RUZKA INDONESIA — Urban Spiritual Indonesia bersama awak Tempo Media menggelar Meditasi Bulan Purnama di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, Rabu 29 Juli 2026.
Meditasi tersebut dipimpin oleh Pamomong Urban Spiritual Indonesia yang juga Pakar Kebudayaan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Dr. Turita Indah Setyani.
Meditasi ini diikuti oleh puluhan awak redaksi dan karyawan Tempo Media Grup.
Rabu malam 29 Juli 2026 bertepatan dengan fenomena โBuck Moonโ (Bulan Purnama Rusa Jantan) yang membawa pesan mendalam tentang metamorfosis, ketahanan, dan puncak produktivitas di tengah dinamika dunia kerja modern.
Tradisi penamaan โBuck Moonโ berasal dari tradisi penduduk asli Amerika Utara, waktu tersebut dimaknai sebagai masa ketika rusa jantan menumbuhkan kembali tanduk mereka yang lebih kokoh, merefleksikan keteguhan insan profesional dalam meluruhkan kegagalan lama untuk membangun kapabilitas diri yang lebih tangguh.
Puncak purnama yang bersinar megah di pertengahan tahun ini menjadi metafora bagi kejayaan visi, fokus yang jernih, dan pencapaian target strategis yang dikejar oleh setiap pekerja keras di ruang-ruang produktivitas.
Memasuki paruh kedua tahun 2026, pancaran cahaya bulan mengingatkan kita untuk meredam kebisingan distraksi dan kembali pada esensi dedikasi yang elegan serta bermartabat.
Sebagaimana alam semesta menyelaraskan posisi Bumi, Bulan, dan Matahari, kesuksesan dalam dunia kerja menuntut harmoni visi antar-individu guna menciptakan pencapaian tim yang luar biasa.
Jika dikaitkan dengan filosofi Jawa, Buck Moon dapat dipandang selaras dengan konsep:
- Tuwuh (bertumbuh secara alami)
- Suwung (menyadari diri dari ego)
- Manunggaling rasa (keselarasan jiwa, pikiran, tindakan dan spirit)
โMeskipun dalam budaya Jawa istilah Buck Full Moon secara tradisional tidak ada, tetapi mengacu pada nama bulan purnama tersebut dapat memberi makna filosofis yang berpadu dengan nilai-nilai spiritual Jawa tanpa mencampurkan keduanya sebagai tradisi yang sama. Dalam spiritualitas Jawa bulan purnama dipandang sebagai lambang kasampurnan (kesempurnaan), pepadhang (penerangan/cahaya kesadaran), dan harmoni hubungan antara manusia, alam, dan Gusti,” ujar Pamomong Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani.
Kasampurnaning Urip (kesempurnaan hidup), dilambangkan dari bentuk bulan yang bulat penuh, dimaknai sebagai manusia yang sedang menuju keseimbangan: raga yang sehat, pikiran yang jernih, hati yang welas asih, jiwa yang dekat dengan Tuhan. Pepadhang (cahaya kesadaran), dilambangkan dengan bulan memancarkan cahaya di tengah gelap malam, memiliki makna kebijaksanaan muncul ketika batin tenang.
โRembulan madhangi jagad, kawicaksanan madhangi manah (Bulan menerangi dunia, kebijaksanaan menerangi hati).โ Sementara itu, manunggaling rasa menggambarkan penyelarasan harmoni hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama, alam, dan Gusti,” tambah Turita.
Turita juga menjelaskan memadukan secara simbolis, Buck Full Moon dapat dimaknai sebagai waktu pertumbuhan batin, pembaruan diri, dan penyelarasan dengan kehendak Tuhan serta harmoni alam, sebagai momen untuk memperdalam kebijaksanaan, kerendahan hati, dan welas asih.
Pada kesempatan ini, Saat bulan penuh (purnama siddhi), manusia diajak melihat ke dalam diri dengan jujur.
Apakah sudah menggunakan kesempatan yang ada untuk tumbuh dan berkembang (tuwuh lan mekar) menjadi lebih bijaksana? Apakah sudah berhasil menyadari ego diri (suwung)?
Apakah sudah memiliki kesadaran bahwa manusia merupakan bagian yang menyatu dengan jagad raya (manunggal rasa karo alam), bukan penguasanya? Untuk itulah dibutuhkan praktik kontemplasi, yang paling sederhana saat bulan purnama seperti saat ini. (***)
Sumber: Pusinfo Urban Spiritual Indonesia
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar