RUZKA INDONESIA — Di tengah lanskap perdagangan global yang dinamis, Indonesia perlu mengintegrasikan strategi perdagangan internasional dan investasi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Integrasi tersebut dinilai penting agar aktivitas perdagangan tidak hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri domestik, penciptaan lapangan kerja, serta transformasi ekonomi yang berkelanjutan.
Pandangan tersebut disampaikan pakar ekonomi Universitas Indonesia (UI) yang sekaligus Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI), Kiki Verico, Ph.D., dalam gelar wicara (talkshow) bertajuk โMenavigasi Tatanan Perdagangan Global Baru: Strategi Indonesia untuk Memperluas Akses Pasar dan Memperkuat Rantai Pasok Globalโ yang menjadi bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang, Banten.
Menurut Kiki, perubahan tatanan perdagangan global menuntut Indonesia menyesuaikan strategi ekonominya.
โPerdagangan internasional tidak lagi dapat dipandang semata sebagai aktivitas ekspor dan impor, tetapi harus diintegrasikan dengan investasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan produk, penguatan industri, dan pengembangan aktivitas ekonomi domestik, yang harapannya dapat memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang,โ paparnya.
Kualitas Kebijakan Ekonomi
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kualitas kebijakan ekonomi turut ditentukan oleh kualitas institusi, termasuk aspek hukum dan regulasi.
Dari perspektif makroekonomi, salah satu indikator penting yang dapat digunakan adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yaitu perbandingan antara investasi yang ditanamkan dengan output yang dihasilkan.
Menurutnya, Indonesia perlu menjaga ICOR pada kisaran lima hingga enam persen guna memastikan investasi mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang optimal.
Sebagai contoh, Kiki menyoroti industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang hingga semester I tahun 2026 telah menyerap sekitar 3,8 juta tenaga kerja dan mencatat nilai ekspor sebesar USD4,85 miliar.
Menurutnya, sektor dengan daya serap tenaga kerja tinggi perlu terus diperkuat karena tidak hanya berkontribusi terhadap ekspor, tetapi juga menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi pendukung di sekitarnya.
โKetika sebuah industri berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri itu sendiri, tetapi juga oleh berbagai sektor penunjang, mulai dari usaha indekos, toko kebutuhan sehari-hari, hingga layanan transportasi,โ jelasnya.
Sektor Bergantung pada Impor
Ia juga menekankan pentingnya mengarahkan investasi pada sektor-sektor yang selama ini masih bergantung pada impor. Komoditas seperti produk daging maupun kedelai, misalnya, dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar apabila didukung investasi pada rantai produksi dan pengolahannya di Indonesia.
Selain itu, pemerintah perlu terus mendorong perusahaan nasional memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh negara mitra maupun pasar tujuan ekspor agar daya saing produk Indonesia semakin meningkat di pasar global.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI, Johni Martha, mengatakan bahwa strategi perluasan pasar ekspor Indonesia tidak hanya berfokus pada pembukaan pasar baru, tetapi juga mempertahankan akses pada pasar yang telah terjalin selama ini.
Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah terus memperkuat landasan hukum perdagangan melalui berbagai perjanjian internasional.
Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian perdagangan internasional, dua perjanjian dalam proses ratifikasi, serta 13 perundingan yang masih berlangsung di berbagai kawasan dunia.
Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan dari lintas sektor. Wakil Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Nidya Kartikasari, menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha dalam memperluas akses pasar internasional.
Perluasan Akses Pasar
Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anne Patricia Sutanto, menekankan bahwa perluasan akses pasar perlu diiringi peningkatan daya saing industri nasional.
Sementara itu, Managing Director FedEx Indonesia, Ida Ayu Eka Restini, menegaskan pentingnya konektivitas logistik dan efisiensi rantai pasok untuk mendukung ekspansi ekspor Indonesia.
Keterlibatan pakar UI dalam forum strategis TEI mencerminkan komitmen UI untuk menghadirkan kontribusi berbasis keilmuan dalam menjawab berbagai tantangan ekonomi nasional dan global.
Melalui riset, kajian kebijakan, serta partisipasi aktif dalam ruang-ruang dialog strategis, UI terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang berkontribusi pada perumusan kebijakan publik sekaligus mendukung peningkatan daya saing bangsa di tingkat global. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar