RUZKA INDONESIA โ Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan gini ratio secara berfluktuasi sepanjang Maret 2020 hingga Maret 2026, dengan kecenderungan menurun secara umum. Gini Ratio adalah alat ukur statistik untuk melihat tingkat ketimpangan distribusi pendapatan atau pengeluaran konsumsi penduduk di suatu wilayah.
BPS menyebut dari angka 0,381 pada Maret 2020, gini ratio naik tipis ke *0,385 pada September 2020, kemudian bergerak naik-turun hingga menyentuh titik tertingginya 0,388 pada Maret 2023.
Setelah itu tren berubah ke arah penurunan. Gini ratio turun ke 0,379 pada Maret 2024, sempat naik ke 0,381 pada September 2024, lalu kembali turun. Pada Maret 2026, angkanya tercatat 0,368. Angka ini naik 0,005 poin dibanding September 2025 yang sebesar 0,363, namun turun 0,007 poin dibanding Maret 2025 yang sebesar 0,375.
Perkotaan Naik, Perdesaan Juga Naik Tipis
Jika dilihat berdasarkan daerah:
- Perkotaan Maret 2026: 0,387.Naik 0,004 poin dibanding September 2025 (0,383), dan turun *0,008 poin dibanding Maret 2025 (0,395).
- Perdesaan Maret 2026: 0,296. Naik 0,001 poin dibanding September 2025 (0,295), dan turun 0,003 poin dibanding Maret 2025 (0,299).
Ukuran Bank Dunia: 40% Terbawah Pegang 19,22% Pengeluaran
Selain gini ratio, BPS juga menggunakan ukuran Bank Dunia yaitu persentase pengeluaran kelompok 40% terbawah.
Pada Maret 2026, angkanya 19,22%. Turun 0,06 poin dibanding September 2025 (19,28%), dan naik 0,57 poin dibanding Maret 2025 (18,65%).
Rinciannya:
- Perkotaan: 18,31%. Turun 0,01 poin dari September 2025 (18,32%), naik 0,67 poin dari Maret 2025 (17,64%).
- Perdesaan: 22,24%. Naik 0,15 poin dari September 2025 (22,09%), naik 0,49 poin dari Maret 2025 (21,75%).
DKI Jakarta Tertinggi, Bangka Belitung Terendah
Pada Maret 2026, provinsi dengan gini ratio tertinggi adalah DKI Jakarta 0,435. Sementara terendah di Kepulauan Bangka Belitung 0,214.
Dibanding gini ratio nasional 0,368, terdapat 7 provinsi dengan angka lebih tinggi:
DKI Jakarta (0,435), Jawa Barat (0,413), DI Yogyakarta (0,411), Papua Selatan (0,405), Papua (0,398), Gorontalo (0,384), dan Papua Barat (0,384). ***
Editor: Yoyok BP
Email: yoyokbp@gmail.com







Komentar