RUZKA INDONESIA — Pernyataan Presiden RI, Prabowo Subianto mengenai urgensi ketahanan energi dalam KTT BIMP-EAGA di Cebu, Filipina, pada 7 Mei lalu menjadi sinyal serius bagi ketahanan ekonomi keluarga di wilayah penyangga perkotaan.
Ketidakstabilan global yang mendorong kenaikan harga energi dapat berdampak langsung pada meningkatnya biaya distribusi pangan dan kebutuhan pokok.
Tentu pada akhirnya menekan daya beli masyarakat di kawasan padat penduduk dan kelompok ekonomi rentan.
Masyarakat wilayah penyangga Jakarta, seperti RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Jabar, Kota Depok, menjadi salah satu kelompok yang mulai mengantisipasi dampak tersebut.
Pada kawasan padat penduduk ini, ancaman kenaikan harga pangan menjadi beban ganda bagi keluarga pensiunan.
Beban para pensiunan yakni telah kehilangan 30โ50 persen pendapatan mereka.
Menghadapi keterbatasan lahan dan penurunan daya beli tersebut, Universitas Pertamina (UPER) menginisiasi langkah preventif dengan memanfaatkan Posyandu sebagai pusat edukasi ketahanan pangan keluarga.
Garda Terdepan Keluarga
Posyandu adalah simpul sosial yang sangat kuat karena berada di garda terdepan keluarga.
Melalui wadah ini, kita mentransformasikan pesan Presiden mengenai ketahanan pangan menjadi aksi nyata.
“Kami membina warga agar mampu memproduksi pangan sendiri, sehingga dapur mereka tetap aman meskipun terjadi guncangan harga di pasar global,” Ketua Tim PkM Universitas Pertamina (UPER), Evi Sofia, dalam keterangannya, Ahad (17/05/2026).
Perkenalan salah satu inovasi utama adalah sistem Budikdamber atau Budidaya Ikan dalam Ember yang terintegrasi dengan hidroponik.
Melalui model ini, warga bisa memanen protein ikan sekaligus sayuran secara bersamaan hanya dengan memanfaatkan teras rumah yang sempit.
Model ini sangat efisien karena menerapkan sistem resirkulasi nutrisi alami.
Dalam sistem tersebut, olah limbah ikan secara mandiri menjadi pupuk bagi tanaman.
Sehingga warga dapat meminimalisir penggunaan air serta biaya perawatan namun tetap memperoleh hasil panen yang maksimal.
Peserta program ini dominan oleh warga RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya.
Mereka antusias mengubah lahan sempit menjadi unit produksi pangan mandiri.
Pensiunan Rentan
Program yang telah dilaksanakan sejak akhir tahun 2025 ini menjadi bantalan ekonomi bagi masyarakat, terutama kelompok pensiunan yang rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.
Saat ini tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, kemandirian pangan adalah pertahanan terbaik.
“Dengan modal yang sangat terjangkau, satu keluarga dapat menekan pengeluaran belanja pangan bulanan secara signifikan, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga meskipun harga energi melonjak,” jelas Evi.
Manfaat nyata dari kemandirian pangan ini terasakan langsung oleh warga di tingkat akar rumput.
Ketua RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Endang Sungkono, menambahkan bahwa warga di wilayahnya kini memiliki aktivitas produktif yang memberikan dampak instan bagi konsumsi harian keluarga.
“Dengan hadirnya inovasi Budikdamber ini, warga kami, khususnya para pensiunan, menjadi lebih berdaya. Selain membantu ekonomi, kegiatan ini juga memberikan semangat baru bagi warga untuk tetap produktif meski di lahan terbatas,” beber Endang.
Peran Akademis
Pjs Rektor UPER, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan pentingnya peran akademisi dalam mentransformasikan isu global menjadi solusi nyata.
Inisiatif ini sekaligus menjadi langkah konkret universitas dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan poin ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Uper berkomitmen menghadirkan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Masalah ketahanan energi dan pangan yang tergaungkan Presiden memerlukan respons akademis yang aplikatif.
“Melalui penguatan ekonomi keluarga berbasis komunitas seperti ini, kita sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kokoh dari tingkat yang paling dasar,โ pungkas Prof. Djoko. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar