Galeri
Beranda ยป Berita ยป Ketika Seni Tradisi Menjadi Gerakan Kemanusiaan untuk Pejuang Kanker Payudara

Ketika Seni Tradisi Menjadi Gerakan Kemanusiaan untuk Pejuang Kanker Payudara

Foto bersama usai pementasan Wayang Orang bertajuk "KUNTI - Perempuan & Takdir" di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Sabtu (07/11/2026). (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Seni tradisi bukan sekadar warisan budaya yang dipertontonkan di atas panggung. Seni juga dapat menjadi bahasa kepedulian dan kekuatan untuk menggerakkan kemanusiaan.

Pesan itulah yang dihadirkan melalui pementasan Wayang Orang bertajuk “KUNTI – Perempuan & Takdir” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Sabtu (07/11/2026).

Adapun pementasan memadukan keindahan gamelan, tari, dan drama wayang orang ini memiliki misi sosial. Hasil bersih penjualan tiket didonasikan kepada Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) sebagai bentuk dukungan bagi perjuangan perempuan penyintas kanker payudara.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali bersama sejumlah undangan, tokoh masyarakat, pecinta seni, dan keluarga besar TNI AL.

Mengangkat kisah Dewi Kunti, ibu para Pandawa, pertunjukan ini menghadirkan refleksi tentang keteguhan perempuan dalam menghadapi perjalanan hidup yang tidak selalu mudah.

Guardian Hadirkan Toko Grab-and-Go Pertama di Hub Transportasi JPM Dukuh Atas

Kunti digambarkan sebagai sosok yang menyimpan cinta, rahasia, pengorbanan, dan keberanian dalam menerima takdir.

Tersimpan Pesan Tentang Kekuatan Seorang Perempuan

Di balik kisah pewayangan tersebut, tersimpan pesan tentang kekuatan seorang perempuan ketika menghadapi cobaan kehidupan. Nilai inilah yang kemudian dipertemukan dengan perjuangan para penyintas kanker payudara.

Pementasan diarahkan oleh Sutradara Teguh “Kenthus” Ampiranto dengan koreografi Nanang Ruswandi dari Wayang Orang Bharata.

Pergelaran diprakarsai Vero Yudo Margono yang juga memerankan Dewi Nagagini. Sementara itu, Aylawati Sarwono bertindak sebagai Produser Eksekutif dari Laskar Indonesia Pusaka sekaligus memerankan Dewi Dursilawati.

Sejumlah tokoh turut mengambil bagian, di antaranya Fera Muhammad Ali, Ketua Jalasenastri, sebagai Dewi Kunti; Giok Hartono sebagai Dewi Gendari; serta Ninok Leksono sebagai Semar.

Iwan Fals Ajak Salam Tiga Jari, Simbol Perlawanan Terhadap Kekuasaan yang Menindas

Keistimewaan pementasan ini juga terlihat dari keterlibatan sejumlah perwira tinggi dan purnawirawan TNI yang berkolaborasi dengan seniman profesional Wayang Orang Bharata.

Mereka antara lain Laksamana TNI (Purn.) H. Yudo Margono sebagai Bimasena, Letjen TNI (Purn.) Dodik Wijanarko sebagai Batara Antaboga, Marsdya TNI (Purn.) FH Bambang Soelistyo sebagai Prabu Basudewa, serta sejumlah perwira tinggi lainnya yang turut menghidupkan karakter pewayangan.

Di antara penampilan para tokoh dan seniman tersebut, kehadiran Safia, seorang sinden cilik, juga mencuri perhatian penonton.

Regenerasi Seni Tradisi

Suara dan kepiawaiannya melantunkan tembang Jawa mendapat apresiasi dari Helena Rini, pengurus Persatuan Istri Purnawirawan Angkatan Laut (PIPAL) dan suaminya, Laksma TNI (Purn) Nelson Hutasoit, yang hadir menyaksikan pertunjukan.

“Safia sinden cilik. Dia nyinden tadi, bagus banget,” ungkap Helena Rini dengan penuh kekaguman.

Personel Swara SeadaNya Rebut Juara 1 Halloween Catwalk Contest, Bawakan Tema Hantu Lokal

Penampilan Safia menjadi salah satu warna tersendiri dalam pementasan tersebut.

Kehadirannya sekaligus memperlihatkan bahwa regenerasi seni tradisi dapat tumbuh melalui keterlibatan anak-anak dalam menjaga dan mengenalkan budaya kepada generasi berikutnya.

Kolaborasi lintas kalangan tersebut memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap seni tradisi dapat menyatukan berbagai profesi dan generasi dalam satu panggung kebudayaan.

Penyelenggaraan kegiatan ini didukung TNI Angkatan Laut, Jalasenastri, PT Sinar Karya Duta Abadi, Bakti Budaya Djarum Foundation, Yayasan Sekar Ayu Jiwanta, BCA, Walrus, Ikatan Perangkai Bunga Indonesia, YOUโ€ขCl000, serta para donatur.

Selain pertunjukan seni, penyelenggara juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui berbagai produk batik, kuliner, dan kerajinan. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat kegiatan bagi pelaku ekonomi kreatif.

Melalui KUNTI-Perempuan & Takdir, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

Menghidupkan Kembali Kisah Klasik Tentang Seorang Ibu

Pada akhirnya, panggung wayang orang ini tidak hanya menghidupkan kembali kisah klasik tentang seorang ibu dan perjalanan takdirnya.

Lebih dari itu, ada pesan bahwa di tengah perjuangan menghadapi penyakit, perempuan membutuhkan dukungan, perhatian, dan kepedulian bersama.

Sebab, seni yang sesungguhnya hidup bukan hanya seni yang mampu memukau penonton, tetapi juga seni yang menghadirkan manfaat dan harapan bagi sesama. (***)

Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom