Lingkungan
Beranda ยป Berita ยป Bakul Budaya Nusantara Gandeng Rosita Istiawan dan Harley Yodhaloka dalam Sedekah Hutan 2026

Bakul Budaya Nusantara Gandeng Rosita Istiawan dan Harley Yodhaloka dalam Sedekah Hutan 2026

Sedekah Hutan Bakul Budaya Nusantara. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — “Hutan Bukan Mainan!” Inilah tema perhelatan Sedekah Hutan Bakul Budaya Nusantara 2026. Digelar pada Jumat-Sabtu, 7-8 Agustus 2026

Sedekah Hutan yang diselenggarakan oleh Bakul Budaya Nusantara (BBN) untuk keempatkalinya ini membawa peserta untuk melihat hutan bukan sebagai bentangan alam, melainkan ruang hidup bagi berbagai makhluk di bumi yang mempunyai peran vital bagi kehidupan.

Dilatarbelakangi kondisi bahwa Indonesia merupakan negara kedua di dunia sesudah Brasil yang kehilangan paling banyak hutan hujan tropis dan dalam 30 tahun belakangan lebih dari 50% hutan mangrove Indonesia hilang, menyusut dari 5-10 juta ha menjadi 3,3-4 juta ha.

Bakul Budaya Nusantara, melalui Sedekah Hutan 2026, mengajak berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga pemangku kebijakan, untuk memberikan perhatian lebih terhadap kondisi tersebut.

Hutan, apa pun jenisnya, dari hutan hujan tropis hingga hutan mangrove atau bakau, tidak dapat diperlakukan semena-mena. Pengalihfungsian hutan menjadi pertambangan maupun perkebunan tidak dapat terus dilakukan tanpa perhitungan yang matang dan semata karena mengejar faktor ekonomi.

Penemuan Indikasi Radioaktif, Pemkot Depok Tinjau Bekas TPS Liar Limo

Yang mendesak dilakukan adalah bagaimana keseimbangan ekosistem menjadi bagian yang sangat penting dalam upaya yang dilakukan secara berkesinambungan untuk keberlangsungan bumi di masa depan.

Oleh karena itu, bicara tentang masa depan, dalam rangka memperingati Hari Hutan Indonesia yang jatuh setiap tanggal 7 Agustus sekaligus menjalankan salah satu misi BBN, yaitu โ€œmerawat bumi,โ€ melalui Sedekah Hutan kali ini, BBN mengajak kaum muda untuk menumbuhkan, memelihara, dan menularkan kesadaran serta kebiasaan ramah lingkungan, juga tentang bagaimana memperlakukan hutan sebagai komponen penting dalam keseimbangan alam.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, BBN berkolaborsi dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dalam penyelenggaraan Sedekah Hutan 2026.

Sementara ILUNI UI FIB, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, BPDAS Citarum-Ciliwung, Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan, dan Santika Indonesia Resorts & Hotels hadir mendukung kegiatan tersebut.

Menyusuri Hutan yang Tumbuh dari Kepedulian

Hari pertama Sedekah Hutan 2026, 7 Agustus, BBN membawa peserta dari FIB UI menuju Hutan Organik Megamendung. Di sana, mereka berkesempatan mengenal lebih dekat kawasan hutan yang selama ini dibangun dan dirawat oleh Rosita Istiawan (64).

Tolak Hibrida, Koalisi Minta Produsen Wajib Fokus ke BEV dan Ekosistem Pengisian Daya

Tak hanya melihat hutan yang kini tumbuh rimbun, peserta juga diajak menggali pengalaman dari sebuah perjalanan panjang seorang Rosita Istiawan dengan berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari tanah yang tandus pada tahun 2003, ancaman dari calo tanah, hingga sikap masyarakat sekitar yang belum sepenuhnya mendukung upayanya.

Lebih dari 25 tahun kemudian, keteguhan Rosita dalam merawat kawasan tersebut perlahan menunjukkan hasil. Hutan yang dirintis dengan berbagai keterbatasan, kini tumbuh menjadi ruang hidup bagi beragam makhluk.

Salah satu rangkaian kegiatan yang ditawarkan pada Jumat pagi itu adalah penanaman bibit pohon kopi yang dilakukan oleh 28 peserta. Berpindah dari tangan ke tanah, ditanam satu per satu di antara pepohonan yang lebih dulu tumbuh dan menjadi kanopi yang rimbun menaunginya.

Pemandangan tersebut mempertemukan dua waktu sekaligus: pohon-pohon yang telah lama tumbuh dan bibit-bibit pohon yang baru memulai perjalanan.

Perjalanan Hutan Organik Megamendung pun menjadi cerita yang dibawa pulang peserta.

Pasang Umbul-umbul HUT RI, PLN Ingatkan Warga Waspada Jaringan Listrik

Tidak hanya tentang pepohonan yang tumbuh rimbun, tapi juga proses panjang yang menyertainya.

Hutan bukan sesuatu yang ada begitu saja. Ia tumbuh bersama waktu dan kepedulian manusia yang memilih terus merawatnya.

Dari Penanaman Jati Merah hingga Pertunjukan Seni

Pagi di FIB UI terasa lebih semarak pada rangkaian kegiatan hari kedua Sedekah Hutan Bakul Budaya Nusantara 2026. Peserta, dari pelajar, mahasiswa, anggota komunitas, hingga pejabat setempat, datang mengenakan busana bernuansa Nusantara dan memenuhi Pelataran FIB UI. Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” tiga stanza dinyanyikan hikmat membuka acara, diikuti “Mars Bakul Budaya Nusantara.โ€

Rouli Esther, S.S., M.Si., M.A., Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan), dan Lily Tjahjandari, S.S., M.Hum., Ph.D., CertDA (Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum,) hadir sebagai perwakilan dari Dekanat FIB UI. Hadir pula, antara lain, Agus Yasin, S.Hut., M.Sc., Kepala Bagian Pelayanan dan Penyajian Informasi Publik Kementerian Kehutanan, dan Agung Sugih Arti, S.Pd., M.M., Staf Ahli Wali Kota Depok.

Sebagai tuan rumah penyelenggara, Ketua Umum Bakul Budaya Nusantara, Dewi Fajar Marhaeni, menyampaikan sambutan.

Sedekah Hutan BBN 2026 merupakan upaya berkelanjutan dari misi โ€œMerawat Bumiโ€ Bakul Budaya yang menurut kami penting ditunjukkan dengan tindakan nyata dan kerkesinambungan serta menjadi kegiatan yang sarat akan literasi dan edukasi, baik bagi warga BBN maupun masnyarakat secara luas.

“Sudah beberapa tahun ini BBN mengajak kaum muda untuk turun langsung dalam beberapa kegiatan seperti kirab budaya, prosesi Sedekah hutan (menanam pohon, melepasliarkan burung, dan menebarkan ikan) sebagai simbolisasi dari upaya kita yang concern dengan keseimbangan ekosistem yang ada di bumi, Bincang-bincang tentang hutan, dan pertunjukan seni yang terkait di dalamnya,” jelasnya.

“Karena bumi adalah tempat tinggal kita satu-satunya, kita wajib menjaga, merawat dan melestarikannya. Dari seorang Rosita Istiawan (64) dan seorang Harley Fatahillah Yodhaloka (14), kita belajar banyak tentang bagaimana sebuah niat kuat dan kesadaran dapat dilakukan oleh siapa saja untuk menyelamatkan bumi, khususnya hutan yang mempunyai peran vital dalam kehidupan manusia,” tambah Dewi.

Sementara itu, Rouli Esther, mewakili Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, S.S., dalam sambutannya mengatakan pentingnya kegiatan Sedekah Hutan ini diadakan terus-menerus sebagai bentuk kepedulian kita akan konservasi alam dan perlu dilakukan secara berkesinambungan.

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, sehari sebelumnya, menyelenggarakan adopsi pohon Jati Merah yang diikuti oleh civitas akademika UI, hasil kerja sama dengan Yayasan Jati Nusa Lestari dari Bali.

Mewakili Wali Kota Depok, Supian Suri, Agung Sugih Harti menyampaikan bahwa konsep yang ditawarkan dalam kegiatan Sedekah Hutan sangat mulia karena di dalamnya ada kegiatan sedekah yang artinya memberi.

Sedekah untuk hutan menjadi amal jariah yang terus mengalir. Sementara itu, tema โ€œHutan bukan Mainan!โ€ mengingatkan kita agar tidak semena-mena terhadap hutan.

Tari Radap Rahayu dari Kalimantan Selatan pun mengantarkan ratusan peserta yang hadir memulai Kirab Budaya, dari Pelataran FIB UI menuju area di sekitar Danau Mahoni, diiringi tetabuhan alat musik terbang dan keprak dari Kalimantan.

Tarian dan alat-alat musik dari Kalimantan ini sengaja dihadirkan karena sepanjang tahun 2026, BBN mengangkat Budaya Kalimantan.

Di sekitar Danau Mahoni, didahului dengan prosesi adat Bali, kegiatan dimulai dengan penanaman bibit-bibit pohon Jati Merah dalam rangka adopsi pohon Jati Merah atas kerjasama Jati Nusa Lestari, Bali, yang dipimpin oleh Novi Dwi Wijayanti, dengan FIB UI.

Ketua Umum Bakul Budaya Nusantara, Dewi Fajar Marhaeni, pihak FIB UI yang diwakili oleh Rouli Esther, dan ILUNI UI FIB yang diwakili Lily Tjahjandari, mendapat kesempatan menanam tiga bibit pohon Jati Merah pertama, sebelum penanaman bibit-bibit pohon Jati Merah lainnya di FIB UI secara terpisah.

Dari area tanam, rombongan kemudian bergerak menuju tepian Danau Mahoni. Perwakilan peserta turut ambil bagian dalam pelepasan ikan ke danau dan burung ke sekitar danau.

Jika penanaman memberi ruang bagi pohon untuk tumbuh, pelepasan burung dan ikan ini menjadi bagian lain dari upaya memberi ruang bagi kehidupan untuk kembali bergerak di habitatnya.

Rangkaian prosesi Sedekah Hutan tersebut menjadi pengingat, merawat alam tidak hanya berarti menanam pohon dan meninggalkannya, tapi juga merawatnya. Di samping itu, ada kehidupan lain yang juga membutuhkan ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Hutan, dan alam secara lebih luas, merupakan ekosistem yang saling terhubung. Ketika satu bagian dijaga, kehidupan lain di dalamnya turut memiliki kesempatan untuk bertahan.

Pesan tentang hutan kemudian diteruskan melalui pentas seni di Auditorium Soe Hok Gie, Gedung Sapardi Djoko Damono (Gedung 9).

“Tangisan Hutan,โ€ sebuah monolog yang dipersembahkan oleh Yuwana BBN, membawa suara hutan ke tengah peserta. Lewat seni, kerusakan alam tak hanya dibingkai sebagai persoalan manusia, tapi juga keadaan yang turut menyentuh kehidupan berbagai makhluk di dalamnya. Hutan adalah ruang hidup, tempat pohon, bebatuan, tanah, dan berbagai flora hadir dengan keberadaan dan suaranya sendiri.

Yang Belia, yang Bergiat

Rangkaian acara dilanjutkan dengan bincang-bincang “Sedekah Hutan Bakul Budaya Nusantara 2026: Hutan Bukan Mainan!” bersama Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto dari Surabaya, Jawa Timur, dengan moderator jurnalis sekaligus kreator konten Rere Kumampung.

Harley, yang baru berusia 14 tahun dan didampingi oleh ayahnya, Hari Rojin Sunoto, adalah pendiri dan pegiat Mangrove Warrior dari Surabaya, Jawa Timur.

Sebagai pegiat lingkungan, dalam hal ini pelestari hutan mangrove atau bakau di Jawa Timur, Harley berbicara tentang bagaimana kesadaran akan keseimbangan alam dapat tumbuh dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Menurut Harley, yang secara berkelanjutan membibit, menanam, dan memelihara mangrove, untuk menjaga alam, generasi muda harus terlebih dahulu mengenal dan merasa dekat dengan alam.

Kedekatan dengan alam, termasuk yang diperkenalkan sejak dari rumah oleh orangtua, menjadi bagian penting dalam menumbuhkan rasa peduli terhadap keberlanjutan Bumi.

Pandangan tersebut juga tercermin dalam dua proyek yang diinisiasinya, EcoGeniuz Pillow dan Mangrove Warrior. Keduanya menjadi bagian dari upaya Harley mengajak generasi muda membangun kedekatan dengan alam sekaligus mengambil peran nyata dalam menjaganya.

Menutup Gelaran sambil Menenun Harapan

Di penghujung rangkaian kegiatan di Auditorium Soe Hok Gie, Bakul Swara, paduan suara Bakul Budaya Nusantara, mempersembahkan “Burung Camar” ciptaan Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdurachman.

Suasana kemudian beralih ketika “Heal the World” karya Michael Jackson mengalun. Peserta diajak berdiri lalu bernyanyi, menjadikan lagu tersebut ungkapan harapan yang diucapkan bersama-sama untuk dunia yang lebih baik sekaligus keinginan mewujudkannya.

Seperti ingin menyimpan momen itu lebih lama, tak sedikit peserta turut mengabadikannya lewat ponsel di tengah nyanyian bersama.

Harapan yang dinyanyikan bersama di penghujung kegiatan tersebut menjadi penutup yang menguatkan pesan Sedekah Hutan Bakul Budaya Nusantara 2026 tentang bagaimana manusia menempatkan dirinya di tengah alam dan kehidupan yang mengitarinya.

Melalui perhelatan ini, Bakul Budaya Nusantara mempertemukan berbagai khalayak dalam ruang yang memperlihatkan, budaya dan alam tumbuh dari satu ruang kehidupan yang sama.

Berbagai tradisi menyimpan rekam jejak tentang cara manusia membaca alam, mengambil secukupnya, merawat, dan hidup berdampingan dengannya.

Ketika alam kehilangan keseimbangan, yang dipertaruhkan bukan hanya keberlangsungan berbagai kehidupan di dalamnya, tapi juga pengetahuan dan kebudayaan yang lahir dari hubungan tersebut.

Merawat alam, pada akhirnya, juga berarti merawat budaya yang mengajarkan manusia untuk hidup bersamanya. (***)

Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

05

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

06

Galeri Indonesia Kaya, Gelar Konser Kidung Natal Indonesia, Semangat Inklusivitas Berjalan Beriringan dalam Harmoni Musik Keroncong

07

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center

Sorotan






Kolom