RUZKA INDONESIA — Guru Besar Keperawatan Anak dari Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI), Prof. Dessie Wanda, S.Kp., M.N., Ph.D., menyoroti kasus bayi berusia 24 hari yang dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya.
Dia menekankan pentingnya edukasi kesehatan dalam pengasuhan bayi, terutama ketika keluarga masih berpegang pada kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Kebiasaan yang diwariskan dari orang tua atau kakek-nenek kerap menjadi bagian dari cara keluarga merawat anak.
Namun, tidak semua kebiasaan tersebut sesuai dengan kebutuhan kesehatan bayi. Karena itu, keluarga perlu memastikan bahwa praktik pengasuhan yang dilakukan aman dan sesuai dengan usia bayi.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemberian makanan kepada bayi. Telur mentah, misalnya, berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi.
Pemberian makanan kepada bayi perlu mengikuti rekomendasi kesehatan sesuai usia dan kondisinya.
Edukasi Kesehatan
Menurut Prof. Dessie, edukasi kesehatan kepada keluarga perlu dilakukan dengan komunikasi yang baik.
Tenaga kesehatan perlu memahami kebiasaan dan kepercayaan keluarga agar informasi mengenai perawatan yang aman dapat disampaikan dengan tepat, tanpa membuat keluarga merasa dihakimi.
โTragedi seperti ini menunjukkan perlunya komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan keluarga. Dalam pendekatan Ethno-Nursing, budaya tidak diposisikan sebagai hambatan, melainkan tatanan nilai yang perlu dipahami secara utuh. Tugas kita adalah mengedukasi masyarakat agar niat baik merawat cucu selalu sejalan dengan keselamatan bayi karena keselamatan bayi lebih utama,โ ujar Prof. Dessie dalam keterangan yang diterima, Rabu (14/10/2026).
Gagasan tersebut berkaitan dengan pendekatan Ethno-Nursing yang dikembangkan melalui Klaster Riset Ethno-Nursing and Cultural Care FIK UI.
Pendekatan ini membantu tenaga kesehatan memahami bagaimana nilai, kepercayaan, dan kebiasaan keluarga memengaruhi praktik perawatan kesehatan.
Tiga Prinsip
Prof. Dessie memaparkan tiga prinsip utama dalam pendekatan Ethno-Nursing, yaitu maintenance, negotiation, dan repatterning.
Maintenance berarti mempertahankan kebiasaan yang aman dan bermanfaat bagi kesehatan.
Negotiation dilakukan dengan menyesuaikan kebiasaan melalui kesepakatan antara tenaga kesehatan dan keluarga.
Sementara itu, repatterning bertujuan mengubah kebiasaan yang berisiko menjadi praktik perawatan yang lebih aman.
โAnak dan bayi belum memiliki kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri. Keselamatan bayi harus menjadi prioritas mutlak di atas kebiasaan apa pun,โ tegas Prof. Dessie.
Penerapan ketiga prinsip tersebut membantu tenaga kesehatan menentukan praktik pengasuhan yang dapat dipertahankan, perlu disesuaikan, atau harus diubah demi keselamatan bayi.
Pendekatan ini juga membantu tenaga kesehatan menyampaikan edukasi kesehatan dengan tetap mempertimbangkan latar belakang keluarga.
UI Terus Kembangkan Kajian Keperawatan
Melalui Klaster Riset Ethno-Nursing and Cultural Care, UI terus mengembangkan kajian keperawatan yang memperhatikan keragaman sosial dan budaya masyarakat.
Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung tenaga kesehatan dalam memberikan perawatan yang peka terhadap budaya sekaligus mengutamakan keselamatan pasien. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar