RUZKA INDONESIA — Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya merombak cara informasi diproduksi, tetapi juga memicu krisis kepercayaan publik akibat masifnya gelombang disinformasi.
Melalui pakar ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI) menegaskan bahwa peningkatan literasi digital masyarakat semata tidak lagi memadai untuk mengatasi kompleksitas ancaman informasi sintetis di era AI.
Pandangan strategis tersebut disampaikan oleh Dr. Hendriyani, Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FISIP UI, saat menjadi narasumber dalam konferensi internasional The 5th IABC Indonesia Conference & Awards 2026 yang mengusung tema “Driving Communications Impact: Building Trust in the Age of AI” di Jakarta pada Jumat (18/09/2026).
Berbicara dalam panel 1 bertajuk “Managing Trust in the Age of AI”, Dr. Hendriyani menyoroti bahwa kebiasaan masyarakat dalam memilah informasi sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis dan emosional, bukan sekadar tingkat pendidikan.
Dia menjelaskan bahwa penyebaran informasi palsu tidak semata-mata disebabkan oleh rendahnya literasi digital, melainkan juga dipicu oleh faktor psikologis internal individu.
“Confirmation bias membuat seseorang cenderung membaca dan mempercayai informasi yang sesuai dengan apa yang ingin dipercayainya. Selain itu, ada kerentanan emosional, motivasi sosial, dan bahkan altruism atau keinginan untuk membantu orang lain,” ujar Hendriyani.
Narasi yang Menyentuh Emosional
Menurutnya, narasi yang menyentuh emosional memiliki daya sebar jauh lebih kuat, terutama saat AI mampu memproduksi konten palsu secara masif yang sulit dibedakan dari karya manusia.
Lebih lanjut, dia menyoroti bahwa pemberian pengetahuan yang lebih banyak tidak secara otomatis menjadikan seseorang lebih kritis terhadap informasi.
Fenomena tersebut erat kaitannya dengan emotional tracking, ketika masyarakat urban berpendidikan tinggi sekalipun tetap dapat memercayai informasi dari pihak non-otoritatif karena merasa memiliki kedekatan pengalaman.
“Orang bisa lebih percaya karena merasa, ‘Saya mengalami hal yang sama.’ Jadi, bukan semata-mata soal siapa yang memiliki otoritas keilmuan, tetapi bagaimana seseorang terhubung secara emosional dengan informasi tersebut,” jelas Hendriyani.
Selain itu, Dr. Hendriyani menggarisbawahi pentingnya mempertahankan otentisitas dan sentuhan manusia (human touch) dalam komunikasi publik yang bersifat resmi.
Penggunaan AI pada ranah formal tanpa transparansi terbukti dapat memicu resistensi publik.
Kepercayaan Publik
Oleh karena itu, membangun kembali kepercayaan publik di era AI membutuhkan tanggung jawab kolektif yang melibatkan seluruh lapisan sosial mulai dari masyarakat, korporasi, penyedia platform teknologi, dan pemerintah.
Kehadiran pemikiran kritis dari akademisi UI dalam forum bereputasi internasional ini semakin mengukuhkan reputasi UI sebagai wadah kepemimpinan pemikiran (thought leadership) di tingkat nasional maupun kawasan.
Sebagai flagship university, UI tidak hanya adaptif terhadap kemajuan teknologi, tetapi juga konsisten memberikan arah dan navigasi intelektual dalam merumuskan strategi komunikasi publik yang beretika di tengah pesatnya transformasi era kecerdasan buatan. (***)
Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Email: rusdynurdiansyah69@gmail.com



Komentar