Ekonomi
Beranda ยป Berita ยป Dokumenter Baru Ungkap Dampak Ekspansi Bioenergi Asia terhadap Hutan dan Masyarakat

Dokumenter Baru Ungkap Dampak Ekspansi Bioenergi Asia terhadap Hutan dan Masyarakat

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit di Indonesia. (Foto: Dok Sawit Indonesia)

RUZKA INDONESIA โ€“ Film dokumenter baru yang mengungkap dampak lingkungan dan sosial dari meningkatnya permintaan biofuel di Asia ditayangkan perdana hari ini dalam rangkaian Bangkok Climate Action Week, Rabu (7/10/2026). Tayangan ini menyoroti dampak tersembunyi terhadap hutan dari transisi energi di kawasan.

Dokumenter yang diproduksi oleh Solutions for Our Climate (SFOC) tersebut menelusuri ekspansi biofuel, mulai dari perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga meningkatnya permintaan biofuel di Korea Selatan. Film ini ditayangkan bersama dokumenter produksi Global Environment Forum (GEF) yang berbasis di Jepang, yang mengangkat ekspansi biomassa hutan dan perkebunan energi di Indonesia.

Bersama-sama, kedua film menunjukkan bagaimana meningkatnya permintaan bioenergi dari negara-negara konsumen utama seperti Korea Selatan dan Jepang semakin berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan dan tekanan terhadap lingkungan di Asia Tenggara.

Pemutaran kedua film dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan perwakilan Trend Asia / Koalisi Transisi Bersih, SFOC, dan GEF. Diskusi membahas dampak ekspansi bioenergi di negara produsen maupun konsumen, serta transisi energi yang berkelanjutan dan berkeadilan.

“Sungguh memilukan melihat kerusakan yang terjadi di sekitar tempat tinggal saya. Ketika hutan digantikan oleh perkebunan monokultur, masyarakat kehilangan begitu banyak hal yang disediakan oleh hutan, mulai dari keanekaragaman hayati dan sumber penghidupan hingga berbagai fungsi yang menopang kehidupan mereka,” ujar Marihel Parda Winda, Forest and Land Use Program Officer di SFOC sekaligus tokoh utama dalam film dokumenter tersebut.

Buka Investasi Berkelanjutan di Indonesia, PLN dan The Climate Group Teken MoU Kembangkan Produk Energi Hijau

Film ini dibangun berdasarkan riset SFOC mengenai rantai pasok biodiesel berbasis kelapa sawit antara Indonesia dan Korea Selatan. Laporan berjudul Behind Korea’s Biofuels: Sustainability Risks in Indonesiaโ€“Korea Palm Oil Supply Chains menemukan bahwa minyak sawit dan turunannya menyumbang 72% bahan baku biodiesel Korea Selatan pada 2024, atau empat kali lipat dibandingkan ketika kebijakan pencampuran biodiesel mulai diterapkan pada 2015. Sebagian besar bahan baku tersebut berasal dari Indonesia.

Riset tersebut juga menemukan bahwa lebih dari 90% volume ekspor yang diteliti dan ditujukan ke Korea Selatan terkait dengan kasus-kasus terdokumentasi mengenai degradasi ekosistem, konflik hak atas tanah, atau kegagalan tata kelola di Indonesia.

“Permintaan yang datang dari negara dan pemerintah lain turut mendorong kerusakan ini, dan kita perlu bertanya mengapa hal ini terus terjadi. Transisi energi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan hutan dan sumber penghidupan masyarakat,” tambah Marihel.

Amalya Oktaviani, Program Manager di Trend Asia dan anggota Koalisi Transisi Bersih, mengatakan bahwa di Indonesia, kelapa sawit serta industri pulp dan kertas masih menjadi pendorong utama deforestasi. Kini, terdapat tekanan tambahan akibat meningkatnya permintaan bioenergi.

“Ketika transisi energi terus bergantung pada perkebunan skala besar untuk suplai feedstock bioenergi, kita menciptakan solusi semu, sesuatu yang dipromosikan sebagai energi terbarukan, tetapi pada saat yang sama menyebabkan hilangnya hutan dan tetap meletakkan beban eksternalitas pada masyarakat,” ujar Amalya.

Kemenperin Rancang Aksi Strategis Jadikan Rumput Laut RI Pemimpin Global

“Kita perlu beralih dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi restoratif. Manfaat dan insentif dari pengembangan biodiesel sebagian besar dinikmati oleh korporasi besar, sementara petani kecil dan masyarakat sering kali menanggung biaya lingkungan dan sosialnya. Masyarakat perlu diperkuat agar dapat memahami dan mempertahankan apa yang terjadi terhadap hutan mereka, sekaligus membangun alternatif ekonomi yang memulihkan, bukan menghancurkan, ekosistem,” pungkasnya. ***

Editor Yoyok BP
Email: yoyokbp@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom