Galeri
Beranda ยป Berita ยป Empat Tahun Bakul Budaya Nusantara dan Hari Tenun Nasional 2026: Dari Tenun hingga Karhutla Kalimantan

Empat Tahun Bakul Budaya Nusantara dan Hari Tenun Nasional 2026: Dari Tenun hingga Karhutla Kalimantan

Tari Enggang dari Kalimantan Timur dibawakan oleh 11 anggota Bakul Budaya Nusantara, di FIB UI, Minggu, 13 September 2026, dalam rangka HUT ke-4 Bakul Budaya Nusantara. (Foto: Dok Bakul Budaya Nusantara)

RUZKA INDONESIA — Yayasan Bakul Budaya Nusantara (BBN) kembali merayakan dua “hari besar” dalam waktu bersamaan, yaitu Hari Tenun Nasional dan Hari Ulang Tahun (HUT) BBN.

Bakul Budaya Nusantara, yang sebelumnya bernama Bakul Budaya, lahir pada 3 September 2022. Pada 2026, BBN mencapai usia empat tahun.

Sementara itu, 7 September diperingati sebagai Hari Tenun Nasional. Penetapan Hari Tenun Nasional dilakukan pada 16 Agustus 2021 melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021.

Perayaan HUT ke-4 BBN sekaligus Hari Tenun Nasional 2026 digelar di Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), pada Sabtu dan Minggu, 12 dan 13 September 2026.

Mengangkat tema โ€œKolaborasi dalam Aksi: Berkenalan dengan Tenun dan Budaya Kalimantanโ€, rangkaian kegiatan ini menjadi ruang untuk mengenal kekayaan budaya Kalimantan, tak terkecuali tenunnya, melalui kolaborasi BBN dengan berbagai pihak.

BPI Perkuat Ekosistem Perfilman: Gandeng Eagle Institute untukTalenta Dokumenter, Fasilitasi Diskusi Pelestarian Arsip Film Indonesia

Bakul Budaya Nusantara menyadari betul pentingnya berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menjalankan misi-misi organisasi sebagai salah satu kontribusi nyata untuk pemajuan kebudayaan nasional.

“Tahun ini BBN mengangkat budaya Kalimantan, mulai dari masyarakat Singkawang yang toleran, permainan tradisional Kalimantan Selatan yang edukatif, seni tari dan musik yang kaya, hingga wastranya yang memukau, termasuk tenunnya. Semua itu merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai pihak,” ujar Ketua Umum Yayasan Bakul Budaya Nusantara, Dewi Fajar Marhaeni.

Sebagaimana sebelumnya, rangkaian kegiatan kali ini diselenggarakan oleh BBN melalui kolaborasi dengan FIB UI. Dukungan dari pihak-pihak lain kali ini diperoleh dari Kementerian Kebudayaan RI dan Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan.

Dari Workshop dan Donasi hingga Pameran dan Bazar

Rangkaian kegiatan dimulai pada Sabtu (12/09/2026) dengan Workshop Tari Japin Rantauan di Pelataran FIB UI. Sekitar 100 orang menjadi peserta kegiatan hasil kolaborasi BBN dengan Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan.

Judi Wahjudin, S.S., M.Hum., Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, yang mewakili Ahmad Mahendra, M.Tr.AP., Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, hadir menyimak dan mendukung kegiatan yang dilakukan oleh BBN sebagai upaya pelestarian budaya melalui ruang edukasi bagi masyarakat secara lebih dekat.

Menua Tanpa Menjadi Lemah: Menemukan Kedamaian dan Vitalitas Senja Melalui Meditasi Kesadaran

Workshop tari tradisional Japin Rantauan dari Kalimantan Selatan dipandu oleh Sri Hermina, yang akrab disapa Kak Mimin, bersama dua asisten. Para peserta diajak mengenal sekaligus mempraktikkan tari Japin Rantauan.

Tari Japin Rantauan menggunakan pola langkah empat atau step 4. Pola langkah ini menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari tari zapin di Sumatera, yang umumnya menggunakan pola double step atau step 2.

Tari Japin Rantauan terdiri dari gerakan- gerakan khas japin yang ada di Kalimantan Selatan. Kehadiran tari tersebut menjadi salah satu upaya untuk memelihara gerakan-gerakan khas japin agar tetap dikenal dan tidak hilang.

Workshop tari Japin Rantauan diikuti dengan workshop tari kreasi Manasai dari Kalimantan Tengah. Sufiania Naya Subrata, salah satu anggota Pengurus dan guru tari BBN, menjadi pengajarnya.

Hari pertama dimeriahkan pula dengan pameran budaya Kalimantan bertajuk “Keliling Kalimantan” dan bazar kuliner Nusantara yang menggugah selera.

Filosofi Orang Kampung, Kisah Tentang Si Doel Anak Sekolahan

Di area pameran, para pengunjung tampak menyimak kerajinan Kalimantan koleksi fotografer Ati Bachtiar dan suaminya, fotografer Ray Bachtiar; buku-buku dan foto-foto mengenai budaya Kalimantan karya Ati Bachtiar; serta produk-produk kebudayaan Kalimantan Selatan koleksi Anjungan Kalimantan Selatan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Kemeriahan hari pertama berlanjut dengan adanya “Beauty Class bersama OMG”. Para peserta diajak mengeksplorasi warna-warna Kalimantan dan membawanya ke dalam riasan.

Selain memperoleh pengetahuan mengenai budaya Kalimantan, pada hari pertama para peserta workshop tari dan beauty class serta pengunjung ikut berdonasi untuk membantu penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan.

Puncak Perayaan: Tenun, Tari, dan Nyanyi

Minggu (13/09/2026) pagi, Auditorium Soe Hok Gie, Gedung Sapardi Djoko Damono (Gedung IX) FIB UI, dipenuhi warna-warni busana Nusantara.

Pada hari kedua perayaan Hari Tenun Nasional 2026 dan HUT ke-4 BBN ini, pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, pegiat budaya, hingga pejabat berkumpul untuk mengenal lebih dekat budaya Kalimantan, terutama tenunnya.

Membuka acara, Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” tiga stanza dinyanyikan bersama dengan hikmat dan diikuti dengan “Mars Bakul Budaya Nusantara”.

Selanjutnya, tari Radap Rahayu dibawakan secara anggun dan kompak oleh sembilan penari perempuan dari BBN.

Salah satu tari tradisional Kalimantan Selatan ini dihadirkan sebagai wujud dari penghormatan dan doa keselamatan bagi para tamu yang hadir.

Ketua Umum BBN, Dewi Fajar Marhaeni, selaku tuan rumah menyambut tamu undangan dengan hangat.

Para tamu undangan yang hadir, antara lain, Dekan FIB UI sekaligus Pengawas BBN, Dr. Untung Yuwono, S.S.; Ketua Dewan Pembina BBN sekaligus Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, S.Kom.l.

Lalu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Lita Rahmiati, S.Sos., M.PP.; Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Kesenian Jakarta, Dr. Citra Smara Dewi, S.Sn., M.Si.; Kasubid Pelayanan dan Akomodasi Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan, Irisandy Nasution, S.Pd.; dan maestro tari Elly D. Luthan.

Sesudah sambutan-sambutan, rangkaian acara hari kedua dilanjutkan dengan tiga sesi sarat makna. Sesi pertama diawali dengan “Bincang-bincang Budaya: Berkenalan dengan Tenun Kalimantan”, yang mengulik aneka tenun tradisional Kalimantan bersama dua perancang fashion sekaligus pelestari tenun, yaitu Dian Oerip dan Wilsen Willim, serta moderator Heni Wiradimaja. Sesi pertama itu dilengkapi dengan tanya-jawab dan “Parade Tenun Kalimantan”.

Berikutnya, sesi kedua, merupakan pementasan seni Kalimantan yang dibawakan oleh para penari BBN serta para penari dan pemusik Slaras Budaya.

Sesi terakhir merupakan perayaan HUT ke-4 BBN sebagai wujud syukur atas perjalanan komunitas budaya yang kemudian menjadi yayasan budaya ini.

Berkenalan dengan Tenun Kalimantan

Dalam “Bincang-bincang Budaya: Berkenalan dengan Tenun Kalimantan”, Dian Oerip dan Wilsen Willim membagi pengetahuan dan pengalaman mereka tentang tenun Kalimantan sebagai bagian dari kekayaan wastra Nusantara.

Dian, yang tinggal di Ngawi, Jawa Timur, sudah menjelajah ke sejumlah tempat asal tenun Kalimantan. Contohnya, tenun Iban di Kalimantan Barat dan tenun ulap doyo di Kalimantan Timur.

Ia bercerita tentang beragam tenun Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, bahan dan proses pembuatannya, kehidupan para penenunnya, serta promosi dan pemasarannya.

“Kalimantan sangat kaya dengan tenun,” ujar Dian.

Ia memperlihatkan tiga tenun yang dibawanya. Salah satunya, tenun Dayak Iban dari kawasan Danau Sentarum, Kabupaten Putussibau, Kalimantan Barat. Kain tersebut dibuat dengan teknik sungkit yang memiliki cara pembuatan yang rumit.

Ia juga menyoroti bagaimana tenun menjadi bagian penting dari kehidupan para perempuan penenun. Hasil penjualan tenun digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga biaya sekolah anak.

Dian menceritakan pula upayanya membantu para penenun menjual karya mereka melalui live (tayangan langsung) media sosial ketika ia mendapat akses sinyal di tempat asal tenun-tenun bersangkutan.

Sementara itu, Wilsen memfokuskan diri pada tenun Dayak Iban. Didukung oleh Cita Tenun Indonesia, ia melakukan eksplorasi terkait tenun itu. Dalam karya fashionnya, ia menggunakan tenun tersebut dengan motif-motif geometris, yang bukan motif-motif sakral, untuk pasar dalam dan luar negeri.

Baik Dian maupun Wilsen berbicara tentang bagaimana tenun tradisional dapat terus hidup di tengah perubahan zaman.

Bagi Dian, keberlanjutan tenun juga berarti menjaga kehidupan para penenun, termasuk yang di Kalimantan, dan pengetahuan yang diwariskan di dalamnya. Sementara itu, bagi Wilsen, memperkenalkan tenun Kalimantan kepada masyarakat yang lebih luas dan generasi masa kini menjadi salah satu cara untuk membuat tenun tetap dikenal dan diminati.

Percakapan keduanya memperlihatkan bahwa merawat tenun bukan hanya soal mempertahankan kain, melainkan juga membuka ruang agar tradisi tersebut tetap hidup dan dekat dengan kehidupan masyarakat sekarang.

Cerita mengenai tenun kemudian berlanjut ke tanya-jawab dengan beberapa orang dari mereka yang hadir. Penutupnya, dengan iringan lagu “Paris Barantai” dari Kalimantan Selatan, 11 anggota BBN tampil memeragakan beragam tenun Kalimantan.

Ragam Kalimantan di Satu Panggung

Sesi berikutnya, pementasan seni tari dan musik Kalimantan, memperlihatkan upaya BBN dalam menjalankan sakah satu dari empat misinya, yaitu Melestarikan Budaya.

Panggung dipenuhi ragam gerak dari berbagai penjuru Kalimantan yang dibawakan oleh para anggota BBN.

Tari Bhawi, yang merupakan tari kreasi karya Elsi Sastia, mewakili Kalimantan Barat. Kemudian, bergulir Tari Jepin Indung-indung, yang diadaptasi oleh BBN dari versi Sanggar Pagun Taka, Kalimantan Utara, dan Tari Enggang asal Kalimantan Timur.

Pertunjukan dilanjutkan dengan Sanggar Slaras Budaya membawakan Tari Dadas dari Dayak Maโ€™anyan, Kalimantan Tengah. Setelahnya, masih dari sanggar tersebut, terdengar permainan alat musik tradisional Sape Beruaan, yang mengiringi tari Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Paduan Suara BBN, Bakul Swara, yang dipimpin oleh Iskandar Zulkarnain Matondang, turut mengisi pementasan. Nyanyian mereka mengiring masuk ke sesi ketiga atau sesi perayaan HUT ke-4 BBN.

Mereka membawakan “Lilin-lilin Kecil” karya James F. Sundah dan “Karena Cinta” ciptaan Glenn Fredly.

Pada lagu “Lilin-lilin Kecil”, lampu panggung perlahan meredup. Ketika chorus kembali dinyanyikan, “Dan kau lilin-lilin kecil, sanggupkahโ€ฆ,”

Dewi Fajar Marhaeni, Ketua Umum BBN, dan Siwi Budi Purwanti, Bendahara BBN, beriringan naik ke panggung.

Masing-masing membawa sebatang lilin yang telah menyala. Sejenak, cahaya lilin menjadi satu-satunya penerang di panggung.

Momen tersebut menjadi bagian dari perayaan perjalanan BBN, sekaligus simbol harapan agar semangat pemajuan kebudayaan terus menyala.

Usai “Karena Cinta”, rekaman musik instrumental sape untuk medley beberapa lagu bertema ulang tahun mulai terdengar.

Pada tahun-tahun terdahulu, sebagai ungkapan rasa syukur dan kebersamaan, mengeruk nasi tumpeng menjadi bagian dari prosesi perayaan HUT BBN. Namun, kali ini, sesuai tema budaya Kalimantan, nasi tumpeng diganti dengan nasi Astakona khas Banjar, Kalimantan Selatan.

Nasi dan lauk-pauk yang mewakili unsur kehidupan di tanah, air, dan udara, itu dimasak oleh sejumlah anggota BBN.

Dewi Fajar Marhaeni kemudian mengajak para anggota Pengurus BBN naik ke panggung.

Dekan FIB UI sekaligus Pengawas BBN, Untung Yuwono, bersama Heri Lestari, anggota BBN berusia paling senior, dan Tanisha, anggota termuda senior BBN, masing-masing menerima sepiring nasi Astakona dari Dewi.

Dewi menyampaikan harapannya agar BBN konsisten memajukan kebudayaan nasional dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal serta melestarikan budaya Nusantara.

“Karena Cinta” rupanya bukan penutup penampilan Bakul Swara. Selepas prosesi HUT ke-4 BBN, mereka mendendangkan lagu “Manari Manasai” ciptaan Wolten Rudji dari Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah.

Lagu tersebut kemudian dilanjutkan dengan flashmob tari Manasai bersama mereka yang hadir.

Merawat Kebudayaan di Tengah Karhutla Kalimantan

BBN menyadari bahwa perayaan tahun ini berlangsung di tengah kedukaan Kalimantan. Meski tidak secara fisik, Kalimantan terasa begitu dekat dengan Bakul Budaya Nusantara.

Selama satu tahun berjalan, Bakul Budaya Nusantara berkenalan dan berproses lebih dekat dengan berbagai tradisi dari tanah tersebut.

Dari perjalanan itu, BBN melihat bahwa banyak pengetahuan dan kebiasaan masyarakat tumbuh dari kedekatan dengan hutan, sungai, dan alam di sekitarnya.

Tenun, tari, musik, kuliner, hingga tradisi tutur tidak berdiri sendiri. Semuanya lahir dari ruang hidup yang diwariskan dan dirawat dari generasi ke generasi.

Hutan, bagi masyarakat di Kalimantan, bukan sekadar latar tempat budaya berlangsung, melainkan bagian dari budaya itu sendiri.

Ketika hutan dan ruang hidup terancam oleh karhutla, yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian alam, melainkan juga kehidupan masyarakat serta pengetahuan yang tumbuh bersamanya.

Di tengah kehidupan urban Jabodetabek, perayaan HUT ke4 BBN dan HTN 2026 menjadi ruang untuk mendekatkan budaya Kalimantan kepada masyarakat.

Perjumpaan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa mengenal budaya berarti memahami hubungan masyarakat dengan tanah yang membentuk kehidupan mereka. (***)

Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan



Yogi Kurniawan, dari Suporter Jadi CEO Klub




Kolom