Kolom Nasional
Beranda ยป Berita ยป Didik J. Rachbini Kenang Abdullah Syarwani: Representasi Transformasi Kaum Santri Menuju Dunia Intelektual Modern

Didik J. Rachbini Kenang Abdullah Syarwani: Representasi Transformasi Kaum Santri Menuju Dunia Intelektual Modern

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, mengenang sosok Abdullah Syarwani, sahabat seniornya di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), yang meninggal dunia pada Senin, 2 November 2026, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-83.

Abdullah Syarwani dikenal sebagai mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon.

Meski namanya tidak sepopuler sejumlah tokoh politik nasional lainnya, perjalanan hidup dan kariernya memiliki arti penting dalam sejarah transformasi kaum santri Indonesia.

Dalam tulisannya, Didik J. Rachbini menggambarkan Syarwani sebagai representasi perjalanan kaum santri dari lingkungan pesantren tradisional menuju pendidikan tinggi modern, gerakan intelektual, masyarakat sipil, hingga dunia politik dan diplomasi.

Perjalanan Syarwani dimulai dari lingkungan pesantren Tebuireng. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan meraih gelar sarjana hukum.

Raih Penghargaan APSIPOL, Meutya Hafid: PP TUNAS Lindungi Masa Depan 70 Juta Anak

Pada akhir 1960-an, pencapaian tersebut merupakan sesuatu yang istimewa, mengingat masih terbatasnya kaum santri yang menempuh pendidikan tinggi dalam disiplin ilmu modern atau sekuler.

Mengutip pandangan Fachry Ali, sahabatnya di LP3ES, Didik menyebut perjalanan karier Syarwani sebagai sesuatu yang sangat khas dan tidak biasa.

“Karirnya sangat bersifat spesifik dan bahkan ‘eksotik’.

Generasi Awal Kaum Santri

Didik menjelaskan bahwa Syarwani termasuk generasi awal kaum santri yang berhasil menembus pendidikan tinggi modern.

Pencapaiannya bahkan mendahului mobilitas pendidikan sejumlah generasi santri yang kemudian tampil dalam panggung politik nasional.

Wamen Nezar Patria Dorong Startup Aceh Ciptakan AI Berbasis Bahasa Lokal

Setelah menyelesaikan pendidikan di UGM, Syarwani bergabung dengan LP3ES, sebuah lembaga yang menjadi salah satu pusat gerakan intelektual dan pengembangan masyarakat sipil di Indonesia.

Di lembaga tersebut, ia dipercaya menjadi Kepala Program Pengembangan Pesantren.

Kehadiran Syarwani menjadi bagian dari pertemuan menarik antara kalangan santri dan kelompok intelektual sekuler di LP3ES.

Pada periode yang sama, sejumlah intelektual berlatar belakang santri, seperti Fachry Ali dan Ison Basyuni, juga bergabung dengan lembaga tersebut.

Melalui program pengembangan pesantren, LP3ES turut mendorong modernisasi di lingkungan pendidikan Islam tradisional.

Prabowo Lawan Oligarki, Kenapa Pemkot Tangsel Copot Baliho Anti-Oligarki

Gerakan Masyarakat Sipil

Pesantren tidak lagi hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi bagian penting dari gerakan masyarakat sipil.

Setelah menyelesaikan kiprahnya di LP3ES, Syarwani melanjutkan aktivitasnya dalam gerakan masyarakat sipil melalui Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sebagai mitra pemerintah dalam berbagai kegiatan sosial.

Menurut Didik, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan modern dan keterlibatan dalam gerakan masyarakat sipil telah membuka ruang mobilitas sosial dan politik bagi kaum santri.

Dari Gerakan Intelektual ke Panggung Politik

Perjalanan Syarwani kemudian berlanjut ke dunia politik. Ia menjadi salah satu pimpinan PPP, anggota DPR RI, hingga dipercaya menjalankan tugas diplomatik sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon.

Dalam perjalanan hidupnya, Syarwani juga dikenal memiliki hubungan persahabatan dengan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Jimly Asshiddiqie, Hamzah Haz, dan Abdurrahman Wahid.

Kedekatan tersebut memperlihatkan luasnya jaringan pergaulan intelektual dan politik yang dibangunnya.

Didik menilai, meskipun perjalanan Syarwani tidak selalu menjadi sorotan publik seperti sejumlah tokoh santri kontemporer, kontribusinya memiliki makna historis yang penting.

“Perjalanan hidup dan pergerakan Abdullah Syarwani tidak menggelagar seperti tokoh-tokoh santri pada saat ini. Tetapi perjalanan hidupnya tidak hanya merupakan biografi pribadi, tetapi juga menjadi cermin perubahan besar dalam sejarah masyarakat Indonesia,” ungkap Didik dalam keterangan yang diterima, Selasa (03/11/2026).

Lebih jauh, Didik melihat bahwa mobilitas vertikal kaum santri yang telah dirintis oleh generasi Syarwani kini berkembang semakin luas.

Kaum santri telah memasuki berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, politik, sosial, hingga sektor-sektor profesional lainnya.

Refleksi yang Mempertemukan Dua Dunia

Ia menegaskan bahwa hal menarik dari perjalanan hidup Abdullah Syarwani adalah kemampuannya mempertemukan dua dunia yang selama ini kerap dianggap terpisah, yakni tradisi keagamaan dan pendidikan modern, dunia pesantren dan universitas, serta nilai-nilai keislaman dan gagasan modernisasi pembangunan.

“Yang menarik dari perjalanan hidupnya adalah refleksi yang mempertemukan dua dunia yang sering dianggap terpisah: tradisi keagamaan dan pendidikan modern, dunia pesantren dan dunia universitas, serta nilai-nilai keislaman dan gagasan modern pembangunan,” jelas Didik.

Bagi Didik, sosok Abdullah Syarwani bukan sekadar seorang tokoh yang memiliki perjalanan karier panjang, melainkan bagian dari sejarah penting transformasi masyarakat Indonesia.

Ia menjadi salah satu contoh generasi santri yang berhasil menembus batas-batas tradisional, memasuki dunia pendidikan modern, membangun gerakan intelektual dan masyarakat sipil, hingga mengambil peran dalam penyelenggaraan negara.

Kepergian Abdullah Syarwani menjadi kehilangan bagi keluarga, sahabat, dan lingkungan intelektual yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Namun, jejak perjuangannya akan tetap dikenang sebagai salah satu bagian penting dari sejarah modernisasi kaum santri di Indonesia. (***)

Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom