Kolom
Beranda ยป Berita ยป Pikiran yang Diam-Diam Diprogram: Kenapa Kita Terus Kalah dari Masa Depan Sendiri?

Pikiran yang Diam-Diam Diprogram: Kenapa Kita Terus Kalah dari Masa Depan Sendiri?

Edwin Manopo, B.Sc (Hons), M.Soc.Sci., CPHt, CCHt, CI., CT.
Edwin Manopo, B.Sc (Hons), M.Soc.Sci., CPHt, CCHt, CI., CT. (Foto: Dok.Pribadi)

Oleh Edwin Manopo, B.Sc (Hons), M.Soc.Sci., CPHt, CCHt, CI., CT. *)

Awal tahun ini, dunia maya dibanjiri video dan gambar seputar penangkapan Nicolรกs Maduro, mantan Presiden Venezuela. Maduro didakwa melakukan perdagangan narkoba dan pelanggaran senjata, serta menjalankan rezim narko-teroris. Maduro sempat membantah semua tuduhan itu.

Ada hal menarik seputar penangkapan Maduro ini. Sebagian gambar atau video seputar penangkapan Maduro dibuat oleh kecerdasan buatan.

Sebagian lagi rekaman lama dari peristiwa berbeda yang diberi label ulang seolah terrjadi di Caracas. Salah satu video yang menampilkan warga menangis haru berterima kasih kepada Amerika Serikat sempat ditonton jutaan kali, sebelum akhirnya dikonfirmasi sebagai rekayasa.

Terkait hal ini, sebuah eksperimen ilmiah menemukan bahwa ketika unggahan bernuansa permusuhan politik lebih sering ditampilkan di linimasa seseorang, tingkat polarisasi afektif dan emosi negatifnya meningkat signifikan. Hal ini setara dengan perubahan yang biasanya terjadi dalam tiga tahun.

Catatan Cak AT: Dataset Ingatan Lima Abad

Tak sedikit yang tahu atau menyadari bahwa algoritma sebenarnya tidak dirancang untuk membuat kita paham dunia. Ia dirancang untuk membuat kita tidak berhenti scroll. Cara paling efektif untuk membuat manusia tidak berhenti scroll adalah dengan membuat kita merasa terancam, marah, atau cemas dalam setiap beberapa detik sekali.

Masalahnya bukan sekadar kita kebanjiran informasi. Masalahnya adalah waktu yang seharusnya kita pakai untuk membangun masa depan, pertumbuhan, tujuan, keluarga, mimpi, ketenangan, bahkan kehidupan batin kita, diam-diam dicuri oleh sistem yang tidak punya kepentingan terhadap masa depan kita sama sekali.

Di sinilah letak persoalan yang sebenarnya. Kita sering berpikir bahwa masalah manusia modern kerap tak jauh dari kurang motivasi. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ketidaksinkronan antara apa yang terasa penting sekarang dan apa yang benar-benar penting untuk nanti.

Sebagian besar keputusan buruk memiliki pola yang sama, yakni kenikmatan datang sekarang, tagihan datang kemudian. Scroll terasa ringan malam ini. Namun, konsekuensinya adalah waktu yang hilang, fokus yang terpecah, energi yang terkuras sebelum sempat dipakai untuk hal yang benar-benar kita pedulikan. Hal ini baru terasa bertahun-tahun kemudian dalam bentuk mimpi yang tak pernah dikejar.

Tiga sistem diam-diam menentukan apakah kita menang atau kalah dari kondisi yang belakangan diberi istilah incentive gap atau kesenjangan insentif ini. Incentive gap adalah gap antara โ€œsaya ingin melakukannyaโ€ dan โ€œsaya benar-benar melakukannyaโ€. Kesenjangan ini bisa terjadi karena niat dari dalam diri seseorang ada untuk melakukan sesuatu, namun faktor eksternalnya, termasuk reward-nya, tidak cukup kuat untuk mengubah niat tersebut menjadi tindakan dan hasil nyata.

Catatan Cak AT: Menteri Agama Sejuta Dolar

Berikut adalah ketiga sistem tersebut. Pertama, arah. Riset psikologi tentang future-self continuity menunjukkan bahwa orang yang merasa terhubung dengan dirinya di masa depan cenderung mengambil keputusan finansial dan pribadi yang lebih baik hari ini.

Untuk itu, sebelum memutuskan sesuatu, coba ajukan Regretโ€“Gratitude Test dengan menjawab pertanyaan โ€œapakah diri saya lima tahun dari sekarang akan berterima kasih, atau menyesal dan harus memperbaiki akibatnya?โ€ Kita tidak perlu memenangkan lima tahun sekaligus. Kita hanya perlu berhenti mengkhianati lima tahun ke depan, demi lima menit kenyamanan.

Kedua, atensi / fokus. “We are not experiencing life. We are experiencing life that we are focussing on.โ€ Sesungguhnya, kita mengalami dan menjalani apa yang kita fokuskan setiap harinya.

Apa yang terus kita anggap penting lebih mudah mendapat tempat dalam perhatian. Fokus itu mempengaruhi apa yang kita lihat, bagaimana kita menafsirkannya, hingga keputusan yang kita ulangi setiap hari.

Fokus bekerja dua arah: ia bisa membuat ancaman yang tidak nyata terasa mendesak, tapi juga bisa membuka mata kita pada informasi, koneksi, dan kesempatan yang sebelumnya terabaikan. Karena itu, diet informasi sama pentingnya dengan diet makanan.

Catatan Cak AT: Ratusan Triliun Utang Agrinas

Riset Satici dan koleganya (2023) menemukan bahwa konsumsi berita menekan secara terus-menerus (doomscrolling) berkaitan dengan penurunan kepuasan hidup dan meningkatnya tekanan psikologis. Persoalannya bukan beritanya, tapi ketika algoritma yang paling pandai membuat kita takut, mendapat kendali penuh atas apa yang masuk ke kepala kita. Jangan menyerahkan sistem perhatian kita kepada siapa pun yang paling berhasil membuat kita takut.

Di sinilah letak bedanya being informed dan being psychologically consumed: yang pertama membuat kita siap, yang kedua merusak sistem prioritas kitaโ€”incentive gap yang sama seperti di bagian arah.

Latih fokus sesuai tujuan yang mau kita capai, yakni fokus menemukan kebutuhan jika membangun bisnis, fokus menangkap umpan balik jika ingin bertumbuh, fokus menangkap kesempatan memahami jika memperbaiki relasi. Menghadapi masalah pun samaโ€”jangan hanya mempelajari ancamannya, cari juga jalan keluarnya.

Pindahkan fokus kita dari rasa berkekurangan dan rasa khawatir ke arah rasa syukur dan tindakan nyata. Fokus yang terarah tidak menghilangkan masalah, tapi menentukan apakah kita melihat jalan keluar atau hanya melihat semakin banyak alasan untuk takut.

Pertanyaan โ€œapa yang salah?โ€ akan selalu ada, tapi begitu pula โ€œapa yang benar?โ€. Pertanyaan โ€œapa yang kurang?โ€ dalam hidup kita juga akan selalu ada, tapi begitu pula โ€œapa yang lebih?โ€ Fokus kitalah yang memutuskan pertanyaan mana yang kita jawab lebih dulu. Ingat, fokus kita yang membentuk emosi kita. Ke manapun fokus kita terarah, ke sanalah emosi kita mengalir.

Ketiga, asupan. Pikiran yang kuat membutuhkan tubuh yang mampu membawanya karena otak adalah bagian dari tubuh. Bukti paling langsung datang dari uji terkontrol Kevin Hall dan timnya di NIH Clinical Center pada 2019.

Dalam uji itu, 20 orang dewasa dikarantina selama sebulan dan diberi dua pola makan bergantianโ€”satu ultra-proses, satu minim prosesโ€”dengan kalori dan nutrisi yang disetarakan persis. Hasilnya, kelompok yang makan makanan ultra-proses mengonsumsi rata-rata 500 kalori lebih banyak per hari dan naik berat badan, semata karena jenis olahannya, bukan kandungan gizinya.

Hal yang jarang disambungkan dengan realitas itu adalah efeknya tidak berhenti di angka timbangan. Studi kohort Adjibade dan tim di Prancis, yang diikuti oleh lebih dari 26.000 orang dewasa tanpa gejala depresi selama rata-rata 5,4 tahun, menemukan bahwa semakin tinggi proporsi makanan ultra-proses dalam pola makan seseorang, semakin besar pula risikonya mengalami gejala depresi di kemudian hari.

Studi ini tidak berdiri sendiri. Setelahnya, temuan serupa muncul di kohort Mediterania, Brasil, dan populasi lansia. Pola yang konsisten ini menunjukkan satu hal, yakni apa yang kita masukkan ke tubuh bukan cuma soal berat badan, tapi soal kapasitas otak untuk tetap stabil dan mengambil keputusan baik.

Ketika tubuh kelelahan dan otak kehilangan stabilitasnya, ongkos psikologis untuk memilih opsi jangka panjangโ€”yang biasanya lebih berat, lebih lambat, lebih tidak instanโ€”terasa jauh lebih mahal. Jangan menuntut output premium dari sistem biologis yang terus diberi input seadanya.

Ketiga sistem yang diungkap di awal tadi memiliki satu benang merah yang sama, yakni masing-masing, dengan caranya sendiri, membuat sekarang terasa lebih berharga daripada nanti. Padahal belum tentu akan terjadi seperti demikian. Arah yang tidak jelas membuat kita tidak tahu apa yang sedang dikorbankan. Atensi yang dibajak membuat ancaman kecil terasa mendesak. Tubuh yang lelah membuat pilihan sulit terasa mustahil.

Ketiganya bukan tiga masalah terpisah. Ketiganya adalah tiga pintu yang sama-sama mengarah pada satu hal, yaitu siapa yang sebenarnya sedang mendikte pilihan kita hari iniโ€”diri kita, atau sistem yang paling pandai membuat kita lupa bahwa nanti itu ada.

Hidup berubah ketika apa yang kita ketahui mulai menentukan apa yang kita pilih. Bukan ketika kita tahu lebih banyak, namun ketika kita berhenti membiarkan yang mendesak mengalahkan yang penting.

13 Agustus 2025

*) Master of Psychology & Hypnotherapy, Emotion & Trauma Specialist.

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan






Kolom