RUZKA INDONESIA — Ada aroma masakan kambing yang mengepul sejak pagi, lantunan doa dari masjid, hingga alunan musik Tayub yang membuat warga tak kuasa ikut bergoyang.
Suasana seperti itu menjadi pemandangan khas setiap bulan Muharram di Kampung Jagabaya, Desa Jagabaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis.
Tradisi tahunan yang dikenal sebagai Hajat Bumi itu bukan sekadar pesta rakyat. Di balik setiap prosesi, tersimpan cerita tentang rasa syukur, sejarah kampung, dan harapan agar desa kecil di kaki perbukitan ini semakin dikenal sebagai tujuan wisata budaya.
Perjalanan tradisi dimulai dengan penyembelihan kambing kendit, kambing yang memiliki garis putih melingkar di tubuhnya.
Bagi masyarakat setempat, prosesi ini menjadi simbol ungkapan syukur atas hasil panen dan rezeki yang diterima selama setahun terakhir.
Daging kambing kemudian dimasak bersama dan disantap secara gotong royong.
Momen sederhana ini menjadi ruang berkumpul warga, mempererat silaturahmi sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Usai prosesi tersebut, masyarakat bergerak menuju Masjid Miftahul Huda untuk melaksanakan Shalat Hajat dan Sujud Syukur.
Perjalanan Spritual
Doa-doa dipanjatkan bersama, memohon keberkahan serta perlindungan agar kampung tetap diberi kemakmuran.
Perjalanan spiritual kemudian berlanjut ke Makom Keramat Jagabaya, petilasan para leluhur yang diyakini sebagai pendiri kampung sekaligus tokoh penyebar Islam di wilayah tersebut.
Pembacaan doa dan tahlil mengiringi ziarah yang kini mulai dilihat sebagai potensi wisata religi yang dapat menarik pengunjung dari luar daerah.
Tak berhenti di sana, warga kembali berkumpul di Balai Desa Jagabaya untuk mengikuti sedekah bumi dan pembacaan sejarah kampung oleh para sesepuh.
Kisah asal-usul Jagabaya, perjuangan para pendahulu, hingga nilai-nilai kearifan lokal kembali dihidupkan sebagai bekal bagi generasi muda agar tidak kehilangan identitas budayanya.
Menjelang sore, suasana berubah semakin meriah saat panggung Seni Tayub mulai dimainkan. Tiga lagu wajib, yakni Titipati, Golewang, dan Raja Pulang, mengundang tepuk tangan warga yang memadati lokasi.
Yang menarik perhatian, salah satu putra daerah Panawangan yang kini menjabat sebagai Ketua Komite Ekraf Kabupaten Majalengka, H. Baya, turut hadir dan larut dalam kemeriahan.
Sosok yang dikenal aktif menggerakkan ekonomi kreatif di Majalengka serta dekat dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi itu bahkan ikut menari Tayub bersama para seniman dan masyarakat.
Menurut H. Baya, Hajat Bumi memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi agenda wisata budaya yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
Destinasi Wisata
“Hajat Bumi ini bukan hanya tradisi syukuran, tetapi aset budaya yang harus dijaga bersama. Saya berharap Desa Jagabaya semakin dikenal luas sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan kearifan lokal,” ujarnya.
Ia menilai, ke depan rangkaian Hajat Bumi bisa diperkaya dengan pameran produk unggulan desa sehingga wisatawan tidak hanya menikmati pertunjukan seni, tetapi juga membawa pulang hasil karya masyarakat.
“Selain Tayub yang menjadi daya tarik utama, saya berharap nanti ada produk-produk lokal seperti hasil pertanian, beras organik, hasil kebun, hingga kerajinan tangan yang dipamerkan dan dijual. Ini bisa menjadi ruang promosi sekaligus memperkuat ekonomi kreatif masyarakat desa,” kata H. Baya.
Menurutnya, dengan kondisi tanah yang subur, Desa Jagabaya memiliki peluang besar mengembangkan sektor pertanian yang terintegrasi dengan pariwisata.
“Kalau budaya, pertanian, dan ekonomi kreatif berjalan beriringan, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Orang datang bukan hanya menonton tradisi, tetapi juga menikmati pengalaman desa yang autentik dan ikut menggerakkan ekonomi warga,” tuturnya.
Melihat keseluruhan rangkaian acara, Hajat Bumi di Kampung Jagabaya memang lebih dari sekadar tradisi tahunan.
Perpaduan ritual adat, wisata religi, cerita sejarah, kuliner kebersamaan, hingga pentas Tayub menjadikannya sebuah pengalaman yang membawa pengunjung menyelami denyut kehidupan masyarakat Sunda yang masih menjaga warisan leluhurnya di tengah perkembangan zaman. (***)
Jurnalis: Eko Widiantoro
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com






Komentar