RUZKA INDONESIA — Universitas Indonesia (UI) melalui Fakultas Teknik (FTUI) sukses menelurkan inovasi biomaterial berbasis sumber daya laut Indonesia.
Lewat riset doktoralnya, Nurhayati berhasil mengembangkan hidrogel penutup luka berbasis cellulose nanofiber (CNF) dari rumput laut Sargassum, yang berpotensi menjadi kandidat material penutup luka kronis.
Temuan ini dipaparkan Nurhayati dalam disertasinya yang berjudul “Fabrikasi Penguat Hidrogel Terbarukan Berbasis Selulosa Nanofiber Sargassum sebagai Kandidat Penutup Luka”.
Rumput laut Sargassum, yang selama ini belum banyak dimanfaatkan, diolah menjadi CNF berdiameter ratarata 9,50 nanometer.
Material CNF ini kemudian diformulasikan bersama polivinil alkohol (PVA), natrium alginat, dan kitosan melalui metode freezethaw.
Hasilnya, hidrogel multikomponen dengan komposisi optimal (5% PVA, 2% natrium alginat, 1% kitosan, dan 0,25% CNF) menunjukkan kinerja unggul dibandingkan material komersial, dengan rasio kemampuan menyerap cairan (swelling ratio) 156,97%, kandungan gel (gel content) 95,81%, kuat tarik 0,48 MPa, elongasi 371,43%, serta laju degradasi 8,39% dalam tiga hari.
Selain aspek fisik dan mekanik, penelitian ini juga mengevaluasi aspek biologis hidrogel.
Uji Sitotoksisitas
Uji sitotoksisitas menunjukkan viabilitas sel di atas 70% sesuai standar ISO 109935, sementara uji scratch assay memperlihatkan penutupan celah luka sebesar 63,73% dalam 24 jam, lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Temuan ini menegaskan potensi CNF Sargassum sebagai penguat hidrogel untuk aplikasi klinis, khususnya pada luka kronis seperti ulkus kaki diabetik.
Penelitian yang dikembangkan ini turut membuka peluang pengembangan Sargassum sebagai bahan baku biomaterial terbarukan.
Pengolahan biomassa laut lokal menjadi CNF dan selanjutnya menjadi material hidrogel menunjukkan bagaimana sumber daya hayati yang belum optimal pemanfaatannya dapat diolah melalui pendekatan teknologi material untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Nurhayati, yang juga peneliti di Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, berhasil meraih IPK sempurna 4,00 dengan predikat cumlaude. Dalam sidang terbuka promosi doktor di Gedung Dekanat FTUI yang digelar pada Jumat (07/08/2026), selain berhasil mempertahankan disertasinya, dia juga sukses menjadi Doktor ke87 dari Departemen Teknik Metalurgi dan Material serta lulusan doktor ke706 di lingkungan FTUI.
Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D., mengapresiasi capaian ini.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat dikembangkan melalui teknologi menjadi material bernilai tambah dan bermanfaat bagi kesehatan. Kami berharap penelitian ini terus dilanjutkan hingga tahap uji praklinis dan in vivo, sehingga potensinya dapat berkembang menuju aplikasi yang lebih luas,” ungkapnya.
Sidang promosi doktor dipimpin oleh Prof. Ir. Widjojo Adi Prakoso, M.Sc., Ph.D. selaku Ketua Sidang. Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Dr. Ir. Rini Riastuti, M.Sc., bersama Prof. Dr. Ir. Mochamad Chalid, S.Si., M.Sc.Eng. dari FTUI dan Prof. Dr. Ir. Hari Eko Irianto, Dipl. Tech. dari BRIN sebagai kopromotor.
Dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Yudan Whulanza, S.T., M.Sc., Azizah Intan Pangesty, S.Si., M.Eng., D.Eng., Dr. Kurnia Sari Setio Putri, M.Farm., Apt. dari Fakultas Farmasi UI, serta Dr. Darmawan Darwis, M.Sc., Apt. dari BRIN.
Keberhasilan penelitian ini tidak hanya menambah khazanah akademik FTUI, tetapi juga memperkuat posisi UI sebagai institusi yang mewadahi riset doktoral berorientasi solusi.
Dengan menghubungkan kekayaan hayati lokal dan inovasi teknologi material, UI menegaskan kontribusinya dalam membangun ekosistem riset yang berdampak luas bagi masyarakat, industri, dan bangsa. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar