Galeri
Beranda ยป Berita ยป Oleh-Oleh dari Peluncuran Dua Antologi Cerpen Karya Nanang Ribut Supriyatin dan Yon Bayu Wahono

Oleh-Oleh dari Peluncuran Dua Antologi Cerpen Karya Nanang Ribut Supriyatin dan Yon Bayu Wahono

TIM menjadi tempat para seniman (penulis, penyair, pemain teater, pelukis ) berkumpul dan bertukar cerita tentang sastra seni juga beragam hal kehidupan lainnya. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi tempat para seniman (penulis, penyair, pemain teater, pelukis ) berkumpul dan bertukar cerita tentang sastra seni juga beragam hal kehidupan lainnya.

Para seniman dan sastrawan senang berada di sana, mereka bisa berkumpul bersama para penggiat seni lainnya dari seluruh Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi).

Kebersamaan tanpa sekat membuat mereka bagai berada di satu kesatuan visi yang terkadang dianggap aneh oleh mereka yang melihat idealisme seniman juga sastrawan itu agak ‘gila’ karena tetap setia berjuang di ranah sastra juga seni yang tak jarang minim pemasukkan khususnya dari segi cuan/piti/money/ duit atau finansial.

Kemarin Selasa 9 Juni 2026 usai menghadiri peluncuran dua antologi cerpen karya Nanang Ribut Supriyatin dan Yon Bayu Wahono di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ( TIM), kami Jenny Mahastuti (pelukis), Guntoro Sulung II (sutradara film), Arief Joko Wicaksono (mantan jurnalis, penyair dan penulis cerpen).

Lalu, ada Pudwianto Arisanto (penulis), Dyah Kencono Puspito Dewi (penyair), Imam Qalyubi dosen juga penyair, Kemalsyah Kemal (pemerhati seni dan sastra) serta beberapa teman penulis esai, kritikus sastra, usai acara peluncuran buku antologi.

Swara SeadaNya Bawakan Fragmen Garuda Pancasila dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila Bersama Urban Spiritual Indonesia

Mereka berkumpul di Kantin Sederhana yang masih berada di lingkungan TIM.

Acara kumpul-kumpul ini menjadi rutinitas yang menyenangkan sebab kami bisa bercerita tanpa beban tentang segala hal, termasuk tema kumpulan cerpen yang mengaitkan dengan istilah eksistensialisme Jawa yang dijelaskan oleh Yon Bayu di dalam cerpen-cerpennya dan tentang kisah perjalanan penulis cerpen dari masa ke masa oleh Nanang Supriyatin.

Penjelasan ke arah tematik yang bernada sedikit serius tentang perjalanan dunia cerpen di Indonesia memperoleh perhatian cukup serius dari para peserta, ada dialog interaktif antara nara sumber dan peserta yang rata-rata penulis juga penyair, dosen seperti Dr. Imam Qalyubi, ia datang khusus dari Palangkaraya, Kalimantan untuk hadir di peluncuran antologi cerpen tersebut. Pada kegiatan itu hadir pula Dr. Riri Satria dosen komputer dan sains dari Universitas Indonesia sekaligus ketua dari grup Jagad Sastra Milenia.

Dari seluruh rangkaian acara, yang lebih menukik adalah tentang perjalan para peserta di dunia sastra dan seni serta pertanyaan sampai kapan mereka bisa ‘ngerumpi’ di TIM karena rata-rata usia peserta sudah berada di angka 60 tahun ke atas.

Obrolan tentang ranah sastra berubah topik menjadi keberadaan keseharian para penggiat sastra dan seni yang berkaitan erat dengan pemasukkan keuangan, bagaimana mereka bisa menata kehidupan karena hampir sebagian dari mereka tak punya pensiun.

Omplok Layar, Pesona Wisata Masjid Pantai Bali

Keresahan Tentang Masa Tua

Juga tentang ‘job’ di dunia sastra dan seni yang mulai ‘seret’ akibat situasi politik dan ekonomi saat ini, serta bagaimana mereka bisa mencari nafkah dan bertahan hidup, dan bagaimana mereka menghadapi sakit penyakit manula yang mereka derita seperti diabetes dan jantung, ditambah tentang masa tua yang mungkin saja kelak akan mendiami rumah jompo.

Kemudian pertemuan itu menjalar pula ke harapan bila kelak jika mereka si penggiat seni dan sastra mulai tak berdaya dan kesepian di ruang sunyi rumah atau kontrakan masing-masing serta situasi seniman yang tak punya istri atau anak, hidup menyendiri dalam keadaan tak berdaya akibat sakit-penyakit dan jika tiada nanti atau pergi dari bumi baiknya dalam keadaan tidur dan tidak menderita sakit penyakit yang parah.

Keresahan tentang masa tua dan kesunyian serta tak bisa berkarya lagi dibarengi tak punya penghasilan tetap, menjadi obrolan yang penuh renungan. Ditambah lagi problema tentang nasib penulis sastra juga seniman lainnya menjadi perenungan yang dalam dari penulis sastra serta kehidupan seniman di negeri ini.

Kisah itu bagai cerita fiksi di dalam sebuah cerpen namun pada kenyataannya mengejawantah menjadi sebuah kenyataan hidup para penggiat literasi dan seni bahwa mereka banyak yang berjalan dan berjuang sendiri. Contohnya seperti membuat novel sendiri, membiayai cetak novelnya sendiri dan menjualnya sendiri tanpa bantuan sang kapital.

Dari hasil hadir di acara peluncuran dua antologi cerpen itu, kebahagiaan sekejap mereka yang masih bertahan di ranah idealisme seni dan sastra adalah datang ke TIM.

KULDESAK Gelar Malam Renungan AIDS Nusantara 2026 Kolaborasi Peringatan Hari Sastra Buruh Indonesia

Bertemu dengan para seniman yang sefrekuensi, bagai menemukan dunia yang sama dan setara untuk mereka.

Sebab bila berada di kehidupan sosial yang umum, berbicara dengan visi yang berbeda dan terkadang ucap serta pemikiran yang kerap dianggap aneh, bertemu dengan para teman yang sehobi di TIM menjadi tempat ternyaman dengan segala paham juga pemikiran yang sama, meski tak jarang di dalamnya ada friksi dan beda pendapat.

Dari dunia sastra dan seni lainnya yang berjalan bersama usia merambat tua serta di atas rata-rata, saya jadi teringat ucapan filsuf Prancis Albert Camus yang erat dengan paham absurditas kehidupannya, berkata bahwa ‘hidup adalah untuk menunggu kematian’. (***)

Penulis: Fanny J. Poyk

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

07

Sekolah dan Upaya Membumikan Gapura Pancawaluya di SMAN 1 Cikijing

Sorotan






Kolom