RUZKA INDONESIA — Jaga martabat manusia seyogianya berlangsung holistik sejak ia dilahirkan ke dunia dan tidak pula berhenti ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Justru di penghujung kehidupan, perhatian terhadap kesehatan dan kemandirian menjadi semakin penting agar setiap orang dapat menjalani hari-harinya dengan aman, sehat, dan bermakna.
Ikhtiar tersebut digulirkan dengan hadirnya edukasi pengelolaan obat bagi para penghuni Roemah Oma di Cilodong, Kota Depok, yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) sebagai bagian dari upaya mendukung kualitas hidup lansia.
Obat telah menjadi bagian keseharian dari banyak lansia. Hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan berbagai kondisi kesehatan lainnya membuat mereka perlu mengonsumsi obat secara rutin.
Namun, penggunaan obat yang aman tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan minum obat, melainkan juga pemahaman mengenai fungsi obat, aturan pakai, cara penyimpanan, hingga pengenalan efek samping yang mungkin timbul.
Kurangnya pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut dapat meningkatkan risiko kesalahan penggunaan obat yang pada akhirnya memengaruhi kualitas kesehatan lansia.
Konsumsi Beberapa Jenis Obat
Tantangan menjadi semakin besar ketika seorang lansia harus mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus untuk menangani kondisi kesehatan yang berbeda.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, FFUI menghadirkan program SOBAT Lansia (Gerakan Pengelolaan Obat Aman dan Tepat pada Lansia) di Roemah Oma.
Program ini dirancang untuk meningkatkan literasi kesehatan lansia dan para caregiver atau pendamping lansia agar mampu mengelola pengobatan sehari-hari secara lebih aman dan tepat.
Salah satu materi utama yang diberikan adalah DAGUSIBU, singkatan dari mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan baik dan benar.
Melalui pendekatan yang praktis dan mudah dipahami, para peserta diperkenalkan pada pentingnya memperoleh obat dari sumber yang terpercaya, menggunakan obat sesuai petunjuk, menyimpannya dengan benar, serta membuang obat yang sudah tidak digunakan secara aman.
Dosen FFUI, Dr. apt. Santi Purna Sari, M.Si., menjelaskan bahwa pemahaman soal DAGUSIBU penting guna mengurangi risiko kesalahan pemakaian obat.
โDAGUSIBU menjadi dasar penting dalam pengelolaan obat, mulai dari mendapatkan, menggunakan, menyimpan, hingga membuang obat dengan benar. Lansia perlu memahami hal-hal tersebut agar penggunaan obat sehari-hari lebih aman dan risiko kesalahan dapat diminimalkan,โ jelas Dr. Santi dalam siaran pers yang diterima, Selasa (27/10/2026).
Mengenal Fungsi Obat
Selain memahami cara mengelola obat, para lansia juga diajak untuk lebih mengenal fungsi obat yang mereka konsumsi, memahami aturan pakainya, dan menyadari kemungkinan efek samping yang ditimbulkan.
Edukasi ini penting mengingat banyak lansia yang menjalani terapi menggunakan beberapa obat dalam waktu yang bersamaan.
Dosen dan peneliti FFUI lainnya, apt. Nadia Farhanah Syafhan, M.Si., Ph.D., mengingatkan bahwa perubahan dosis maupun penghentian pengobatan tanpa konsultasi tenaga kesehatan dapat menimbulkan risiko yang tidak kecil bagi pasien.
โLansia kerap menggunakan beberapa obat untuk menangani penyakit yang berbeda. Karena itu, penting untuk memahami fungsi, aturan pakai, dan efek samping obat serta tidak mengubah atau menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,โ ungkap Dr. Nadia.
Manfaat edukasi tersebut turut dirasakan oleh para penghuni dan pendamping lansia di Roemah Oma.
Oma Syam, selaku perwakilan Roemah Oma, menyampaikan bahwa sebagian besar lansia yang tinggal di sana merupakan pengguna obat rutin sehingga pemahaman mengenai pengelolaan obat yang benar menjadi kebutuhan yang esensial.
โDengan adanya edukasi ini, kami berharap para lansia dapat semakin memahami cara menggunakan dan menyimpan obat dengan benar,โ ujar Oma Syam, mengapresiasi.
Edukasi Kesehatan
Selain edukasi, para peserta juga mengikuti pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol.
Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi lansia untuk memantau kondisi kesehatannya sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan penyakit kronis secara berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Dr. apt. Retnosari Andrajati, M.S., yang mewakili Klaster Riset Clinical Pharmacy and Pharmacy Practice (CLARITI), menyampaikan bahwa edukasi penggunaan obat yang tepat sangat penting dalam mendukung kesehatan dan kemandirian lansia.
“Saya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman lansia dan caregiver dalam mengelola obat secara aman dan tepat dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.
Program SOBAT Lansia yang diketuai oleh apt. Larasati Arrum Kusumawardani, M.Si. dan didukung Hibah Pengabdian Masyarakat Dosen Skema Kompetitif Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS UI) menjadi bagian dari upaya UI, khususnya Fakultas Farmasi dalam mendekatkan ilmu pengetahuan kepada kebutuhan masyarakat.
Sebagaimana jargon program ini, โCerdas Obatnya, Sehat Lansianyaโ, UI berupaya memastikan bahwa para lansia tidak hanya hidup lebih lama, tetapi juga tetap sehat, mandiri, dan bermartabat dalam menjalani masa tuanya. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com/HP: 0818701344



Komentar