Kolom
Beranda » Berita » Pengamat Media dan Komunikasi Publik: Soal Homeless Media, Pemerintah Gagal Paham

Pengamat Media dan Komunikasi Publik: Soal Homeless Media, Pemerintah Gagal Paham

Pengamat media dan komunikasi publik, Yons Achmad. (Foto: Dok RUZKA INDONESIA)

RUZKA INDONESIA — Kebijakan pemerintah menggandeng “homeless media” atau media sosial (medsos) tanpa situs web resmi sebagai mitra komunikasi publik menuai kritik.

Langkah Badan Komunikasi (Bakom) RI itu justru menunjukkan ketidakpahaman pemerintah terhadap fungsi utama pers dan kerja jurnalistik profesional.

Pengamat media dan komunikasi publik, Yons Achmad, menilai pemerintah seharusnya memperkuat media resmi yang terdaftar di Dewan Pers.

Tentu, bukan justru memberi ruang lebih besar kepada akun-akun medsos yang tidak menjalankan kerja jurnalistik secara utuh.

“Alih-alih menggandeng homeless media, harusnya pemerintah memperkuat media-media resmi yang terdaftar di Dewan Pers. Kenapa? Karena media tersebut jelas melakukan kerja-kerja jurnalistik, bukan sekadar corong informasi untuk kepentingan tertentu,” ujar Yons dalam keterangan resminya (08/05/2026).

Kolaborasi Bakom dan Homeless Media: Preseden Buruk yang Menampar Wajah Jurnalisme Indonesia

Aktivis yang juga Direktur Brandstory Indonesia itu menegaskan bahwa jurnalisme memiliki tanggung jawab yang lebih luas dibanding sekadar menyebarkan informasi.

“Jurnalisme selalu mengabdi kepada kepentingan publik yang lebih luas. Harusnya hal ini yang diperkuat,” katanya.

Fenomena Pemerintah

Menurut Yons, fenomena pemerintah menggandeng homeless media kini menjadi isu hangat para jurnalis profesional.

Kebijakan tersebut memberi kesan bahwa wartawan profesional dan media arus utama tidak lagi penting dalam ekosistem komunikasi publik pemerintah.

“Fenomena ini justru menampakkan bahwa wartawan profesional tidak dianggap oleh pemerintah,” ujarnya.

Membangun Peradaban Emas dengan Pendidikan Islam

Meski demikian, Yons melihat situasi ini juga memunculkan sisi positif. Kondisi tersebut dapat membangkitkan kembali semangat para jurnalis profesional.

Jurnalis yang tetap mempertahankan prinsip-prinsip jurnalistik saat maraknya buzzer dan akun medsos yang bekerja demi kepentingan tertentu.

“Ini menjadi semangat bagi wartawan profesional yang masih memegang erat prinsip-prinsip jurnalisme agar tidak kalah terhadap buzzer yang hanya mengabdi kepada kepentingan tertentu, bukan kepada kepentingan publik luas,” tegasnya.

Lebih jauh, Yons menilai fenomena homeless media juga menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi yang memiliki program studi Ilmu Komunikasi.

Menurutnya, perkembangan ekosistem media digital saat ini membuka ruang kerja baru, industri media dan public relations konvensional.

Catatan Cak AT: Politik Mesias Digital

Ia menilai lulusan komunikasi ke depan tidak hanya menggarah menjadi jurnalis atau praktisi humas, tetapi juga memiliki peluang dalam kerja-kerja pemantauan media dan medsos.

“Entitas ini sangat perlu untuk mewujudkan media dan medsos yang lebih berakal sehat, kritis, dan bisa menjadi ruang publik serta ruang diskusi wacana untuk melahirkan tatanan maupun kebijakan yang lebih baik,” pungkasnya. (***)

Jurnalis/Editor: Rusdy Nurdiansyah
Editor: rusdynurdiansyah69@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Ekonomi Jakarta Moncer, Disokong Stabilnya Inflasi dan Terjaganya Aktivitas Perdagangan

Sorotan






Kolom