RUZKA INDONESIA — Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (18/06/2026) sore melemah 32 poin atau 0,18 persen, menjadi Rp17.794 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.762 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
“Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global mendorong permintaan terhadap aset safe haven, sehingga membatasi potensi penguatan rupiah,” katanya.
Sentimen lainnya berasal dari penguatan dolar AS yang masih menjadi faktor yang membebani pergerakan mata uang negara berkembang.
Sikap Federal Reserve yang belum memberikan sinyal kuat terkait penurunan suku bunga membuat investor tetap menempatkan dana pada aset berbasis dolar.
Melihat sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026.
Suku bunga deposit facility juga naik 25 bps menjadi 4,75 persen dan suku bunga lending facility naik 25 bps menjadi 6,50 persen.
Stabilitas Nilai Tukar
Menurut dia, bank sentral sebenarnya memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan saat ini sambil mengevaluasi efektivitas langkah tersebut terhadap stabilitas nilai tukar dan aktivitas ekonomi.
Selain itu, laju inflasi tahunan yang tercatat 3,08 persen pada Mei masih dinilai cukup terkendali sehingga belum menimbulkan urgensi bagi BI untuk kembali memperketat kebijakan moneter.
Kendati begitu, bank sentral memutuskan untuk menaikkan suku bunga di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5ยฑ1 persen yang ditetapkan pemerintah.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.826 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.753 per dolar AS. (***)
Editor: Amiruddin






Komentar