RUZKA INDONESIA โ Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda mendorong industri perbankan memasuki fase baru pengelolaan risiko. Di tengah suku bunga tinggi, tensi geopolitik, disrupsi Artificial Intelligence (AI), serta lonjakan kejahatan siber, bank dituntut membangun ketahanan bisnis yang jauh lebih adaptif.
Di Indonesia, tantangan itu berbarengan dengan implementasi UU P2SK yang membuka peluang bisnis baru lewat bullion banking atau layanan bank emas. Inovasi ini diproyeksikan memperluas sumber pendapatan, namun juga menambah kompleksitas risiko operasional, kepatuhan, likuiditas, teknologi, hingga reputasi.
Kondisi tersebut menjadi latar belakang The Jakarta Risk Management Convention (JRMC) 2026 yang digelar LSP Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR) dengan tema: โStrategi Ketahanan Finansial 2026: Risk Management, Bullion Banking, Transformasi AI, dan Cyber Resilience.โ
JRMC 2026 memasuki penyelenggaraan kedelapan dan berlangsung pada 10 Agustus 2026 di Hotel Sheraton Gandaria City Jakarta.
Acara menghadirkan narasumber dari Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, pimpinan bank nasional, industri pembiayaan, BSSN, hingga Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.
Peserta terdiri dari regulator, pimpinan industri jasa keuangan, praktisi manajemen risiko, aparat penegak hukum, akademisi, asesor BSMR, hingga pengambil keputusan sektor keuangan. Tujuannya membahas strategi menghadapi lanskap risiko yang semakin kompleks.
Direktur BSMR, Prof. Dr. Ir. Gandung Troy Sulistyantoro, SH, M.Si., CRM., mengatakan industri perbankan menghadapi perubahan terbesar dalam 2 dekade terakhir.
โPerbankan Indonesia harus mampu bertransformasi dari sekadar mengelola risiko menjadi organisasi yang membangun ketahanan (resilience). Artificial Intelligence, digitalisasi layanan keuangan, bullion banking, dan meningkatnya ancaman siber menuntut lahirnya bankir yang memiliki kompetensi baru. Karena itu, investasi terbaik industri keuangan hari ini bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memahami manajemen risiko secara komprehensif,โ ujar Gandung.
Menurutnya, AI akan jadi mesin pertumbuhan baru lewat otomasi, percepatan analisis kredit, deteksi fraud, dan personalisasi layanan. Namun AI juga memunculkan risiko baru: bias algoritma, kebocoran data, penyalahgunaan identitas digital, hingga serangan deepfake.
Sementara itu, sektor jasa keuangan tetap jadi target utama serangan siber. Modus kini berkembang dari ransomware ke social engineering berbasis AI, pencurian identitas digital, hingga eksploitasi rantai pasok IT. Ini membuat cyber resilience menjadi bagian integral strategi bisnis.
Tekanan geopolitik juga menambah volatilitas: fluktuasi nilai tukar, arus modal, dan harga komoditas yang memengaruhi kualitas aset, likuiditas, dan permintaan pembiayaan.
Sertifikasi dan Inaugurasi CRM
JRMC 2026 juga dirangkaikan dengan Program Pemeliharaan Sertifikasi Manajemen Risiko BSMR yang wajib diikuti pemegang sertifikat.
Secara bersamaan digelar Inaugurasi Gelar Certified Risk Management (CRM) bagi profesional lulusan jenjang 4, 5, 6 dan 7. Inaugurasi ketiga ini melantik 44 penerima. Sebelumnya dilaksanakan di Batam 18 Juni 2025 (30 penerima) dan Jakarta 2 September 2025 (67 penerima).
Tahun ini juga bertepatan 21 tahun BSMR. Sejak 8 Agustus 2005, BSMR telah sertifikasi lebih dari 100.000 profesional manajemen risiko untuk penguatan tata kelola dan stabilitas industri keuangan.
Bulan September 2026, BSMR juga akan luncurkan sertifikasi manajemen risiko microbanking untuk jenjang Account Officer, Manager, dan Senior Manager.
โMasa depan perbankan tidak hanya ditentukan modal atau teknologi, tetapi juga kemampuan SDM membaca risiko dan menjaga kepercayaan publik. Penguatan risk culture harus jadi fondasi agar industri jasa keuangan tetap tumbuh sehat dan kompetitif,โ tutup Gandung. ***
Editor: Yoyok BP
Email: yoyokbp@gmail.com











Komentar