Teknologi
Beranda ยป Berita ยป Teknologi AI Boleh Berkembang, Manusia Tetap Punya Masa Depan

Teknologi AI Boleh Berkembang, Manusia Tetap Punya Masa Depan

Empat narasumber saat sesi pemaparan materi Coffee Talk: Future Ready dalam Creative Series: Road to Indonesia Youth Creativaganza 2027 di Depok, Jawa Barat. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menciptakan peluang. Namun, di tengah perubahan itu, manusia tetap menjadi penentu arah masa depannya sendiri.

RUZKA INDONESIA โ€” Masa depan tak selalu dimulai dari pertanyaan soal pekerjaan apa yang akan dijalani. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu bergeser: bagaimana mengenali potensi diri, keterampilan apa yang perlu dikuasai, bagaimana memanfaatkan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dan bagaimana berani menciptakan peluang ketika jalur yang ada terasa tak lagi cukup.

Persoalan itulah yang mengemuka dalam โ€œCoffee Talk โ€“ Future Readyโ€ di Sunzet Nusantara Cafe & Dining, Leuwinanggung, Depok, Jawa Barat, Rabu (30/9/2026).

Acara yang digelar PT BEEang Cipta Raya ini mempertemukan peserta dari berbagai kelompok usia untuk berbincang tentang pilihan kuliah, bekerja, berkarya, hingga menciptakan peluang.

Sebanyak 40 peserta dari kuota 50 orang terdaftar dalam kegiatan yang mempertemukan peserta dari berbagai kelompok usia untuk membicarakan pilihan kuliah, bekerja, berkarya, hingga menciptakan peluang sendiri.

Esai Denny JA: Lebih Cepat Dan Lebih Akurat, Proses Bisnis di Era Digital dan AI di Korporasi Kita

Keragaman peserta membuat obrolan tentang masa depan tak berhenti pada urusan memilih jurusan kuliah atau pekerjaan pertama. Dari minat yang masuk, karier paling banyak dipilih, disusul passion, skill, bisnis, dan pekerjaan. Sebagian peserta datang untuk memperluas jaringan dan melihat kemungkinan peluang baru.

Tema โ€œPilihan Langkah Menuju Masa Depan: Kuliah, Bekerja, Berkarya, atau Menciptakan Peluang?โ€ menjadi pintu masuk percakapan. Peserta diajak melihat pengalaman kerja, teknologi, karya, potensi diri, dan koneksi sebagai bagian dari proses menentukan langkah berikutnya.

Di antara para pembicara, Arranggi Soemardjan membawa pembahasan pada perubahan dunia kerja dan posisi manusia di tengah perkembangan teknologi.

Jejaknya lintas negara dan sektor. Ia pernah menjadi pelajar pertukaran AFS di Jerman, lalu menempuh Teknik Manufaktur di Amerika Serikat dan Teknik Lift di Inggris. Kariernya mencakup R&D dan paten elevator internasional, penugasan di China dan Singapura, hingga memimpin perusahaan multinasional Jerman di Asia Tenggara.

Sepulang ke Indonesia, Arranggi membangun berbagai inisiatif di bidang pendidikan, karier, e-commerce, inklusi keuangan, agritech, dan AI, antara lain Clevio, Duithape, Tokyo8, dan Konsorsium Merah Putih. Pengalaman lintas sektor itu menjadi pijakannya ketika berbicara tentang teknologi dan masa depan manusia.

BDx Mulai Bangun AI Campus 2 Berkapasitas 640 MW di Jatiluhur

โ€œTeknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan peran, tetapi membantu manusia belajar, bekerja, dan mengeksekusi ide dengan lebih berdaya,โ€ kata Arranggi.

AI menjadi salah satu bidang yang dibawa Arranggi ke dalam percakapan. Topiknya mencakup AI praktis, skill masa depan, eksekusi ide, inovasi berdampak, agritech, serta human-centered technology.

Pembahasan tersebut menempatkan AI bukan semata pada kecanggihan teknologinya, tetapi pada bagaimana manusia tetap terlibat dalam proses belajar, bekerja, dan menghasilkan sesuatu.

Dari sana, pembicaraan bergerak pada cara seseorang mengenali dirinya sendiri. Perspektif itu disampaikan Yusup Ngadimin, Founder & CEO Uthoppia House Singapore, yang hadir sebagai invited guest.

Yusup memiliki pengalaman lebih dari 26 tahun dalam pengembangan teknologi dan pernah menjadi CTO, career coach, serta mentor anak muda. Melalui Uthoppia House, perusahaan berbasis AI di Singapura yang mengembangkan Mimicue.ai, ia memadukan teknologi dengan pemahaman perilaku manusia.

Jakarta Terancam Krisis Air, Inovator Indonesia Rudy Sumardi Tawarkan Mesin Air Laut Jadi Air Minum

Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu pelajar dan profesional muda mengeksplorasi potensi, melihat perjalanan orang dengan jalur serupa, serta menemukan pilihan pendidikan dan karier yang relevan.

โ€œTeknologi bukan alat untuk menentukan satu jalan yang paling benar, melainkan sarana untuk membantu seseorang memahami diri dan mengambil keputusan masa depan dengan lebih percaya diri,โ€ ujar Yusuf.

Pembahasan kemudian masuk pada AI career discovery, human behavior, eksplorasi potensi, pendidikan, pilihan karier, dan teknologi yang manusiawi. Pertanyaannya tidak lagi semata โ€œingin menjadi apaโ€, tetapi bagaimana seseorang memahami potensi dirinya dan menemukan pilihan yang sesuai dengan perjalanan yang sedang dijalani.

Percakapan juga meluas lewat pengalaman Ali โ€œCoboyโ€ Mustafa yang hadir juga sebagai pembicara. Penyanyi, aktor, presenter, dan entrepreneur ini memulai karier sebagai model Majalah Mode pada 1990 sebelum merambah akting, sinetron, FTV, televisi, dan menjadi master of ceremony.

Di luar dunia hiburan, ia berusaha di bidang periklanan dan properti. Tahun 2008 Ali pernah bekerja di industri perhotelan di Dubai selama tiga tahun. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembicaraan mengenai perjalanan kerja, perubahan arah, keberanian mengambil peluang, dan pengalaman lintas industri.

Yang tak kalah menarik adalah pembicara berikutnya David Saragih yang lebih dari 20 tahun berkecimpung sebagai aktor film, sinetron, dan iklan televisi nasional, David kemudian mengembangkan keahlian di bidang konten digital sebagai Certified Professional Content Creator dan trainer konten.

Ia juga merupakan Founder dan Trainer Utama Dasa Creative Communication serta Co-Founder Nusa Kreator. Di forum tersebut, David membawa pengalaman itu ke dalam pembahasan tentang keberanian menciptakan panggung sendiri melalui konten dan eksekusi ide.

โ€œAlih-alih menunggu panggung datang, saya memilih menciptakan panggung saya sendiri melalui konten dan keberanian mengeksekusi ide,โ€ papar David.

Pengalaman para pembicara dipertemukan dalam percakapan yang dipandu Tasya Yasin. Wanita ini berpengalaman di dunia penyiaran, antara lain sebagai reporter NET TV serta News Anchor dan Entertainment Host di MD TV.

Sebagai host, Tasya memandu alur percakapan, menjaga diskusi tetap hidup, dan menghubungkan pengalaman para narasumber dengan pertanyaan peserta.

Formatnya memang dirancang berbeda dari seminar formal satu arah. Peserta tak hanya mendengarkan pengalaman pembicara, tetapi juga diberi ruang membawa pertanyaan dan persoalan yang berkaitan dengan pilihan masa depan mereka.

Bagi penyelenggara, keberagaman peserta menunjukkan bahwa kebingungan menentukan langkah berikutnya tidak hanya dialami satu kelompok usia.

Founder & CEO PT BEEang Cipta Raya, Jany Asha, mengatakan, โ€œKami memulai dari mendengarkan. Profil pendaftar menunjukkan bahwa kebingungan menentukan langkah ke depan bukan hanya milik satu kelompok usia. Karena itu, kami ingin membuka ruang yang tidak menghakimi apakah seseorang memilih kuliah, bekerja, berkarya, atau mulai menciptakan peluangnya sendiri.โ€

Percakapan lalu diarahkan ke satu langkah konkret. Pada akhir acara, peserta mengikuti sesi Suara Peserta & Real Cases bersama seluruh narasumber.

Peserta dan narasumber berfoto bersama usai acara Coffee Talk: Future Ready. (Foto: Djoni Satria/ RUZKA INDONESIA)

Mereka kemudian menuliskan satu langkah nyata pada lembar My Next Step dan menempelkannya di Future Wall. Dengan cara itu, pembicaraan tak berhenti pada gagasan tentang pilihan. Peserta diminta menerjemahkan percakapan tersebut menjadi satu langkah yang bisa mulai dijalankan.

Coffee Talk โ€“ Future Ready juga menjadi langkah awal Creative Series โ€“ Road to Indonesia Youth Creativaganza 2027. Program ini mempertemukan tiga kekuatan BEEang: event sebagai ruang pertemuan, media sebagai sarana mendokumentasikan dan memperluas cerita, serta pengembangan program sebagai jalan menumbuhkan percakapan menjadi kegiatan dan kolaborasi berikutnya.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang masa depan memang tak selalu punya satu jawaban. Ada yang memilih kuliah, memasuki dunia kerja, membangun karya, mengembangkan bisnis, atau menciptakan peluang sendiri.

Di tengah perubahan teknologi, percakapan di Depok ini menyisakan satu benang merah: teknologi dapat menjadi bagian dari perjalanan itu, tetapi manusia tetap berada di dalam prosesnya, mengenali potensi, mengambil keputusan, dan menjalankan gagasannya. (***)

Journalist/Editor: Djoni Satria

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

06

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

07

Komunitas Bakul Budaya Meriahkan Pembukaan Pameran Arsip Bagong Kussudiardja

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom