Peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan dapat memanfaatkan Program Manfaat Layanan Tambahan (MLT) berupa KPR, pinjaman uang muka (DP), hingga Pinjaman Renovasi Perumahan (PRP) melalui bank penyalur MLT. Berbeda dari pameran properti pada umumnya, BPJS Ketenagakerjaan Depok melengkapi layanan itu dengan talkshow edukasi agar peserta tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga pengetahuan merencanakan renovasi rumah secara matang.
RUZKA INDONESIA โ Niat awal hanya ingin mengecat dinding rumah. Namun ketika pekerjaan dimulai, lantai ikut dibongkar, kanopi ditambahkan, pagar diperbarui, hingga daftar belanja material terus bertambah. Tanpa disadari, anggaran renovasi yang semula diperkirakan puluhan juta rupiah membengkak hampir dua kali lipat.
Fenomena seperti itu ternyata bukan cerita yang asing. Banyak pemilik rumah terjebak pada perubahan rencana di tengah proses renovasi sehingga biaya yang dikeluarkan jauh melampaui kemampuan keuangan keluarga.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Building Cost Analyst, Sulhan Syah Muhaidi Lingga, saat menjadi pembicara dalam talkshow โRenovasi Rumah Hemat dan Berkualitasโ pada J-Expo 2026 yang digelar BPJS Ketenagakerjaan Depok di Pesona Square Depok, Sabtu (1/8/2026).
Di hadapan pengunjung, Sulhan mengingatkan bahwa penyebab terbesar membengkaknya biaya renovasi bukan semata-mata kenaikan harga material bangunan, melainkan tidak adanya perencanaan yang matang sejak awal.
โYang tadinya niatnya hanya ganti cat, lama-kelamaan lantainya ikut diganti, kemudian muncul keinginan membuat kanopi. Tahu-tahu biayanya membengkak dua kali lipat. Karena itu, perencanaan menjadi sangat penting,โ ujar Sulhan.
Talkshow tersebut merupakan salah satu agenda J-Expo 2026, pameran properti terbesar di Kota Depok yang diselenggarakan BPJS Ketenagakerjaan Depok pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026 di Pesona Square Depok.
Berbeda dengan pameran properti pada umumnya yang hanya menawarkan produk hunian dan pembiayaan, kegiatan ini juga menghadirkan edukasi praktis agar masyarakat mampu merencanakan renovasi rumah secara lebih bijak sebelum memanfaatkan fasilitas pembiayaan.
Sejumlah pengembang yang turut meramaikan pameran di antaranya The Pine Indonesia, Coco Garden, Sentul Pratama, The Taruma Heritage, Vilas Cikeas, The Basatin, Synergy Residence, Ragajaya Homeland, Banjarsari Homeland, Valencia Premiere Depok, TOD Mahata Margonda, Ciomas Hills, Grand Harmoni Indah, Harvest City, Green Village Residence, New Melati Hills, Bella Casa Residence, Greenland Bogor, Anandaya Home Resort, Bukit Cibeteung Asri, Apartment Marrakech, Arrayan Village 2 dan 5, Podomoro Golf View, hingga H City Sawangan.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Depok, Novarina Azli, mengatakan penyelenggaraan talkshow tersebut merupakan bagian dari upaya BPJS Ketenagakerjaan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi peserta program manfaat layanan tambahan (MLT).
Menurutnya, kepemilikan rumah yang layak tidak hanya bergantung pada tersedianya akses pembiayaan, tetapi juga kemampuan masyarakat menyusun perencanaan renovasi yang baik agar dana yang dikeluarkan benar-benar efektif.
โKami ingin masyarakat mengetahui bahwa BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya memberikan perlindungan melalui program jaminan sosial ketenagakerjaan, tetapi juga menghadirkan program MLT yang benar-benar bisa membantu meningkatkan kesejahteraan pekerja. Salah satunya melalui fasilitas pembiayaan perumahan dengan bunga tetap 8,75 persen yang dapat dimanfaatkan peserta sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Novarina.
Menurut Novarina, masih banyak masyarakat yang ingin memperbaiki rumah, tetapi belum memiliki gambaran mengenai besarnya biaya yang harus dipersiapkan. Akibatnya, rencana renovasi sering kali tertunda atau bahkan dibatalkan karena kekhawatiran anggaran akan membengkak.
Karena itulah BPJS Ketenagakerjaan menghadirkan layanan konsultasi estimasi biaya renovasi rumah secara gratis bersama tenaga profesional. Melalui layanan tersebut, masyarakat memperoleh gambaran mengenai kebutuhan biaya sejak awal sehingga dapat menentukan langkah yang paling tepat, termasuk memilih skema pembiayaan yang sesuai.

Dalam paparannya, Sulhan menjelaskan bahwa kekeliruan paling mendasar ketika seseorang memulai renovasi rumah adalah langsung mengerjakan proyek tanpa terlebih dahulu menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Menurut Sulhan, RAB bukan sekadar daftar harga material, melainkan peta kebutuhan renovasi yang membantu pemilik rumah menghitung seluruh biaya sejak awal, mulai dari material, upah pekerja, hingga total anggaran yang harus disiapkan.
โPenyebab utama pembengkakan biaya renovasi salah satunya karena tidak memiliki RAB. Di dalam RAB seluruh kebutuhan material dan biayanya dihitung sejak awal sehingga kita mengetahui berapa dana yang harus disiapkan,โ katanya.
Ia menambahkan, banyak orang beranggapan bahwa pembengkakan biaya renovasi terjadi karena harga material bangunan terus meningkat. Padahal, berdasarkan pengalamannya menangani berbagai proyek, pemborosan justru lebih sering muncul akibat perubahan pekerjaan di tengah proses pembangunan, kesalahan pembelian material, maupun pekerjaan yang harus dibongkar dan diulang.
Materi yang disampaikan Sulhan sejalan dengan prinsip yang ia tekankan dalam presentasinya, yakni bahwa renovasi rumah bukan sekadar mempercantik bangunan, melainkan meningkatkan fungsi rumah sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya keluarga.
Karena itu, setiap keputusan renovasi perlu diawali dengan tujuan yang jelas, survei kondisi bangunan, penyusunan skala prioritas, desain sederhana, RAB yang terukur, serta jadwal pekerjaan yang realistis.
Selain pentingnya RAB, Sulhan juga mengingatkan agar masyarakat mampu membedakan kebutuhan yang benar-benar mendesak dengan keinginan yang hanya bersifat estetis.
“Sering kali yang terjadi justru salah menentukan prioritas. Misalnya atap rumah bocor, tetapi yang didahulukan malah membangun pagar. Itu bukan kebutuhan yang paling mendesak,” jelasnya.
Menurutnya, kesalahan menentukan prioritas akan membuat anggaran terkuras pada pekerjaan yang sebenarnya bisa ditunda, sementara kerusakan utama justru dibiarkan sehingga berpotensi menimbulkan biaya yang lebih besar di kemudian hari.
Dalam materi presentasinya, Sulhan juga menunjukkan sejumlah sumber pemborosan yang kerap terjadi saat renovasi rumah. Di antaranya pekerjaan yang harus dibongkar ulang karena tukang tidak memahami keinginan pemilik rumah, pembelian material dengan ukuran yang keliru, kerusakan bahan bangunan akibat penyimpanan yang tidak tepat, hingga perubahan desain ketika pekerjaan konstruksi sudah berjalan. Seluruh kondisi tersebut dapat dihindari apabila pemilik rumah memiliki perencanaan yang matang sejak awal.
Bagi Sulhan, renovasi yang baik bukan diukur dari besarnya anggaran yang dikeluarkan, melainkan kemampuan memanfaatkan dana secara efisien sehingga menghasilkan rumah yang aman, nyaman, dan memiliki nilai jangka panjang.
Pesan tersebut juga menjadi salah satu alasan BPJS Ketenagakerjaan menghadirkan edukasi renovasi rumah dalam J-Expo 2026. Sebab, menurut Novarina, manfaat Program MLT akan jauh lebih optimal apabila peserta telah memiliki pemahaman mengenai kebutuhan renovasi rumah sebelum mengajukan pembiayaan.
Program MLT sendiri memberikan berbagai fasilitas pembiayaan bagi peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan Depok, mulai dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR), pinjaman uang muka perumahan, hingga Pinjaman Renovasi Perumahan (PRP) melalui bank-bank penyalur MLT seperti Bank BTN, Bank BJB, dan Bank Syariah Indonesia (BSI) yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Depok.

Selama penyelenggaraan J-Expo, pengunjung juga dapat berkonsultasi langsung mengenai persyaratan, simulasi kredit, hingga proses pengajuan pembiayaan.
Lebih lanjut, Novarina mengatakan edukasi semacam ini merupakan bentuk nyata bahwa BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya berperan sebagai penyelenggara program jaminan sosial ketenagakerjaan, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas hidup peserta melalui akses terhadap hunian yang layak.
Ia berharap masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperoleh informasi langsung dari para ahli sehingga keputusan renovasi maupun pembelian rumah tidak dilakukan berdasarkan perkiraan semata.
“Kami berharap masyarakat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Konsultasi ini diberikan tanpa dipungut biaya sehingga pengunjung dapat berdiskusi langsung dengan ahlinya mengenai kebutuhan renovasi rumah masing-masing. Harapannya, masyarakat memperoleh informasi yang akurat sehingga dapat menyusun rencana renovasi secara lebih matang dan terukur,” ujar Novarina.
Selain menghadirkan konsultasi estimasi biaya renovasi rumah, J-Expo 2026 juga diikuti puluhan pengembang perumahan dari Depok, Bogor, Cibinong, Cileungsi, Sawangan, Cinere hingga Jonggol. Pengunjung dapat membandingkan berbagai pilihan hunian sekaligus memperoleh penjelasan langsung dari Bank BTN, Bank BJB, Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Bank BNI mengenai fasilitas pembiayaan yang tersedia bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan.
Bagi Novarina, seluruh rangkaian kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya pulang dengan membawa brosur atau informasi mengenai rumah, tetapi juga memperoleh bekal pengetahuan yang dapat membantu mereka mengambil keputusan keuangan secara lebih tepat.
“Kami ingin masyarakat Kota Depok dan sekitarnya untuk datang ke J-Expo 2026 bersama keluarga. Di stan BPJS Ketenagakerjaan Depok, manfaatkan konsultasi gratis estimasi biaya renovasi rumah, pelajari berbagai fasilitas pembiayaan yang tersedia, dan temukan pilihan hunian yang sesuai dengan kebutuhan. Kami ingin setiap pengunjung pulang dengan membawa solusi, bukan hanya informasi,” tuturnya.
Melalui J-Expo 2026, BPJS Ketenagakerjaan Depok menunjukkan bahwa perlindungan bagi pekerja tidak berhenti pada pemberian jaminan sosial. Edukasi mengenai perencanaan renovasi rumah dipadukan dengan akses pembiayaan melalui Program MLT menjadi upaya agar peserta mampu mewujudkan hunian yang lebih aman, nyaman, dan layak tanpa terjebak pembengkakan biaya akibat minimnya perencanaan. (***)
Jurnalis/Editor: Djoni Satria


Komentar