RUZKA INDONESIA – Indonesia baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026. Peringatan Hardiknas ini seharusnya membawa harapan masa depan pendidikan. Akan tetapi, realitas di lapangan masih menyisakan berbagai kecemasan publik dan ironi struktural.
Kebijakan efisiensi anggaran melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025, misalnya, memangkas belanja negara hingga ratusan triliun rupiah. Hal ini berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk pendidikan. Program lain seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berpotensi menekan ruang fiskal pendidikan. Sementara itu, kesejahteraan guru masih menjadi persoalan klasik. Banyak guru honorer menerima pendapatan di bawah standar kelayakan hidup. Hal ini memengaruhi kualitas pengajaran dan motivasi profesional.
Data Kementerian Pendidikan juga mengungkap masih banyak sekolah di Indonesia yang mengalami kerusakan infrastruktur, mulai dari ruang kelas rusak hingga keterbatasan fasilitas dasar. Hal ini mencerminkan ketimpangan akses pendidikan yang belum terselesaikan secara sistemik.
Ilusi Generasi Emas
Arah kebijakan pendidikan tinggi juga memunculkan kegelisahan baru. Misalnya, ada wacana penutupan program studi yang alumninya dinilai tidak terserap oleh dunia industri. Demikian sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi pada momentum Hardiknas 2026. Ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi dan esensi pendidikan ke satu arah: pasar tenaga kerja.
Pendekatan ini berisiko mereduksi fungsi pendidikan hanya sebagai penyedia tenaga kerja. Padahal seharusnya pendidikan dijadikan sebagai sarana pembentukan peradaban dan pembentukan manusia yang bertakwa.
Dengan kondisi ini, Visi Indonesia Emas 2045—yang hendak mewujudkan generasi unggul secara menyeluruh: memiliki kualitas intelektual tinggi, karakter kuat, sehat fisik dan mental, serta mampu berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa—tampaknya hanya akan menjadi ilusi belaka. Apalagi jika melihat berbagai kasus amoralitas yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan belakangan ini. Seolah-olah negeri ini semakin jauh dari cita-cita untuk melahirkan generasi emas tersebut.
Lahirnya “generasi emas” yang menjadi cita-cita Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 akan semakin terasa jauh jika problem mendasar pendidikan tidak segera ditangani secara serius. Salah satunya adalah pengurangan anggaran perpustakaan yang berpotensi melemahkan budaya literasi pelajar. Padahal berbagai kajian akademik menegaskan bahwa budaya literasi merupakan salah satu fondasi utama bagi kualitas pembelajaran sepanjang hayat. Tanpa akses bahan bacaan yang memadai dan lingkungan literasi yang hidup, sulit membangun generasi yang kritis, kreatif dan inovatif.
Persoalan berikutnya menyangkut kesejahteraan dan distribusi tenaga pendidik. Masih banyak guru honorer yang menerima upah jauh di bawah standar kelayakan. Padahal mereka memegang peran strategis dalam proses pendidikan. Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu guru, tetapi juga pada kualitas pembelajaran secara keseluruhan.
Di sisi lain, di berbagai daerah masih ditemukan sekolah dengan jumlah tenaga pengajar yang minim serta kondisi bangunan yang tidak layak. Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan masih adanya ruang kelas rusak yang belum tertangani secara optimal.
Lebih mencemaskan lagi, dunia pendidikan di negeri juga menghadapi krisis moral yang semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk perundungan dan pelecehan seksual, menunjukkan tren peningkatan, bahkan terjadi di tingkat perguruan tinggi. Fenomena ini menjadi alarm serius bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun lingkungan yang aman dan beradab.
Jika kondisi ini terus dibiarkan maka cita-cita melahirkan generasi emas bukan hanya tertunda, tetapi berisiko gagal. Pasalnya, pendidikan kehilangan esensi utamanya: membentuk manusia yang berilmu, berakhlak dan bermartabat yang merupakan pilar peradaban suatu bangsa.
Keunggulan Sistem Pendidikan Islam
Islam menawarkan paradigma pendidikan yang lebih komprehensif dan unggul. Ini karena Islam meletakkan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan. Kewajiban menuntut ilmu ditegaskan dalam hadis Nabi ﷺ:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah).
Al-Quran juga menegaskan kemuliaan orang berilmu:
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتۚ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kalian beberapa derajat (TQS al-Mujadilah [58]: 11).
Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya sekadar untuk melahirkan saintis pembangun peradaban. Yang utama justru untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh (syakhshiyyah islaamiyyah). Tujuan utama pendidikan dalam Islam sejalan dengan tujuan penciptaan manusia, yakni untuk mewujudkan hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Pendidikan harus melahirkan manusia yang menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Hal ini ditegaskan dalam al-Quran:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (TQS adz-Dzariyat [51]: 56).
Islam juga mewajibkan pemimpin negara untuk memuliakan ilmu, para pencari ilmu dan para pengajarnya. Dalam pandangan Islam, guru adalah profesi mulia dan wajib dimuliakan. Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaan orang yang mengajarkan ilmu:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR at-Tirmidzi).
Pesan utama hadis ini menegaskan bahwa profesi guru yang mengajarkan ilmu adalah amal yang sangat mulia. Dalam pandangan Islam, kemuliaan guru ditandai dengan mendapat doa dari seluruh makhluk.
Pemimpin negara juga wajib menyediakan infrastruktur pendidikan yang memadai. Prinsip kepemimpinan dalam Islam ditegaskan dalam Hadis Nabi saw.:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Imam (pemimpin negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Tanggung jawab ini mencakup penyediaan sistem pendidikan yang berkualitas dan merata. Sejarah mencatat bagaimana lembaga-lembaga pendidikan seperti Baitul Hikmah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia yang didukung penuh oleh Negara (Khilafah Islam). Dari lembaga-lembaga semacam ini lahir para ulama dan ilmuwan terkemuka yang berkontribusi besar pada berbagai disiplin ilmu.
Membangun Peradaban Emas
Islam juga mengarahkan pendidikan untuk membangun kekuatan umat. Tujuannya agar umat mandiri, berpengaruh di tingkat global, serta terbebas dari penjajahan ekonomi dan ketergantungan teknologi. Sistem pendidikan Islam dengan kekuatan landasannya yang sempurna akan mampu mewujudkan negara super power yang akan membawa arah peradaban dunia.
Peradaban besar yang lahir dari sistem pendidikan Islam akan menjadi kekuatan global yang mandiri dan mampu menghadapi hegemoni global peradaban sekuler kapitalistik saat ini. Islam menegaskan pentingnya menyiapkan kekuatan maksimal sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ
Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu (TQS al-Anfal [8]: 60).
Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada era Kekhalifahan Islam, umat Islam menjadi pusat inovasi dan peradaban dunia. Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Montgomery Watt. Ia menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”
Jacques C. Reister juga berkomentar, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”
Bahkan yang menarik, sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga pernah diakui oleh salah seorang mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Hal itu terungkap saat dia berpidato tanggal 5 Juli 2009. Dia antara lain menyatakan, “Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa…” (http://jakarta.usembassy.gov.).
Hal ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan iman, ilmu dan kekuasaan mampu melahirkan peradaban unggul. Hal ini membuktikan bahwa Islam, sebagai agama sempurna dengan seluruh perangkat ajarannya, mampu mewujudkan peradaban maju dan mulia.
Alhasil, jika Indonesia ingin menjadi negara yang mengusung peradaban emas sekaligus menjadi negara adidaya yang maju dan kuat, tak ada jalan lain, kecuali negeri ini harus menerapkan sistem pendidikan Islam. Tentu dalam naungan institusi pemerintahan yang menjadikan Aqidah Islam sebagai asasnya, sebagaimana pada era kekhilafahan Islam dulu.
WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. []
—*—
Hikmah:
Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بَِٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Siapa saja yang mengingkari ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (TQS Ali Imran [3]: 19). []
—*—
0505 Update Kaffah
Bagaimana Kita Mengalahkan Amerika?
Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat tajam pada hari ke-67 konflik Iran, terutama di sekitar Selat Hormuz. Uni Emirat Arab mengklaim berhasil mencegat rudal Iran dan melaporkan kebakaran di fasilitas minyak Fujairah akibat dugaan serangan drone. Sejumlah negara seperti Qatar, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, dan Uni Eropa mengecam insiden tersebut. Dampaknya juga mulai terasa dengan adanya korban luka di UEA dan Oman serta kerusakan pada fasilitas energi dan infrastruktur sipil.
Di tengah eskalasi tersebut, Amerika Serikat meluncurkan operasi “Project Freedom” untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan klaim menenggelamkan kapal kecil Iran dan mengawal kapal dagang. Namun, Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa mereka memiliki hak penuh atas kontrol Hormuz. Presiden AS Donald Trump juga mengancam Iran akan “dilenyapkan” jika menyerang kapal AS, sementara Iran menyatakan tidak ada solusi militer untuk krisis ini. Ketegangan yang terus meningkat ini turut mendorong kenaikan harga minyak dunia lebih dari 5 persen dan mengganggu stabilitas energi global.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir terdapat tiga korban jiwa (dua korban baru dan satu korban yang sebelumnya tertimbun puing) serta 11 orang terluka akibat serangan Israel. Sejumlah korban lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan dan belum dapat dijangkau oleh tim penyelamat. Sejak gencatan senjata pada 11 Oktober, total korban tercatat mencapai 834 orang tewas dan 2.365 orang luka-luka. Secara keseluruhan sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa mencapai 72.615 orang dengan 172.468 orang terluka (Kementerian Kesehatan Gaza, 5 Mei 2030).
Salah satu pertanyaan penting dalam perang Iran–AS (Amerika–Israel) adalah apakah Iran bisa mengalahkan Amerika. Dalam hal ini perlu dibedakan antara kemampuan bertahan dan kemampuan menang secara total. Iran terbukti mampu memberikan perlawanan dan menyulitkan AS, terutama melalui strategi perang asimetris dan pertahanan regional, namun belum memiliki kapasitas untuk mengalahkan Amerika sebagai kekuatan global. Hal ini karena AS masih unggul dalam militer, ekonomi, aliansi, dan pengaruh sistem internasional. Selama tatanan global yang dipimpin Barat masih berlaku, Iran maupun negara-negara Islam lainnya belum berada pada posisi untuk mengalahkan Amerika secara menyeluruh.
Dengan sistem Iran sekarang ini yang berbasis republik (nation-state), ditambah lagi paham sektarian yang diadopsi negara, Iran tidak akan bisa melakukan itu. Kecuali Iran bersama dunia Islam lain mencampakkan semua aturan Barat yang menjerat, membangun kekuatan dan jaringan global sendiri dengan sistem politik yang benar-benar lepas dari Barat. Dan itu hanya akan terwujud jika umat Islam memiliki Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Dan itulah yang harus diperjuangkan bersama umat Islam. Allahu Akbar. (***)
Editor: Ao S Dwiyantho Putra
Email: aodwiyantho@gmail.com




















Komentar