RUZKA INDONESIA –.Suara tegang dan riuh tepuk tangan membahana di Rhumb Studio, Permata Hijau, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam (31/10/2026).
Di balik keremangan lampu dan suasana mistis event Halloween Catwalk Contest, puluhan karakter horor berjalan melintasi panggung busana.
Namun, dari 50-an peserta yang tampil memukau malam itu, giliran personel grup musik Swara SeadaNya yang paling berhasil menyedot perhatian dan “menyihir” dewan juri.
Sekitar pukul 21.00 WIB, parade kostum dimulai. Setiap peserta diberi kesempatan dua kali melangkah di atas catwalk untuk memamerkan detail busana serta penjiwaan karakter mereka.
Di tengah dominasi kostum horor bergaya barat, tiga personel Swara SeadaNya, Asep Rachman Muchlas, Theressa Rida, dan Indonesiana Ayuningtyas, hadir membawa warna yang kontras namun memikat.
Asep Rachman Muchlas melangkah percaya diri membawakan sosialisasi mistis Sunda lewat kostum “Jurig Dempak”, sosok hantu legendaris bermuka rata tanpa mata, hidung, maupun mulut.
Eksekusi visual yang mistis dan unik ini memberikan sensasi ketakutan yang dingin bagi penonton.
Tampil Anggun Sekaligus Magis Sebagai Badarawuhi
Di sampingnya, Theressa Rida tampil anggun sekaligus magis sebagai Badarawuhi, rupa siluman setengah wanita cantik dan setengah ular penguasa rawa gaib dari kisah viral KKN di Desa Penari.
Sementara itu, Indonesiana Ayuningtyas memberikan sentuhan dark elegancy lewat karakter antagonis dari film psychological thriller legendaris Black Swan (2010).
“Sebenarnya gak nyangka bisa jadi Juara 1 karena para peserta lain juga keren-keren kostum Halloween-nya,” ujar Asep Rachman Muchlas usai menghentakkan panggung dan resmi dinobatkan oleh dewan juri sebagai Juara 1 Halloween Catwalk Contest.
Kemenangan ini menjadi catatan manis tersendiri bagi grup Swara SeadaNya. Manajer Swara SeadaNya, Ayi Suminar, mengungkapkan rasa bangga atas apresiasi tinggi yang didapatkan oleh timnya.
“Kami bersyukur bahwa karya kami diapresiasi positif oleh para juri, bahkan dua kostum hantu lokal yang kami bawakan mencuri perhatian penonton,” ungkap Ayi Suminar dengan penuh rasa bangga.
Keberhasilan kostum “Jurig Dempak” dan “Badarawuhi” mencuri perhatian juri serta penonton bukan tanpa alasan.
Ikon Horor Pop-Culture Barat
Di tengah maraknya perayaan Halloween yang didominasi oleh ikon horor Pop-Culture Barat (seperti vampire, drakula, penyihir, atau pembantai fiksi), keputusan menyajikan cerita folklore Nusantara justru menjadi pembeda utama.
Membawa mitologi lokal seperti โJurig Dempakโ, yang jarang diangkat di arena umum, menunjukkan kedalaman riset dan keberanian keluar dari pola arus utama peragaan busana Halloween.
Sosok hantu lokal memiliki kedekatan budaya dan daya tarik mistis tersendiri bagi publik Indonesia.
Karakter Badarawuhi dan Jurig Dempak menghadirkan sensasi merinding yang otentik karena berakar dari cerita rakyat dan urban legend yang dikenal masyarakat. Perpaduan antara seni kostum lokal dan performa aksi panggung yang menjiwai terbukti ampuh meluluhkan penilaian juri.
Kemenangan ini tidak hanya menasbihkan Swara SeadaNya sebagai jawara peragaan busana malam itu, tetapi juga membuktikan bahwa folklore dan kebudayaan horor lokal memiliki daya pikat luar biasa jika dikemas secara kreatif di atas panggung modern.
Swara SeadaNya sendiri adalah kelompok musik/seni kreatif yang senantiasa mengeksplorasi ruang-ruang ekspresi seni, seni pertunjukan, dan kebudayaan melalui karya musik maupun penampilan visual yang unik dan berkarakter. (***)
Sumber: Humas Swara SeadaNya
Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar