RUZKA INDONESIA — Sampah organik rumah tangga masih berpotensi dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna, salah satunya melalui budidaya maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF).
Untuk memperkenalkan metode tersebut kepada masyarakat, Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di RW 17, Kelurahan Tugu, Kota Depok.
Kegiatan ini memperkenalkan pemanfaatan maggot untuk mengolah sampah organik menjadi biomassa larva yang berpotensi digunakan sebagai bahan pakan ternak serta kasgot.
Bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik setelah melalui pengolahan yang sesuai.
Kegiatan bertajuk โBudidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai Solusi Pengolahan Limbah dan Produksi Pupuk Organik Kasgot Bernilai Ekonomiโ dilaksanakan pada Sabtu, 26 September 2026.
Pengelolaan Sampah
Dipimpin oleh Fadhillah, S.Si., M.Agri., Ph.D., kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan Departemen Biologi FMIPA UI serta didukung melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat FMIPA UI.
Sekitar 20 warga dari sejumlah RT di RW 17, termasuk Ketua RW 17, drg. Novarita, mengikuti kegiatan tersebut.
Di lingkungan ini, pemilahan sampah dan keberadaan bank sampah telah menjadi bagian dari upaya pengelolaan sampah.
Namun, sampah organik yang telah dipisahkan masih dapat diolah lebih lanjut agar tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah.
Salah satu alternatifnya adalah budidaya maggot BSF, yang memanfaatkan larva lalat Hermetia illucens untuk mengonsumsi bahan organik yang sesuai.
Prinsip 3R
Dalam sesi materi dan diskusi, dosen Departemen Biologi FMIPA UI, Dr. rer. nat. Yasman, M.Sc., dan Dr. Dian Hendrayanti, membahas pengelolaan sampah rumah tangga melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) serta pemanfaatan proses biologis untuk mengolah sampah organik.
Materi tersebut memberikan gambaran mengenai sejumlah metode yang dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik sampah dan kondisi lingkungan, termasuk pengomposan, budidaya maggot, dan penggunaan biodigester.
Ketua tim pengabdian kepada masyarakat, Fadhillah, menjelaskan bahwa sampah organik yang dihasilkan sehari-hari masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.
Selain diolah menjadi kompos, sebagian sisa makanan yang sesuai dapat digunakan sebagai pakan maggot BSF. Sementara itu, biodigester memungkinkan pengolahan bahan organik untuk menghasilkan biogas.
โSampah organik yang kita hasilkan sehari-hari sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Selain diolah menjadi kompos, sisa makanan juga dapat digunakan sebagai pakan maggot BSF, sementara melalui biodigester, sampah organik berpotensi menghasilkan biogas. Jadi, ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengolah sampah agar lebih bermanfaat, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat,โ jelas Fadhillah dalam siaran pers yang diterima, Rabu (28/10/2026).
Pendekatan Pengolahan Sampah Organik dalam Kerangka Ekonomi Sirkular
Guru Besar Departemen Biologi FMIPA UI, Prof. Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria, M.Sc., kemudian memaparkan budidaya maggot BSF sebagai salah satu pendekatan pengolahan sampah organik dalam kerangka ekonomi sirkular.
Melalui proses budidaya yang dikelola dengan baik, larva dapat mengonsumsi bahan organik yang sesuai dan mengubahnya menjadi biomassa.
Biomassa tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, termasuk unggas, karena kandungan protein dan lemaknya.
Selain biomassa larva, budidaya maggot BSF menghasilkan kasgot, yaitu residu dari media pemeliharaan larva. Setelah melalui pengolahan dan pematangan yang sesuai, kasgot berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Dengan demikian, budidaya maggot BSF membuka peluang pemanfaatan sampah organik menjadi dua produk berbeda, yaitu biomassa larva dan kasgot.
Menghasilkan Biogas
Selain budidaya maggot, warga juga diperkenalkan pada biodigester, yakni teknologi yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen atau anaerob untuk menguraikan bahan organik dan menghasilkan biogas.
Dalam penerapannya, bahan organik yang telah dipilah dapat dicacah dan dicampurkan dengan bahan masukan lain, seperti kotoran sapi, sesuai dengan kebutuhan sistem.
Biogas yang dihasilkan berpotensi digunakan sebagai sumber energi alternatif, sedangkan residu biodigester perlu dikelola sesuai karakteristiknya sebelum dimanfaatkan lebih lanjut.
Untuk memberikan gambaran penerapan metode tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah maggot dan biodigester.
Warga berkesempatan melihat langsung fasilitas pengolahan sampah organik sekaligus mendiskusikan jenis bahan yang sesuai untuk budidaya maggot dan pengoperasian biodigester.
Permainan Edukatif
Kegiatan juga dilengkapi permainan edukatif dan demonstrasi pengomposan yang dipandu oleh Sitaresmi, M.Sc., dosen Departemen Biologi FMIPA UI.
Melalui kegiatan ini, warga memperoleh gambaran mengenai berbagai alternatif pengolahan sampah organik yang dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing.
Penerapannya tetap memerlukan pemilahan bahan baku, pengelolaan yang tepat, serta perhatian terhadap kebersihan dan keamanan proses.
UI berharap pengenalan berbagai metode tersebut dapat mendorong pemanfaatan sampah organik secara lebih optimal sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di Kota Depok. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar