RUZKA INDONESIA โ Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk berpikir kritis dalam memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI).
Ajakan itu disampaikan di depan 240 peraih beasiswa Tanoto Foundation dalam ajang Tanoto Scholars Gathering di Riau Kompleks, PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau, Kamis (23/7/2026).
Stella mengungkapkan, saat ini hampir semua persoalan langsung diserahkan ke mesin AI. Padahal di balik kemudahannya, ada dampak besar yang perlu diwaspadai.
“Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, akurat atau tidak, bagus atau tidak, kalian tidak akan tergantikan,” ujar Stella.
Stella mengilustrasikan dengan fenomena “Dutch Tulip Bubble” abad 17 dan “Dotcom Bubble” di awal 2000-an. Menurutnya, ketergantungan manusia pada satu hal yang dianggap solusi tunggal kerap berulang dan berakhir pecah.
“Pertanyaannya, bagaimana kita tahu bahwa kita saat ini sedang berada di dalam bubble? AI ini bubble juga atau bukan?” katanya.
AI “Menyedot” Energi Setara 1 Negara
Lebih lanjut, Stella menyoroti “harga tersembunyi” penggunaan AI. Berdasarkan riset, penggunaan AI menyedot energi sangat besar.
“Mungkin 1 persen-1,3 persen dan akan naik sampai 4,5 persen dari pemakaian energi di dunia. Tahun lalu pemakaian energi oleh AI itu sama dengan pemakaian energi selama satu tahun dari negara Latvia,” ungkapnya.
Proyeksi ke depan, penggunaan energi AI tahun 2030 diprediksi melampaui konsumsi energi tahunan negara-negara Eropa.
Selain itu, penggunaan air di salah satu pusat data AI setara dengan air minum untuk 1,2 juta manusia. Listriknya setara penggunaan 50 rumah sakit besar atau 325 universitas di AS.
“Padahal AI belum bisa menyembuhkan kanker, belum bisa membangun perusahaan yang masuk Fortune 500,” tegasnya.
3 Strategi Perguruan Tinggi Hadapi AI
Di hadapan Tanoto Scholar, Stella mendorong perguruan tinggi meningkatkan 3 kemampuan agar tidak tergeser AI:
- Menciptakan Pengetahuan: Membagi tugas antara manusia dan AI dalam menciptakan inovasi.
- Mentrasmisikan Pengetahuan: Mengevaluasi ulang bagaimana pengetahuan disebarluaskan di era semua orang bisa akses AI.
- Mengkurasi Pengetahuan: Kemampuan memilah dan memberi makna dari banjir informasi.
“Jika seseorang dengan pendidikan tinggi tidak bisa menjawab pengetahuan apa yang harus diciptakan, ditransmisikan, dan bagaimana mengkurasinya, pendidikan tinggi tidak akan berkelanjutan di era AI,” paparnya.
Stella juga berpesan agar mahasiswa memanfaatkan AI secara bijak. Riset menunjukkan ketergantungan pada AI justru membuat kemampuan membuat pekerjaan menjadi lebih buruk karena proses berpikir tidak terbentuk.
Dalam kesempatan yang sama, Tanoto Foundation membuka pendaftaran TELADAN Cohort 2027. Program ini merupakan beasiswa + pelatihan kepemimpinan 3,5 tahun bagi mahasiswa S1 di perguruan tinggi mitra.
Pendaftaran dibuka 1 Juli โ 7 September 2026. Info lengkap: bit.ly/JadiTELADAN2027 atau Instagram @tanotoeducation. ***
Editor: Yoyok BP
Email: yoyokbp@gmail.com


Komentar