Galeri
Beranda ยป Berita ยป Fadli Zon, LK Ara dan Gema Hari Puisi Indonesia

Fadli Zon, LK Ara dan Gema Hari Puisi Indonesia

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dalam peringatan Hari Puisi Indonesia pada 26 Juli 2026. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Ada yang terasa berbeda pada perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2026 ini. Gemanya seolah tak kunjung reda setelah kemeriahan di Ruang Utama Lantai 3, Gedung, Kemendikdasmen, Jakarta.

Ucapan di media sosial, pemberitaan media online, dan sejumlah percakapan yang bernada apresiasi dari berbagai kalangan di dalam dan luar negeri.

Apresiasi bertubi-tubi diberikan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Sejak sehari sebelum perayaan sampai sehari setelah acara setidaknya tiga kali dia mengunggah ucapan selamat Hari Puisi Indonesia dalam versi yang berbeda.

Pada 25 Juli atau sehari sebelum perayaan Hari Puisi Indonesia, ia langsung mengunggah berita dari media Ruzka Indonesia yang berjudul โ€œPerayaan Hari Puisi Indonesia Dimeriahkan Tokoh Lintas Generasi dan Negeri, Menteri Kebudayaan akan Beri Orasiโ€, di akun x pribadinya yang kemudian disambut hangat netizen.

Urban Spiritual Indonesia Gelar Meditasi Bulan Purnama Bersama Awak Tempo

Unggahan itu membuat delapan orang panitia yang dikomando Ariany Isnamurti, berbesar hati bahwa Menteri Fadli Zon akan hadir di tengah acara HPI pada waktunya.

Kemudian persis pada hari perayaan, ia kembali mengucapkan selamat Hari Puisi Indonesia yang diunggah di akun Kementerian Kebudayaan dengan menyatakan bahwa dirinya baru merayakan Hari Puisi Indonesia dengan rangkaian foto-foto sepanjang acara.

Dalam versi yang berbeda, sehari setelah acara kembali Fadli Zon mengunggah sebuah video berisi narasi singkat berkaitan dengan Hari Puisi Indonesia.

Dan dalam video lain ia membaca puisi karyanya sendiri yang berjudul Untukmu Bung Tomo.

Harus Lahir Penyair Baru

Terlambat sekitar dua jam dari jadwal karena menghadiri acara kebudayaan di Tasikmalaya, Jawa Barat, Fadli Zon muncul dilift lantai tiga sekitar jam 16.00 WIB dan disambut para stafnya, panitia, Duta Baca Pelajar, dan tari Selamat Datang oleh dua penari cilik kakak beradik Shakira dan Shaveera.

Festival Budaya Masjid Pantai Bali 2026, Semangat Bhinneka Tunggal Ika dari Jembrana untuk Indonesia dan dunia

Sebelum duduk, Fadli Zon terlebih dulu menyalami para tamu undangan. Antara lain, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, Prof. Dr. Soenarjati Djajanegara, Danny Susanto, Ahmadun Yosi Herfanda, Sutardji Calzoum Bachri, LK Ara, Neno Warisman, Linda Jalil, Nissa Rengganis, dan Rohani Vanath, istri Wakil Gubernur Maluku.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan mengatakan, pihaknya sangat mendukung Hari Puisi Indonesia yang telah ditetapkan Kementerian Kebudayaan setahun lalu, pada 26 Juli 2025.

โ€œPeringatan Hari Puisi Indonesia 26 Juli 2026 ini tentu kami sangat dukung. Dari Kementerian Kebudayaan tahun lalu pun juga saya hadir,โ€ ujar Fadloi Zon.

Acara ini merupakan perayaan terhadap para penyair dengan karya sastra khususnya puisi. Selain itu juga untuk mengenang satu tonggak penting dari seorang penyair Indonesia Chairil Anwar yang lahir pada tanggal 26 Juli kemudian dijadikan sebagai Hari Puisi Indonesia.

โ€œJika masih hidup Chairil Anwar sudah berusia 104 tahun. Figur Chairil Anwar adalah sosok yang telah membawa banyak inspirasi, terutama di dalam dunia puisi. Dalam dunia sastra modern Indonesia dikenal juga sebagai angkatan 45,โ€ paparnya.

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 Dimeriahkan Tokoh Lintas Generasi dan Negeri, Menteri Kebudayaan Fadli Zon akan Orasi Budaya

Fadli berharap ke depan puisi semakin diminati oleh generasi muda dan Gen Z.

โ€œJadi kita harapkan ke depan nih jangan orangnya itu itu saja. Harus lahir LK Ara baru, Sutardji Calzoum Bachri baru, Taufik Ismail baru, dan tentu Chairil Anwar baru,โ€ ujarnya.

Karena bagi Fadli Zon, Indonesia memiliki banyak talenta luar biasa. Apalagi jika dikaitkan dengan keragaman culture diversity dan mega diversity.

Penyair Adiluhung

Yayasan Hari Puisi (YHP), dalam rangka perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2026 ini kembali memberikan anugerah Penyair Adiluhung.

Anugerah ini mulai diberikan sejak tahun 2020, dan untuk pertama kalinya diberikan kepada penyair Sapardi Djoko Damono. Selanjutnya pada tahun 2021 diberikan kepada presiden penyair Sutardji Calzoum Bachri.

Pada dua tahun berikutnya, 2023, anugerah serupa diberikan kepada penyair sufi Abdul Hadi WM. Kemudian, pada tahun 2024 diberikan kepada penyair Madura D. Zawawi Imron.

Tahun 2026 ini gekar Penyair Adiluhung diberikan kepada penyair Aceh, Lesik Keti Ara atau yang dikenal dengan LK Ara.

Dalam kesempatan itu Fadli Zon menyerahkan penghargaan Anugerah Penyair Adiluhung berupa piala, piagam, dan uang tunai sebesar Rp 40 juta.

Dalam keputusan Dewan Juri yang terdiri dari Rida K Liamsi, Sutardji Calzoum Bachri, yang dibacakan oleh penyair Ahmadun Yosi Herfanda.

LK Ara

LK Ara penyair yang telah berusia 88 tahun itu, dinilai sebagai penyair konsisten dan berdedikasi total dalam berkarya.

โ€œLK Ara dipilih karena kesetiaan dan dedikasinya yang luar biasa bagi dunia perpuisian Indonesia,โ€ tegas Ahmadun.

Lahir pada 12 November 1937, di Takengon, Aceh Tengah, LK Ara telah menghasilkan lebih dari 40 buku, sebagian merupakan buku kumpulan puisi.

Ara juga dikenal sebagai pembaca puisi yang menarik dan berkarakter. Biasanya dengan didampingi penyanyi tradisional Aceh, yang membawakan puisi dengan dinyanyikan dan diselingi pembacaan puisi oleh LK Ara.

Debut kepenyairannya dimulai tahun 1969 dengan menerbitkan buku kumpulan puisi Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969).

Kemudian berlahiran buku-buku kumpulan puisi lainnya, antara lain Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980), Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982), Pohon Pohon Sahabat Kita (Balai Pustaka, 1984), Catatan Pada Daun (Balai Pustaka, 1986), Kening Bulan (1986). Dalam Mawar (Balai Pustaka, 1988), Ucap Gemercik Air (2017), Jejak Kata (2021), dan banyak lagi.

Ara juga menulis puisi-puisi berbahasa Gayo, dan diterbitkan dengan judul Junjani (Jakarta, 197l), Loyang Sekam (Jakarta, 1971), dan Buntul Kubu (Jakarta, 1971).

Melalui Yayasan Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Aceh, ia menjadi editor bersama Taufiq Ismail dan Hasyim K.S. untuk terbitnya antologi sastra budayawan Aceh Seulawah (1995).

Ia juga menjadi penyunting buku antologi puisi penyair Aceh Jabal Ghafur 86 dan Aceh dalam Puisi (2003).

Buku kumpulan puisi anak yang sudah terbit adalah Anggrek Berbunga (1982), Buah-buahan di Kebun (1982), dan Senandung Burung-Burung (1982).

Kumpulan karangan berupa bacaan anak, yaitu Senjata Pustaka Kita (1983), Umbi-Umbi Kami (1983), Biografi Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Berkelana dengan Sastrawan Indonesia dari Aceh (1997) yang menghimpun biografi singkat dan perkenalan karya 14 pengarang Aceh dari Abdul Rauf hingga Maskirbi, Syair Tsunami dan Ekspresi Puitis Aceh (2006), Menghadapi Musibah (2006), dan catatan perjalanan ketika naik haji dalam buku berjudul Perjalanan Arafah (1974).

LK Ara juga dikenal aktif dalam seni pentas. Ketika di Balai Pustaka bersama Rusman Sutiasumarga dan M. Taslim, ia ikut mendirikan Teater Balai Pustaka tahun 1967.

Ia juga sebagai penaja yang pernah membawa dan memperkenalkan Toet seorang pedendang lagu “Gayo” sebuah kesenian dari Aceh.

Tempat penampilan Toet memperkenalkan lagu Gayo kepada publik, antara lain di TIM, Jakarta, Banda Aceh, Medan, Padang, Palangkaraya, dan Bandung.

Selain itu, juga tercatat sebagai ketua Asosiasi Kesenian Gayo (ASG). Mulai tahun 2005 LK Ara menjadi motor penerbitan buku-buku di Bangka Belitung (Babel) dengan Penerbit Yayasan Nusantara Jakarta (YNJ).

Karya-karya yang dihasilkan, antara lain, Bunga Rampai Bangka Barat (bekerja sama dengan Pemkab Bangka Barat), Antologi Puisi Lingkungan Hidup Kelekak (bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang), Antologi Pantun Melayu Bangka Pucuk Pauh (bekerja sama dengan Pemkab Bangka Induk), dan Bangka Belitung Bercahaya dalam Pantun dan Puisi (bekerja sama dengan PLN Babel dan Dewan Kesenian Kota Pangkalpinang).

Dalam sambutan kemenangannya, Ara mengatakan anugerah ini dipersembahkan kepada keluarga, para guru, para sahabat sastra, masyarakat Gayo dan Aceh, serta seluruh pembaca yang telah menemani perjalanan kepenyairannya.

โ€œSaya percaya, penghargaan hanya singgah pada seorang penyair, tetapi sastra harus tetap tinggal di tengah masyarakat sebagai cahaya yang menjaga martabat manusia,โ€ ungkap pria yang baru menjalani perawatan seminggu di rumah sakit di Aceh sebelum terbang ke Jakarta untuk menerima penghargaan itu. (***)

Jurnalis: HS
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan






Kolom