RUZKA INDONESIA — Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Fadlul Imansyah, melakukan kunjungan kembali ke Pusat Manasik Haji di Bali, Masjid Pantai Bali, Desa Cupel, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari monitoring dan penjajakan potensi program berkelanjutan BPKH yang dapat dikembangkan melalui Masjid Pantai Bali, khususnya dalam bidang edukasi manasik haji, pemberdayaan ekonomi umat, kepedulian lingkungan, serta penguatan ekosistem wisata religi dan wisata bahari di Bali.
Hadir dalam kunjungan tersebut, Muhammad Hasan Gaido, Founder Gaido Group, Nur Akbar, Gaido Connected, Kartono, Kepala Pelabuhan Internasional Pengambengan; Agung Wibowo dari DMI Kabupaten Jembrana.
Lalu, tokoh sejarah Islam Bali Eka Sabhara, Sishadi dari DKM Masjid Agung Jembrana, Guru Teladan Nasional Ahmad Yazid; Arief Dharmawan dari DKM Masjid Pantai Bali serta pengusaha sarung tenun Jembrana, Irvan.
Masjid Pantai Bali dikembangkan dengan konsep โMasjid Out of The Boxโ dan mengusung misi 5E Smart Masjid, yaitu Edukasi, Ekonomi, Ekologi, Empati, dan Entertain.
Salah satu program unggulannya adalah keberadaan Pusat Manasik Haji di Bali, yang menghadirkan berbagai replika dan sarana edukasi perjalanan haji, antara lain Kaโbah, Hajar Aswad, Hijr Ismail, Maqam Ibrahim, replika Masjidil Haram, Shafa-Marwah, serta area simulasi lempar jumrah.
Kehadiran pusat manasik ini diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat Bali dan Indonesia Timur untuk mengenal sekaligus mempraktikkan rangkaian ibadah haji secara lebih mudah sebelum melaksanakan perjalanan ke Tanah Suci.
Kampung Haji di Jembrana Bali
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), Firmansyah Dimmy, menyampaikan sejumlah gagasan pengembangan Pusat Manasik Haji di Masjid Pantai Bali agar dapat berkembang menjadi kawasan edukasi haji yang lebih lengkap dan berkelanjutan.
Menurut Firmansyah, pengembangan tersebut perlu dilakukan secara bertahap, tidak hanya dengan memperkuat fasilitas manasik yang sudah ada, tetapi juga membangun ekosistem pendukung yang memungkinkan masyarakat dan calon jemaah mendapatkan pengalaman pembelajaran manasik yang lebih komprehensif.
Salah satu usulan yang disampaikan bersama Hasan Gaido adalah pengadaan kendaraan operasional Masjid Pantai Bali untuk mendukung mobilitas kegiatan dalam pengembangan pusat Manasik Haji di Bali ini.
Selain itu, YMPN mengusulkan penambahan sejumlah infrastruktur pelengkap atmosfer manasik, antara lain:
- Replika Jabal Rahmah, sebagai sarana edukasi dan pengenalan salah satu kawasan penting dalam sejarah pendirian Ka’bah dan perjalanan haji sejak zaman Nabi Adam.
- Sumur Zam-zam, sebagai bagian dari pengalaman edukatif mengenai sejarah perjuangan Siti Hajar dan ibrah di zaman Nabi Ibrahim dan Ismail.
- Tenda Wukuf, sebagai fasilitas simulasi puncak perjalanan Haji, pelaksanaan wukuf di Arafah.
- Penginapan atau fasilitas akomodasi, yang dapat digunakan untuk kegiatan manasik intensif, pelatihan, pesantren, komunitas, sekolah, maupun calon jemaah haji dan umrah.
Lengkapi Fasilitas
Berbagai fasilitas tersebut diharapkan dapat melengkapi fasilitas manasik yang telah tersedia sehingga kawasan Masjid Pantai Bali secara bertahap dan dapat berkembang menjadi sebuah โKampung Hajiโ di Jembrana, Bali.
“Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak hanya datang untuk melihat replika, tetapi dapat mengikuti rangkaian edukasi, praktik manasik, pembinaan spiritual, kegiatan ekonomi, hingga program pemberdayaan masyarakat secara komprehensif, interaktif dan kontekstual.” jelas Firmansyah Dimmy.
Kunjungan Kepala BPKH juga membuka ruang dialog mengenai bagaimana kawasan Masjid Pantai Bali dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem edukasi dan pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan haji dan umrah.
Konsep yang ditawarkan tidak berhenti pada kegiatan manasik, tetapi bagaimana masjid dapat menjadi pusat pembelajaran, pusat pemberdayaan ekonomi, pusat kepedulian lingkungan, sekaligus destinasi wisata religi.
Kunjungan Kepala BPKH ini diharapkan menjadi momentum untuk mengidentifikasi berbagai potensi program yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan, terukur dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
YMPN membuka ruang kolaborasi dengan BPKH dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun model pengembangan masjid yang mampu mengintegrasikan ibadah, edukasi, ekonomi, ekologi, empati dan entertain (rekreasi).
Gagasan โKampung Hajiโ yang unik di Jembrana dengan tetap menjaga kearifan lokal ini diharapkan dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar