RUZKA INDONESIA — Jaga kelestarian alam tidak cukup hanya dengan memahami pentingnya lingkungan, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata.
Pesan tersebut menjadi salah satu poin utama dalam kegiatan Edukasi Kelestarian Alam Lingkungan Hidup yang disampaikan narasumber dari Founder sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Nurhabli Ridwan, dalam rangkaian peringatan World Habitat Day di pos 2 kawasan Gunung Sibayak, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (12/09/2026).
Mengusung materi dengan tema โLingkungan Bersih, Bumi Sehat dan Masa Depan Hebatโ, Nurhabli mengajak sekitar 100 pelajar dan peserta kegiatan untuk melihat persoalan lingkungan bukan hanya sebagai tanggung jawab pemerintah, dunia usaha, maupun komunitas, tetapi sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Nurhabli Ridwan merupakan Kader Konservasi Alam (KKA) binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Wisudawan Terbaik Pendidikan Green Leadership Indonesia Batch 1 Tahun 2021 Institut Hijau Indonesia, serta peraih Juara 1 Wana Lestari Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026 Kategori Kader Konservasi Alam.
โMenjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan mengetahui bahwa lingkungan itu penting. Kita harus mengambil peran dan membuktikannya melalui tindakan. Mulai dari bagaimana kita mengelola sampah, menjaga kebersihan, menanam dan merawat pohon, sampai ikut terlibat dalam kegiatan konservasi,โ ujar Nurhabli Ridwan pada penyampaian materi edukasi.
Posisi Penting
Menurut Nurhabli, generasi muda memiliki posisi penting dalam menentukan keberlanjutan lingkungan di masa depan. Karena itu, edukasi lingkungan perlu diberikan tidak hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di alam.
โKetika pelajar datang langsung ke kawasan Gunung Sibayak, membersihkan sampah, belajar tentang habitat, kemudian menanam pohon, mereka tidak hanya menerima teori. Mereka mengalami sendiri bagaimana menjaga lingkungan dan melihat bahwa setiap tindakan kecil memiliki dampak,โ jelasnya.
Dalam edukasinya, Nurhabli juga mengajak peserta memahami bahwa persoalan sampah harus ditangani mulai dari sumbernya.
Masyarakat perlu membangun kebiasaan memilah, mengurangi, menggunakan kembali, dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah ecobrick, yaitu pemanfaatan sampah plastik yang sulit didaur ulang dengan cara memasukkannya secara padat ke dalam botol plastik sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif material untuk berbagai kebutuhan.
โSampah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang. Dengan pengetahuan dan pengelolaan yang tepat, sebagian sampah masih dapat dimanfaatkan bahkan memiliki nilai ekonomi. Inilah cara pandang yang perlu dibangun sejak dini,โ ungkap Nurhabli.
Bank Sampah
Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antara bank sampah dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha, sehingga sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dikelola secara lebih produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
โKetika sampah dipilah dan dikelola dengan benar, kita tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Karena itu, bank sampah perlu diperkuat melalui kolaborasi agar masyarakat mendapatkan manfaat dari sampah yang mereka kelola,โ jelasnya.
Selain pengelolaan sampah, edukasi juga menyoroti pentingnya keberadaan pohon bagi keberlangsungan ekosistem.
Nurhabli menjelaskan bahwa pohon memiliki peran dalam menyerap karbon dioksida, menjaga kualitas tanah dan air, membantu mengurangi erosi, serta menjadi bagian penting dari habitat berbagai flora dan fauna.
โMenanam pohon bukan hanya tentang menanam hari ini, tetapi tentang menyiapkan kehidupan yang lebih baik untuk masa depan. Ketika kita menjaga pohon dan habitatnya, kita juga sedang menjaga keseimbangan ekosistem dan kehidupan manusia,โ paparnya.
Menariknya, sesi edukasi berlangsung di tengah hujan. Kondisi tersebut tidak menyurutkan antusiasme peserta yang tetap mengikuti kegiatan dengan menggunakan jas hujan yang telah disediakan panitia.
Bagi Nurhabli, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari pembelajaran lingkungan.
โKonservasi adalah proses belajar yang membutuhkan konsistensi. Hujan dan berbagai kondisi di lapangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti peduli. Justru dari pengalaman seperti inilah kita belajar bahwa menjaga alam membutuhkan komitmen,โ tuturnya.
Kepedulian Terhadap Lingkungan
Sebelumnya pada pembukaan kegiatan, Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil I Medan, Yohanis Wulang, mengatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan membutuhkan keterlibatan bersama, terutama dari generasi muda.
โKegiatan ini menjadi momentum untuk menumbuhkan kepedulian bersama terhadap lingkungan, khususnya di kawasan Gunung Sibayak. Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi merupakan tugas kita bersama. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?,โ katanya Yohanis.
Menurut Yohanis, kegiatan pelestarian lingkungan merupakan bagian dari komitmen yang terus dijalankan Pegadaian secara berkelanjutan.
โKegiatan seperti ini terus kita jalankan. Hampir setiap tahun kami melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Kami ingin komitmen sosial dan lingkungan Pegadaian tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi terus memberikan manfaat dan dampak positif bagi lingkungan,โ terangnya.
Ia menambahkan, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan di kawasan pegunungan, tetapi juga berpotensi dikembangkan di wilayah lain.
โKe depan, kegiatan serupa juga dapat dikembangkan di wilayah lain, termasuk kawasan pesisir melalui penanaman mangrove. Harapannya, kolaborasi seperti ini dapat terus diperluas untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,โ tambah Yohanis.
Green Sibayak
Kegiatan Green Sibayak juga sejalan dengan komitmen Pegadaian dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 15: Life on Land atau Ekosistem Daratan.
Melalui aksi pembersihan sampah dan penanaman pohon, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga, memulihkan, dan melestarikan ekosistem daratan.
Keterlibatan pelajar dan komunitas lingkungan juga menjadi langkah strategis untuk membangun kesadaran serta kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Aksi bersih lingkungan menjadi salah satu rangkaian utama kegiatan. Para peserta bersama-sama membersihkan sampah yang ditemukan di sepanjang jalur puncak hingga pos 1 Gunung Sibayak.
Dari aksi tersebut berhasil dikumpulkan sebanyak 108 kilogram sampah yang kemudian dikemas ke dalam 12 kantong sampah (trash bag).
Setelah aksi bersih lingkungan dan edukasi, peserta kemudian melakukan aksi penanaman 300 batang pohon, terdiri atas jenis pinus dan pucuk merah, di kawasan Gunung Sibayak dari sekitar Pos 2 hingga Pos 1.
Aksi penanaman tersebut menjadi bentuk nyata dari edukasi konservasi yang diberikan sekaligus simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Apresiasi
Perwakilan panitia kegiatan sekaligus bagian dari Tim Vertical Rescue Indonesia Regional Sumatera Utara, Teguh Persada, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan World Habitat Day di Gunung Sibayak.
โKami mengucapkan terima kasih kepada Pegadaian Kanwil I Medan atas dukungan penuh pada kegiatan ini, serta seluruh tim panitia, narasumber, dan peserta yang telah bersama-sama menyukseskan kegiatan ini. Kolaborasi dan semangat yang ditunjukkan seluruh pihak menjadi bagian penting dalam aksi peduli lingkungan ini,โ jelas Teguh Persada.
Teguh menilai keterlibatan pelajar, Pramuka, Vertical Rescue Indonesia Regional Sumatera Utara, dan GRAS merupakan langkah positif dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kawasan alam dan habitat.
โKami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Apa yang dilakukan hari ini dapat menjadi pengalaman yang kemudian dibawa pulang oleh para pelajar dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,โ tambahnya.
Sekitar 100 peserta terlibat dalam kegiatan ini, terdiri atas pelajar SMA Negeri 1 Berastagi, SMK Negeri 1 Kabanjahe, dan SMK Immanuel Kabanjahe.
Kegiatan juga diikuti jajaran insan Pegadaian serta mitra kegiatan, yakni Vertical Rescue Indonesia Regional Sumatera Utara, Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), dan Pramuka Kwarcab Karo.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil I Medan Yohanis Wulang, Tim Departemen Business Support Kanwil I Medan, Pemimpin Cabang Pegadaian Kabanjahe Suryadi Mandala, narasumber edukasi kelestarian lingkungan Nurhabli Ridwan, serta perwakilan panitia kegiatan dari Vertical Rescue Indonesia Regional Sumatera Utara Teguh Persada.
Kumpulkan Sampah
Kegiatan World Habitat Day di Gunung Sibayak diharapkan tidak hanya memberikan dampak langsung melalui pengumpulan 108 kilogram sampah dan penanaman 300 batang pohon, tetapi juga membangun kesadaran jangka panjang di kalangan generasi muda untuk menjadi bagian dari gerakan konservasi lingkungan.
Melalui kolaborasi antara dunia usaha, komunitas lingkungan, organisasi masyarakat, Pramuka, dan generasi muda, upaya menjaga kelestarian alam diharapkan dapat terus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Green Sibayak bukan sekadar aksi bersih dan tanam pohon, tetapi menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga habitat adalah tanggung jawab bersama demi menciptakan lingkungan yang sehat dan masa depan yang berkelanjutan. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar