Kolom Nasional
Beranda ยป Berita ยป Ulama Wajb Mengoreksi Penguasa

Ulama Wajb Mengoreksi Penguasa

Buletin Kaffah Edisi 462 (Jumat, 14 Rabiul Akhir 1448 H/25 September 2026 M). (Ilustrasi: Dok RUZKA INDONESIA)
Buletin Kaffah Edisi 462 (Jumat, 14 Rabiul Akhir 1448 H/25 September 2026 M). (Ilustrasi: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA โ€“ PADA Sabtu, 19 September 2026, dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan sambutan di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidatonya, Kiai Hasan, antara lain, menyinggung fenomena โ€œcari mukaโ€ hingga โ€œcari jabatanโ€ serta menegaskan prinsip kesederhanaan dalam kehidupan pimpinan pesantren. Beliau juga menyatakan bahwa jika makanan, pakaian, kendaraan, atau rumahnya melebihi apa yang dimiliki para santri, maka dirinya boleh diprotes, dikritik bahkan didemo (DetikJatim, 19/09/ 2026).

Pernyataan Kiai Hasan tersebut penting direnungkan. Pasalnya, beliau sesungguhnya bukan sekadar berbicara tentang kesederhanaan seorang pimpinan pesantren, tetapi juga menjelaskan sebuah prinsip kepemimpinan secara umum, yakni: seseorang yang memegang amanah kepemimpinan (termasuk kepemimpinan negara, red.) tidak semestinya menutup pintu kritik terhadap dirinya.

Penguasa Jangan Anti Kritik

Sebagaimana diketahui, kekuasaan adalah amanah yang Allah SWT titipkan kepada seorang penguasa. Penguasa adalah manusia biasa yang bisa keliru. Karena itu penguasa tidak semestinya menganggap dirinya berada di atas nasihat dan koreksi.

Itulah yang ditunjukkan, antara lain, oleh Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Dalam pidato awal Kekhalifahannya, beliau tegas menyampaikan:

Catatan Cak AT: Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู’ุชู ููŽุฃูŽุนููŠู’ู†ููˆู’ู†ููŠ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุณูŽุฃู’ุชู ููŽู‚ูŽูˆู‘ูู…ููˆู’ู†ููŠ

Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat buruk, luruskanlah aku (M. Husain Haikal, Hayaah Muhammad saw., 1/97).

Pesan tersebut menunjukkan prinsip penting dalam etika kepemimpinan, yakni: pemimpin tidak boleh menempatkan dirinya di atas kebenaran. Kritik yang benar seharusnya diterima dengan lapang dada, sedangkan kritik yang keliru dapat dibantah dengan argumentasi.

Ulama Bukan Stempel Kekuasaan

Di sisi lain, ulama bukanlah stempel kekuasaan. Kemuliaan ulama terletak pada ilmu, ketakwaan dan kesediaannya menyampaikan kebenaran. Terutama di hadapan penguasa. Karena itu ulama tidak semestinya membenarkan seluruh kebijakan penguasa tanpa pemeriksaan. Jika penguasa terbukti menyimpang, ulama wajib mengoreksi dan meluruskan penguasa tersebut.

Menuju 5 Abad Jakarta, PLN Teken SPJBTL 20,355 MVA dengan 10 Pelanggan Menengah

Allah SWT berfirman:

ูˆูŽู„ู’ุชูŽูƒูู†ู’ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุฉูŒ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽูŠูŽุฃู’ู…ูุฑููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽูŠูŽู†ู’ู‡ูŽูˆู’ู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุฃููˆู„ูŽูฐุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung (TQS Ali โ€˜Imran [3]: 104).

Perintah amar makruf nahi mungkar ini ditujukan kepada pihak-pihak yang melakukan kesalahan, termasuk penguasa. Apalagi Rasulullah saw. telah bersabda:

ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุตููŠุญูŽุฉู

Bukan Sidak Proyek, Iing Misbahuddin Nongkrong Bareng Pelaku UMKM Talaga, Bahas Cara Bertahan di Tengah Tantangan Pasar

โ€œAgama adalah nasihat.โ€

Para Sahabat bertanya, โ€œUntuk siapa?โ€ Beliau menjawab:

ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ููƒูุชูŽุงุจูู‡ู ูˆูŽู„ูุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูˆูŽู„ูุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽุนูŽุงู…ู‘ูŽุชูู‡ูู…ู’

โ€œUntuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim dan seluruh kaum Muslim.โ€ (HR Muslim).

Hadis tersebut secara jelas menyebut para pemimpin kaum Muslim sebagai salah satu pihak yang menjadi sasaran nasihat. Nasihat dapat berupa bimbingan, peringatan, koreksi dan ajakan untuk menjalankan amanah sesuai dengan syariah Allah SWT (An-Nawawi, Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, syarah hadis no. 55).

Rasulullah saw. juga bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุฃูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูุบูŽูŠู‘ูุฑู’ู‡ู ุจููŠูŽุฏูู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุจูู„ูุณูŽุงู†ูู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุจูู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุถู’ุนูŽูู ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู

Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman (HR Muslim).

Hadis ini menjadi dasar kewajiban mengingkari kemungkaran. Siapa pun pelakunya. Penguasa tidak dikecualikan dari sasaran kewajiban tersebut. Bahkan karena keputusan penguasa dapat memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas, koreksi terhadap kebijakan penguasa yang zalim atau bertentangan dengan syariah memiliki urgensi yang besar. Karena itulah Rasulullah saw. pun bersabda:

ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุงู„ู’ุฌูู‡ูŽุงุฏู ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉู ุญูŽู‚ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุณูู„ู’ุทูŽุงู†ู ุฌูŽุงุฆูุฑู

Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim (HR Ahmad).

Hadis tersebut menunjukkan tingginya kedudukan keberanian moral dalam menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang melakukan kezaliman.

Teladan Ulama

Sejarah Islam memberikan pelajaran bahwa nasihat dan koreksi kepada penguasa bukanlah perkara asing dalam tradisi ulama salaf. Bahkan ketika para penguasa menerapkan syariah Islam, kewajiban amar makruf nahi mungkar tetap berlaku. Penerapan syariah Islam oleh penguasa tidak menghapus kebutuhan terhadap pengawasan, koreksi dan nasihat. Sebabnya, penguasa adalah manusia yang tetap memiliki kemungkinan melakukan kesalahan dan penyimpangan.

Di antara kisah yang sering dikemukakan adalah riwayat tentang seorang perempuan Muslimah yang mengoreksi kebijakan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. mengenai pembatasan mahar yang ia pandang keliru (Al-Qurthubi, Al-Jaamiโ€˜ li Ahkaam al-Qurโ€™aan, 5/95; tafsir QS an-Nisa [4]: 20).

Kisah lainnya banyak sekali. Misalnya saja kisah Imam Hasan al-Bashri rahimahulLaah. Beliau adalah salah seorang di antara para ulama yang begitu besar rasa takutnya kepada Allah SWT. akan tetapi, beliau tak pernah gentar terhadap penguasa dunia yang lalim. Beliau berani menentang Hajaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa Irak yang lalim pada zamannya. Beliau berani mengungkap keburukan perilaku penguasa tersebut di hadapan rakyat dan menyampaikan kebenaran di hadapannya. Beliau sangat terkenal dengan ucapannya, “Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para ulama untuk menjelaskan ilmu yang mereka miliki kepada manusia dan tidak menyembunyikan ilmu mereka.”

Demikian pula Sufyan ats-Tsauri rahimahulLaah. Rasa takutnya kepada Allah SWT begitu besar. Akan tetapi, keberaniannya terhadap penguasa lalim pun tak diragukan. Beliau pernah menentang penguasa Abu Ja’far al-Manshur ketika dia mendanai dirinya dan para pengikutnya yang beribadah haji ke Baitul-Haram dalam jumlah yang sangat besar. Pasalnya, dana tersebut diambil dari Baitul Mal milik kaum Muslim.

Dalam riwayat lain disebutkan, suatu ketika Khalifah Muawiyah hendak memulai pidatonya. Saat itu Abu Muslim al-Khaulani segera berdiri dan berkata bahwa ia tidak mau mendengar dan menaati Khalifah. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, โ€œKarena engkau telah berani memutuskan bantuan kepada kaum Muslim. Padahal harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah-ibumu.โ€ (Lihat: Al-Badri, Al-Islaam bayna al-โ€˜Ulamaa’ wa al-Hukkaam, hlm. 101).

Ulama Adalah Mitra Penguasa dalam Menegakkan Keadilan

Ulama dan penguasa seharusnya membangun hubungan yang dilandasi ketakwaan dan tanggung jawab. Bukan hubungan yang menjadikan ulama sebagai stempel pembenaran bagi seluruh kebijakan penguasa. Penguasa membutuhkan ulama yang berilmu, jujur dan berani menyampaikan kebenaran. Sebaliknya, ulama membutuhkan ruang untuk menasihati, mengoreksi dan mengingatkan penguasa tanpa harus kehilangan kebebasan menyampaikan perkara yang haq.

Kemitraan keduanya akan memiliki makna jika diarahkan pada tujuan yang sama: sama-sama mencari ridha Allah SWT. Penguasa tidak boleh menjadikan kekuasaan sebagai sarana kesombongan. Sebaliknya, ulama tidak boleh menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencari kedudukan atau keuntungan duniawi. Keduanya harus memahami bahwa amanah kekuasaan dan amanah ilmu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Karena itu kritik yang benar tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman. Nasihat yang disampaikan dengan ikhlas tidak sepatutnya dibalas dengan penghinaan. Ulama tidak boleh meninggalkan kewajiban amar makruf nahi mungkar hanya karena pihak yang dinasihati adalah penguasa.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kekuasaan bukanlah seberapa sering penguasa dipuji, melainkan sejauh mana amanah kekuasaan digunakan untuk menegakkan keadilan dan melindungi rakyat. Sebaliknya, ukuran kejujuran ulama bukanlah seberapa dekat ia dengan penguasa, melainkan sejauh mana ia tetap berpegang pada kebenaran ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Ulama dan penguasa hendaknya menjadi mitra dalam menegakkan keadilan, bukan mitra dalam membenarkan kezaliman. Sebabnya, kekuasaan tanpa nasihat dapat kehilangan arah, sementara ilmu tanpa keberanian menyampaikan kebenaran dapat kehilangan fungsi sosialnya. Keduanya harus saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, agar amanah yang diberikan Allah SWT tidak berubah menjadi sarana kezaliman.

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali telah memperingatkan adanya hubungan kerusakan penguasa dengan kerusakan ulama, terutama ketika para ulama telah dikuasai kecintaan terhadap harta dan kedudukan sehingga tidak lagi berani melakukan koreksi terhadap penguasa. Beliau menyatakan:

ููŽููŽุณูŽุงุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุนูŽุงูŠูŽุง ุจูููŽุณูŽุงุฏู ุงู„ู’ู…ูู„ููˆููƒู ูˆูŽููŽุณูŽุงุฏู ุงู„ู’ู…ูู„ููˆู’ูƒู ุจูููŽุณูŽุงุฏู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ูˆูŽููŽุณูŽุงุฏู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุจูุงุณู’ุชููŠู’ู„ุงูŽุกู ุญูุจู‘ู ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู ูˆูŽุงู’ู„ุฌูŽุงู‡ู

Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasa. Kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan para ulama. Kerusakan ulama terjadi ketika mereka dikuasai oleh kecintaan terhadap harta dan kedudukan (Al-Ghazali, Ihyaaโ€™ โ€˜Uluum ad-Diin, 2/357).

Dengan demikian para ulama memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki penguasa yang rusak. Kerusakan penguasa adalah saat mereka melakukan kezaliman. Kezaliman terbesar penguasa adalah saat mereka enggan berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT. Demikian sebagaimana yag Allah SWT tegaskan:

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุญู’ูƒูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽุฃููˆู„ูŽูฐุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ููˆู†ูŽ

Siapa saja yang tidak berhukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim (TQS al-Ma’idah [5]: 45).

Alhasil, sejatinya para ulamalah yang paling bertanggung jawab untuk menasihati dan mengingatkan penguasa agar bersegera menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Jika tidak maka jelaslah, sebagaimana kata Imam al-Ghazali, para ulama adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kerusakan penguasa, sebagaimana saat ini, karena enggan berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT.

WalLaahu aโ€™lam bi ash-shawaab. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

…ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽุฎู’ุดูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู‡ู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู…

…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah para ulama… (TQS Fathir [35]: 28). [] (***/Jie)

Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom