidak terlepas dari jaringan pesantren, ulama dan Nahdlatul Ulama.
Menurut Usep, jaringan tersebut menjadi salah satu sarana untuk membangun kader sekaligus mempertahankan semangat perjuangan di tengah masyarakat.
Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, KH Abbas tercatat pernah berada dalam sejumlah lembaga yang dibentuk pemerintah pendudukan. Namun, posisi tersebut dinilai perlu dilihat berdasarkan konteks perjuangan pada masa itu.
Di sisi lain, KH Abbas juga terhubung dengan jaringan perjuangan bersenjata, termasuk Hizbullah dan Sabilillah.
Ia juga disebut memiliki keterlibatan dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai bagian dari jaringan ulama Jawa Barat.
โJadi sampai akhir hayatnya terus menggunakan jaringan NU, jaringan pesantren, kesejawatan dengan teman-temannya, kiai dan santri untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan,โ ujar Usep.
- KH Abbas wafat pada 1947
KH Abbas Abdul Jamil lahir pada 1883 dan wafat pada 1947. Ia merupakan salah satu ulama penting dari lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon.
Namanya kemudian dikenal dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terutama dalam rangkaian Pertempuran Surabaya pada November 1945.
Kiprahnya tidak hanya berkaitan dengan perjuangan bersenjata. KH Abbas juga meninggalkan jejak dalam pendidikan pesantren, kaderisasi santri serta pembangunan jaringan ulama dan masyarakat.
Salah satu bagian yang turut dikaji adalah keberadaan Laskar Asybal yang melibatkan anak-anak dan remaja dalam jaringan perjuangan pada masa revolusi.
Kini, berbagai jejak tersebut kembali ditelusuri dan dirangkai melalui penelitian akademik sebagai bagian dari proses pengusulan KH Abbas Abdul Jamil untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
Pengusulan tersebut sebelumnya juga telah menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan organisasi keagamaan, sebagai upaya merawat spirit perjuangan KH Abbas bagi generasi berikutnya. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com











Komentar