Trump bergaya Yesus AI. Rakyat Amerika justru marah. Agama ternyata masih punya batas moral di tengah politik populis.
RUZKA INDONESIA — Donald Trump tampaknya memang tidak pernah puas hanya menjadi presiden. Menjadi kepala negara saja rasanya kurang gurih.
Ia ingin menjadi semacam nabi politik, mesias algoritma, imam besar nasionalisme Amerika, lengkap dengan jubah putih, cahaya surgawi, dan burung elang.
Ia tampil dengan latar bendera AS berkibar seperti spanduk diskon di pusat perbelanjaan kapitalisme.
Kita pun melihat, dunia modern benar-benar telah sampai pada satu titik aneh: teknologi kecerdasan buatan bukan terpakai untuk mengatasi kemiskinan, tapi membuat seorang presiden tampak seperti Yesus Kristus versi CGI.
Maka muncullah gambar AI Trump dengan pose seorang pendeta penyembuh ilahi. Tangan terletak ke kepala orang sakit. Cahaya memancar dari jemarinya.
Elang Amerika terbang di belakangnya. Bendera berkibar seperti hendak mengiringi kedatangan wahyu baru dari Silicon Valley.
Kalau lukisan Renaissance dulu menggambarkan para santo dengan aura emas, maka era digital menggambarkan politisi dengan filter kecerdasan buatan dan mesin propaganda media sosial.
Namun panggung religius-politik yang norak itu ternyata mendapat respons buruk dari bangsa Amerika. Bahkan sangat buruk.
Jejak Pendapat
Jajak pendapat yang diselenggarakan Washington PostโABC NewsโIpsos, Jumat pekan lalu, memperlihatkan sesuatu yang menarik: 87 persen rakyat Amerika bereaksi negatif terhadap gambar Trump ala Yesus itu. Bahkan 69 persen menyatakan sangat negatif.
Yang lebih menarik lagi, penolakan itu juga datang dari basis pendukung Trump sendiri. Delapan dari sepuluh pemilih Trump merasa gambar itu keterlaluan.
Titik inilah kita melihat bahwa rakyat Amerika, betapapun terkenal religius, ternyata masih memiliki batas psikologis terhadap eksploitasi simbol suci untuk narsisme politik.
Trump memang mencoba bermain wilayah yang sangat tua dalam sejarah manusia: politik mesianistik.
Dalam teori Max Weber, ada yang disebut โotoritas kharismatikโ, yakni kekuasaan yang terbangun bukan semata hukum atau institusi, melainkan keyakinan massa bahwa seorang pemimpin memiliki kualitas luar biasa, bahkan nyaris transenden.
Hitler memakainya. Mussolini memakainya. Banyak penguasa modern memakainya. Bedanya, dahulu kultus dibangun lewat radio dan poster propaganda.
Kini dibangun lewat meme, AI image, TikTok, dan Truth Social. Teknologi berubah, tetapi hasrat manusia untuk mencari โpenyelamatโ ternyata tetap awet seperti mi instan dalam gudang perang.
Dominasi Global Amerika
Trump memahami betul psikologi itu. Ia tahu sebagian rakyat Amerika sedang mengalami kecemasan sosial: ekonomi tak stabil, perang berkepanjangan, polarisasi budaya, migrasi, perubahan identitas gender, dan ketakutan kehilangan dominasi global Amerika.
Dalam situasi seperti itu, politik sering berubah menjadi agama sipil. Presiden tidak lagi memandang sebagai administrator negara, tetapi sebagai figur penyelamat peradaban.
Karena itu Trump bukan sekadar menjual kebijakan. Ia menjual rasa โdipilih Tuhanโ. Kalimatnya tentang โGod might be playing his Trump cardโ bukan sekadar candaan receh politik. Itu bahasa teologis.
Itu permainan simbol yang sengaja menyentuh alam bawah sadar religius masyarakat Amerika. Seolah-olah Tuhan sendiri sedang memasang kartu truf dalam perang kosmik melawan โiblisโ, โmonsterโ, dan โkaum radikalโ. Politik berubah menjadi kisah Armageddon Netflix.
Tetapi justru inilah menariknya bangsa Amerika. Mereka religius, tetapi tidak seluruhnya mau agamanya dijadikan bensin mesin politik.
Hasil survei menunjukkan mayoritas Katolik, Protestan, bahkan non-Kristen, sama-sama menolak unggahan Trump yang mengancam Iran dengan narasi kehancuran โsatu peradaban akan mati malam iniโ. Sebanyak 76 persen menolak.
Bahkan ketika Menteri Pertahanan Pete Hegseth berdoa agar pasukan AS menimpakan โkekerasan luar biasa tanpa belas kasihanโ, 69 persen rakyat Amerika bereaksi negatif.
Muak dengan Retorika Perang Religius
Bayangkan ironi ini. Negara yang selama puluhan tahun kena cap dunia Islam sebagai mesin perang global justru rakyatnya sendiri mulai muak dengan retorika perang religius.
Mereka tampaknya mulai sadar bahwa ketika Tuhan terlalu sering meminjam politisi, biasanya yang datang bukan surga, melainkan kuburan massal.
Fenomena ini sebenarnya telah lama terkaji dalam sosiologi agama Amerika. Robert Bellah menyebut adanya โcivil religionโ, agama sipil Amerika, yakni keyakinan nasional yang mencampurkan patriotisme dengan simbol-simbol religius.
Presiden bersumpah atas Alkitab. Dolar bertuliskan โIn God We Trustโ. Tuhan selalu hadir dalam pidato politik. Amerika bukan negara sekuler ala Prancis yang memisahkan agama secara dingin dari ruang publik.
Agama di Amerika justru hidup berdampingan dengan nasionalisme seperti kopi dan gula: susah terpisahkan.
Tetapi Bellah juga mengingatkan bahwa agama sipil bisa berubah berbahaya ketika negara mulai merasa dirinya alat Tuhan untuk menghukum dunia.
Titik itu, perang menjadi โmisi suciโ, bom menjadi โtugas moralโ, dan lawan politik dianggap โsetanโ. Persis seperti retorika yang kini dimainkan Trump dan sebagian elite konservatif Amerika.
Menariknya, rakyat Amerika tampaknya sedang memberi rem. Mereka mungkin konservatif. Mereka mungkin religius. Tetapi survei ini menunjukkan mayoritas masih membedakan antara iman dan kultus politik.
Mereka bisa mendukung agama, tetapi tidak nyaman ketika presiden memposisikan diri seperti nabi digital berambut emas.
Menolak Perang
Dukungan besar terhadap Paus Leo XIV juga memperlihatkan kecenderungan penting. Sebanyak 66 persen rakyat Amerika mendukung seruan Paus agar rakyat menekan Kongres demi perdamaian dan menolak perang. Ini penting sekali.
Sebab, bagi mereka, Paus tampil membawa agama sebagai suara moral universal, bukan sebagai alat glorifikasi kekuasaan. Ia berbicara tentang damai, bukan kehancuran nuklir. Tentang nurani, bukan ancaman kiamat geopolitik.
Dan inilah perbedaan mendasar itu terlihat. Trump menggunakan agama untuk memperbesar dirinya. Sedangkan Paus menggunakan agama untuk memperkecil ego kekuasaan.
Yang satu memotret diri bersama โYesus AIโ. Yang satu justru mengingatkan dunia bahwa Injil bukan alat kampanye perang.
Amerika akhirnya tampak seperti laboratorium besar tentang masa depan agama modern. Sanalah kita melihat dua arus bertabrakan.
Identitas Politik
Satu arus menjadikan agama sebagai senjata identitas politik dan mesin populisme. Arus lain mencoba mempertahankan agama sebagai suara etika dan kemanusiaan universal.
Dan publik Amerika, setidaknya dari survei ini, tampaknya mulai lelah melihat Tuhan dijadikan buzzer politik. Barangkali rakyat Amerika mulai sadar: ketika politisi terlalu sering menyebut nama Tuhan, biasanya bukan karena mereka takut kepada Tuhan, melainkan karena mereka ingin rakyat takut kepada mereka.
Sejarah memang selalu lucu. Dulu para raja mengaku keturunan dewa. Kini para politisi membuat versi AI dirinya dipeluk Yesus. Bedanya cuma teknologi. Nafsu kekuasaannya tetap sama.
Dan rakyat Amerika, meski sering tertuduh fanatik, rupanya masih cukup waras untuk berkata: โSebentar, Pak Presiden. Jangan semua hal menjadikan panggung mesias.โ
Karena kalau setiap presiden merasa dirinya utusan langit, dunia bisa berubah menjadi perang salib berjubah nuklir. (***)
Penulis: Cak AT – Ahmadie Thaha/Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 8/5/2026




















Komentar