RUZKA INDONESIA — Sebanyak 125 peserta dari berbagai kalangan antusias mengikuti webinar bertajuk Sastra, Perang di Timur Tengah, dan Suara Kemanusiaan yang diselenggarakan pada Rabu malam (15/04/2026).
Acara ini merupakan proyek akhir dari mata kuliah Pranata Arab dengan model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) di bawah bimbingan Dr. Ade Solihat, S.S., M.A.
Kegiatan ini juga didedikasikan sebagai bagian dari rangkaian perayaan Milad ke-66 tahun Program Studi Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).
Pelaksanaannya merupakan hasil kolaborasi solid antara Program Studi Arab FIB UI, Ikatan Keluarga Asia Barat (IKABA) yang dipimpin oleh Evita Dwi Lestari, serta komunitas Poetry Reading Society of Indonesia (PRSI) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari, M.M., M.Sc.
Sastra Sebagai Suara Kemanusiaan
Dr. Ade Solihat, S.S., M.A., selaku pemandu acara, menekankan bahwa webinar ini bertujuan untuk mengangkat โsuara manusiaโ di balik berita-berita geopolitik yang ada.
Menurut Ade, narasi-narasi yang muncul dalam diskusi global saat ini sering kali terjebak pada polarisasi yang mempersoalkan siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang menang, atau siapa yang kalah.
Namun, dalam webinar ini, fokus dialihkan untuk melihat bagaimana sebenarnya bangsa yang sedang berperang tersebut membangun kekuatannya, yang ternyata sangat berlandaskan pada sastra sebagai fondasi utama peradaban mereka.
Webinar ini merupakan seri pertama dari rangkaian webinar bertema โSastra, Perang di Timur Tengah, dan Suara kemanusiaanโ.
Ketua PRSI, Prof. Riri Fitri Sari, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sastra adalah saksi sejarah dan detak jantung kemanusiaan. โWebinar kali ini berbeda, karena membahasnya dari kekuatan sastra yang dimiliki oleh bangsa Iran,โ ujar Prof. Riri.
Sastra Sebagai Teras Peradaban
Webinar perdana ini mengundang ahli sastra Persia, Bastian Zulyeno, M.A., Ph.D. Pembicara, yang merupakan orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor dalam bidang studi Persia dari University of Tehran, Iran.
Dalam paparannya, Dr. Bastian memulai dengan menjelaskan bahwa kekuatan peradaban Persia tidak hanya bersandar pada kekuatan fisik, melainkan pada sastra yang diposisikan sebagai โterasโ atau pilar terdepan bangsa.
Dr. Bastian, yang merupakan dosen di Program Studi Arab FIB UI, menyoroti tradisi lisan yang masih terjaga kuat, di mana karya-karya besar seperti Shahnameh (Hikayat Raja-raja) dan Siyasatnameh (Kitab Tata Negara) dibacakan dari generasi ke generasi.
โKecintaan terhadap tanah air bangsa Persia ditanamkan melalui sastra,” ujar Dr. Bastian.
Pelajaran sastra yang terdepan, selanjutnya bidang ekonomi, teknologi, hingga kedokteran mengiringi di belakang.
Iran juga merupakan bangsa di dunia yang menempatkan puisi sebagai media diplomasi dan pernyataan posisi politik yang mendalam. Iran telah menyumbangkan asas perdamaian bagi dunia melalui puisi โBani Adamโ atau โThe sons of Adamโ, karya penyair legendaris Persia abad ke-13, Saadi Shirazi, yang dipampang di depan gedung PBB.
Puisi ini menegaskan bahwa seluruh umat manusia adalah anggota dari satu tubuh yang diciptakan setara, dan mengajak setiap individu untuk merasakan penderitaan sesamanya. Puisi ini juga berpesan bahwa perbedaan tidak menghalangi manusia untuk terikat dalam satu kemanusiaan yang sama.
Ketangguhan di Tengah Embargo
Meskipun telah menghadapi embargo selama 47 tahun, kemampuan bertahan Iran menghadapi serangan-serangan Israel yang dibantu oleh Amerika Serikat, telah menunjukkan ketangguhan militernya.
Bahkan, Iran yang telah kehilangan pemimpin tertingginya pada serangan 28 Februari 2026 hingga saat ini mampu bertahan dan memberikan serangan-serangan balik yang tak terduga.
Dari mana kekuatan Iran ini? Menurut Dr. Bastian, kekuatan itu berasal dari nilai-nilai perjuangan dan harga diri yang tertuang dalam sastra klasik.
Nilai kecintaan kepada tanah air diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra, hingga terpatri di dada orang-orang Iran.
Baris syair Ferdowsi, โJika Iran tak lagi ada, maka biarlah tubuhku pun tiadaโ, mampu menjadikan orang Iran melupakan ketegangan di dalam negerinya, untuk bersatu dan bersama mempertahankan kedaulatan negaranya.
Kecintaan terhadap Ilmu Pengetahuan
Sastra telah dijadikan media untuk menanamkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Orang Iran memiliki prinsip: โyang berkuasa adalah yang berpengetahuanโ. Ini, bukan karakter bangsa Iran yang baru, namun telah ada sejak masa lampau.
Dalam tradisi intelektual Persia, seseorang tidak disebut berilmu (‘alim) jika tidak memiliki adab (sastra/etika). Intelektualitas Iran memandang bahwa sains tanpa sastra adalah kering.
Itulah sebabnya tokoh besar seperti Ibnu Sina (Avicenna) atau Al-Khwarizmi tidak hanya menulis buku kedokteran dan matematika, tetapi juga menulis puisi dan filsafat.
Di Iran kontemporer, sastra bukan pengetahuan yang dimiliki oleh sastrawan saja. Setiap intektual dari berbagai bidang mampu berbahasa sastra.
Di Iran, anggota parlemen dan menteri-menteri adalah mereka yang pendidikannya doktor di berbagai bidang.
Orang Iran tidak memisahkan antara tanggung jawab jabatan, pendidikan tinggi, serta kecintaan terhadap sastra dan seni.
Pembacaan Puisi Persia
Sebelum sesi tanya jawab dimulai, Dr. Joevi Roedyati, M.A., yang pernah bertugas sebagai Counsellor Fungsi Politik KBRI Tehran-Iran (2021–2024), membacakan bait puisi legendaris karya Ferdowsi, dari kitab Shahnameh.
“Ma-azar moori ke daneh kesh ast, ke joon darad o joon-e shirin khosh ast.”
“Janganlah engkau sakiti semut yang sedang membawa butir gandum, karena ia memiliki nyawa, dan nyawa yang manis itu terasa indah baginya.”
Bait puisi ini menjadi personifikasi sempurna dari paradoks kekuatan bangsa Iran: kehalusan budi yang luar biasa di satu sisi, dan ketegasan serta keberanian yang tak tergoyahkan di sisi lain.
Pesan untuk tidak menyakiti makhluk sekecil semut menunjukkan bahwa peradaban Persia menempatkan penghormatan terhadap nyawa dan kehidupan pada tempat tertinggi. Nilai kemanusiaan ini pulalah yang menjadi bahan bakar bagi keberanian mereka saat kedaulatan negara terancam.
Penutup: Menyuarakan Deskalasi Perang
Ade Solihat, sebagai pemandu acara menyimpulkan, bahwa selama ini pandangan masyarakat Indonesia terhadap bangsa Iran sering kali bias oleh konflik ideologi Sunni-Syiah yang memecah belah umat Islam.
Padahal sejatinya, bangsa Indonesia bisa belajar dari bangsa Iran yang berkarakter kemanusiaan, namun kuat dalam mencintai tanah air dan menentang segala bentuk penjajahan.
โPada malam ini kita mengenal karakter bangsa Iran, bukan untuk meniru tanpa menyaringnya, namun untuk mengambil hikmah tentang bagaimana sebuah bangsa dapat mempertahankan harga diri dan kedaulatannya melalui kekuatan sastra dan budaya. Kita belajar bahwa di balik kemampuan militer yang tangguh, terdapat โterasโ peradaban yang dibangun melalui sastra,โ tutup Ade.
Zaki Ahmad Mumtaz, selaku pembawa acara, menutup webinar dengan mengingatkan peserta bahwa ini hanyalah seri ke-1 dari rangkaian webinar yang akan terus menyuarakan sastra dan humanis dari para ahli dan praktisi yang pernah atau sedang menetap di negara-negara yang berdekatan dengan wilayah konflik. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com


Komentar