RUZKA INDONESIA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja intermediasi perbankan terus meningkat dengan profil risiko yang terjaga. Per Mei 2026, total kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8.918 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan data tersebut usai Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 21,95% yoy. Disusul kredit modal kerja yang tumbuh 8,09% yoy, dan kredit konsumsi sebesar 5,89% yoy.
Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi yaitu 18,39% yoy. Kredit UMKM juga melanjutkan tren peningkatan dengan tumbuh 0,60% yoy pada Mei 2026. Angka ini naik dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 0,16% yoy. Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi sebesar 15,98% yoy.
Porsi produk kredit buy now pay later (BNPL) perbankan tercatat sebesar 0,34%. Per Mei 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK tumbuh 37,72% yoy menjadi Rp30,1 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta.
Di sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,49% yoy menjadi Rp10.294 triliun. Rinciannya, giro tumbuh 20,53% yoy, deposito 10,17% yoy, dan tabungan 10,21% yoy.
Likuiditas industri perbankan pada Mei 2026 tetap memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) sebesar 108,20% dan alat likuid/DPK (AL/DPK) 24,74%, masih jauh di atas threshold masing-masing 50% dan 10%. Sementara liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 186,54%.
Kualitas Kredit dan Permodalan Terjaga
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,17% dan NPL net 0,84%. Loan at risk (LaR) tercatat 8,72%.Tingkat profitabilitas bank yang diukur dari ROA sebesar 2,45%. Ketahanan permodalan juga kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) tercatat 23,74%, mencerminkan buffer mitigasi risiko yang memadai.*** Editor: Yoyok Bepe, Email: yoyokbp@gmail.com






Komentar